Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah Siapkan Agen Perubahan Lingkungan untuk Kader Muda Lintas Iman

Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah Siapkan Agen Perubahan Lingkungan untuk Kader Muda Lintas Iman
Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah Siapkan Agen Perubahan Lingkungan untuk Kader Muda Lintas Iman

123Berita – 02 Mei 2026 | Jakarta, 1 Mei 2024 – Muhammadiyah kembali menegaskan komitmennya dalam mengatasi krisis lingkungan dan memelihara semangat kebhinnekaan melalui peluncuran program terbaru, Akademi Eco Bhinneka. Inisiatif ini dirancang khusus untuk mencetak agen perubahan yang berasal dari generasi muda lintas iman, sekaligus menyiapkan kader yang mampu menjadi ujung tombak aksi pelestarian bumi di Indonesia.

Program Akademi Eco Bhinneka merupakan hasil kolaborasi antara lembaga pendidikan Muhammadiyah, Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Lingkungan Hidup (LPPH), serta jaringan organisasi keagamaan dan sosial di seluruh nusantara. Fokus utama program ini adalah pemberdayaan pemuda usia 18-30 tahun melalui kurikulum terpadu yang menggabungkan ilmu pengetahuan lingkungan, nilai-nilai kebhinekaan, serta keterampilan kepemimpinan.

Bacaan Lainnya

Selama tiga bulan, peserta akan menjalani serangkaian modul yang meliputi pengenalan perubahan iklim, teknik mitigasi dan adaptasi, manajemen sampah, energi terbarukan, serta strategi kampanye lingkungan berbasis komunitas. Setiap modul dilengkapi dengan lokakarya praktik di lapangan, studi kasus nyata, dan sesi mentoring oleh pakar lingkungan serta tokoh agama yang dikenal aktif dalam isu-isu keberlanjutan.

Direktur Pusat Pengembangan Pendidikan Lingkungan Muhammadiyah, Dr. H. Ahmad Fauzi, M.Sc., menekankan pentingnya pendekatan lintas iman dalam upaya pelestarian alam. “Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, melainkan panggilan untuk bersatu dalam mengatasi tantangan bersama. Dengan melibatkan kader muda dari berbagai latar belakang agama, kita memperkuat solidaritas dan menciptakan solusi yang lebih inklusif,” ujar Fauzi dalam sambutan resmi peluncuran program.

Para peserta, yang berasal dari 12 provinsi termasuk Jawa Barat, Aceh, dan Papua, dipilih melalui proses seleksi ketat yang menilai motivasi, pengetahuan dasar tentang lingkungan, serta komitmen mereka terhadap nilai-nilai kebhinnekaan. Salah satu peserta, Siti Nurhaliza, mahasiswa Biologi asal Yogyakarta, menyatakan, “Saya ikut karena ingin menggabungkan kecintaan saya pada ilmu lingkungan dengan semangat persaudaraan antar umat beragama. Akademi ini memberi saya platform untuk belajar dan bertindak konkret.”

Program ini juga menekankan pentingnya aksi nyata di tingkat lokal. Setiap kelompok peserta diwajibkan merancang proyek komunitas yang dapat diimplementasikan di wilayah masing-masing. Contoh proyek yang telah direncanakan meliputi pembuatan kompos organik di sekolah, penanaman pohon bakau di pesisir, serta kampanye pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di pasar tradisional.

Selain itu, Akademi Eco Bhinneka memberikan sertifikasi resmi kepada para lulusan, yang dapat menjadi nilai tambah dalam dunia kerja, terutama pada sektor yang kini semakin menuntut kompetensi keberlanjutan. Sertifikat tersebut diakui oleh sejumlah perusahaan multinasional, lembaga pemerintahan, serta organisasi non‑profit yang bergerak di bidang lingkungan hidup.

Sejumlah tokoh agama juga memberikan dukungan moral. Ustaz Abdul Rahman, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) wilayah Jawa Tengah, menyatakan, “Menjaga bumi adalah amanah yang tidak terbatas pada satu agama. Program seperti ini menjadi contoh konkret bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat bersinergi dengan ilmu pengetahuan untuk kebaikan bersama.”

Dalam rangka memantau dampak program, Muhammadiyah membentuk tim evaluasi yang akan mengukur indikator keberhasilan seperti jumlah proyek yang terimplementasi, pengurangan emisi karbon di daerah target, serta peningkatan kesadaran lingkungan di kalangan peserta dan masyarakat luas. Laporan hasil evaluasi akan dipublikasikan secara tahunan untuk memastikan transparansi dan perbaikan berkelanjutan.

Akademi Eco Binhnek juga menyiapkan jaringan alumni yang akan menjadi forum diskusi dan kolaborasi lintas provinsi. Melalui platform digital khusus, para alumni dapat berbagi pengalaman, sumber daya, serta mengkoordinasikan aksi-aksi lingkungan berskala lebih besar di masa depan.

Dengan latar belakang Indonesia sebagai negara kepulauan yang rentan terhadap perubahan iklim, inisiatif ini diharapkan menjadi contoh bagi organisasi keagamaan lain dalam mengintegrasikan nilai kebhinekaan dengan agenda hijau. Sebagaimana yang diungkapkan dalam pernyataan resmi Muhammadiyah, “Bumi adalah rumah bersama, dan setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.”

Ke depan, Akademi Eco Bhinneka berencana memperluas jangkauannya ke lebih dari 30 provinsi, menambah modul tentang ekonomi sirkular, serta meningkatkan kolaborasi dengan lembaga internasional yang bergerak di bidang mitigasi perubahan iklim. Dengan semangat kebersamaan dan tekad kuat para kader muda, diharapkan program ini dapat menjadi katalisator perubahan positif yang signifikan bagi masa depan Indonesia yang lebih hijau dan berkeadilan.

Secara keseluruhan, peluncuran Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah menandai langkah strategis dalam menggabungkan nilai-nilai kebhinnekaan dengan aksi konkret untuk menyelamatkan bumi. Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada dukungan institusional, tetapi juga pada semangat kolaboratif para generasi muda lintas iman yang siap menjadi agen perubahan.

Pos terkait