164 Ton Sampah May Day Menumpuk Usai Demo di Monas, DLH Jakarta Angkut Bersih Lingkungan

164 Ton Sampah May Day Menumpuk Usai Demo di Monas, DLH Jakarta Angkut Bersih Lingkungan
164 Ton Sampah May Day Menumpuk Usai Demo di Monas, DLH Jakarta Angkut Bersih Lingkungan

123Berita – 02 Mei 2026 | Setelah aksi peringatan Hari Buruh (May Day) yang digelar di sekitar Monumen Nasional (Monas) pada 1 Mei 2024, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta melaporkan penumpukan sampah mencapai 164 ton. Sampah tersebut berasal dari limbah organik, kemasan plastik, poster, serta material dekoratif yang dibuang secara sembarangan selama kegiatan demonstrasi dan hiburan warga.

Tim kebersihan DLH segera melakukan penanganan intensif sejak malam hari. Menggunakan truk pengangkut berkapasitas besar serta tenaga kerja tambahan, mereka berhasil mengangkut seluruh tonase dalam tiga hari kerja. Proses pemindahan sampah dilakukan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, sekaligus dipilah untuk didaur ulang sesuai dengan program pengelolaan sampah kota.

Bacaan Lainnya

Beberapa faktor yang menyebabkan volume sampah melimpah antara lain:

  • Jumlah peserta demonstrasi yang diperkirakan mencapai 50.000 orang.
  • Penggunaan material promosi dan poster berukuran besar yang tidak diatur pengembaliannya.
  • Kurangnya fasilitas tempat sampah temporer di area Monas selama acara berlangsung.

DLH bersama Dinas Perhubungan dan Satpol PP menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk acara serupa ke depan:

  1. Pemasangan titik pengumpulan sampah sementara yang mudah diakses di seluruh zona acara.
  2. Penerapan program “Zero Waste” dengan mengedukasi peserta melalui poster dan media sosial sebelum acara.
  3. Kerjasama dengan lembaga daur ulang untuk menyalurkan material plastik dan kertas secara langsung.
  4. Peningkatan patroli kebersihan selama dan setelah acara untuk mencegah penumpukan.

Respons masyarakat terhadap kebersihan area Monas pasca demo beragam. Sebagian mengapresiasi cepatnya tindakan DLH, sementara yang lain menilai masih ada celah dalam penyuluhan tentang pentingnya kebersihan lingkungan. Aktivis lingkungan, Rina Widyanti, menekankan perlunya kebijakan yang lebih tegas: “Tidak cukup hanya mengangkut sampah setelah terjadi. Pemerintah harus menyiapkan infrastruktur yang memadai dan mengedukasi warga sebelum acara,” ujarnya.

Data resmi menunjukkan bahwa dari total 164 ton sampah, sekitar 45% berhasil dipilah menjadi material yang dapat didaur ulang, sementara sisanya berupa sampah organik yang diproses menjadi kompos di fasilitas pengolahan kota. Upaya daur ulang ini diharapkan dapat mengurangi beban TPA dan mendukung target pengurangan sampah kota sebesar 30% pada akhir tahun 2025.

Selain tantangan operasional, dampak lingkungan jangka pendek juga menjadi sorotan. Sampah plastik yang terurai lama dapat mencemari tanah dan air tanah di sekitar Monas. Oleh karena itu, DLH berkoordinasi dengan Badan Pengendalian Pencemaran Lingkungan (BAPEL) untuk melakukan pemantauan kualitas udara dan air tanah selama seminggu setelah penanganan selesai.

Dalam rangka meningkatkan kesadaran publik, DLH merencanakan kampanye “Bersih Monas” yang akan diluncurkan pada bulan Agustus 2024, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan. Kampanye ini akan melibatkan relawan, sekolah, serta komunitas pecinta lingkungan untuk bersama-sama menjaga kebersihan area simbolis ibu kota.

Secara keseluruhan, penanganan 164 ton sampah May Day di Monas menunjukkan kesiapan aparat dalam menghadapi tantangan kebersihan pada event massal. Namun, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada sinergi antara pemerintah, penyelenggara acara, dan masyarakat untuk menerapkan prinsip pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Pos terkait