Tender Proyek Waste-to-Energy Tahap 2 Danantara Dibuka, Target 25 Kota di Seluruh Indonesia

123Berita – 09 April 2026 | Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi mengumumkan pembukaan tender untuk proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (Waste-to-Energy/WtE) pada fase kedua. Tender ini dirancang untuk melibatkan 25 kota di seluruh wilayah Indonesia, menandai langkah strategis pemerintah dalam mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan penyediaan energi terbarukan.

Proyek WtE tahap 2 ini merupakan lanjutan dari inisiatif serupa yang telah dijalankan pada fase pertama, di mana beberapa kota besar berhasil mengoperasikan fasilitas konversi sampah menjadi listrik. Keberhasilan tersebut menjadi landasan kuat bagi Danantara untuk memperluas jangkauan program, dengan target mencakup kota-kota menengah hingga besar yang memiliki volume sampah tinggi dan kebutuhan listrik yang terus meningkat.

Bacaan Lainnya

Berikut ini beberapa poin kunci yang menjadi fokus utama dalam tender fase dua:

  • Skala Proyek: Setiap instalasi diharapkan memiliki kapasitas konversi antara 5 hingga 15 megawatt, tergantung pada volume sampah harian kota masing-masing.
  • Teknologi: Penyedia harus mengusulkan teknologi pembakaran termal atau gasifikasi yang telah terbukti efisien dalam menurunkan emisi CO₂ dan partikel berbahaya.
  • Model Pembiayaan: Danantara membuka opsi pembiayaan berbasis Public-Private Partnership (PPP), dengan skema BOT (Build‑Operate‑Transfer) atau BTO (Build‑Transfer‑Operate).
  • Keberlanjutan: Proyek harus mencakup program edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah serta rencana pemeliharaan jangka panjang.

Target utama dari tender ini adalah menciptakan sinergi antara pengelolaan sampah, energi bersih, dan pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan mengonversi sampah menjadi listrik, kota‑kota yang terpilih dapat mengurangi biaya operasional TPA, memperbaiki kualitas lingkungan, serta memperoleh pendapatan tambahan dari penjualan listrik ke jaringan nasional.

Selain manfaat lingkungan, proyek ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru, khususnya di sektor teknik, operasi, dan pemeliharaan fasilitas WtE. Analisis awal Danantara memperkirakan bahwa setiap instalasi dapat menyerap antara 150 hingga 300 tenaga kerja langsung, serta menciptakan ribuan peluang kerja tidak langsung di sektor logistik, konstruksi, dan layanan pendukung.

Berikut contoh perkiraan dampak ekonomi yang dapat dihasilkan oleh satu fasilitas WtE dengan kapasitas 10 MW:

Indikator Perkiraan
Energi listrik yang dihasilkan per tahun ≈ 85.000 MWh
Pengurangan volume sampah ke TPA ≈ 70.000 ton
Emisi CO₂ yang dihindari ≈ 45.000 ton
Pendapatan tahunan dari penjualan listrik ≈ USD 6,5 juta

Proses seleksi akan menilai kandidat berdasarkan kemampuan teknis, pengalaman dalam proyek serupa, serta komitmen terhadap standar lingkungan yang ketat. Danantara menegaskan bahwa setiap penawaran harus mencakup rencana mitigasi dampak sosial dan lingkungan, termasuk program pelatihan bagi tenaga kerja lokal.

Beberapa kota yang diperkirakan masuk dalam daftar prioritas meliputi Surabaya, Bandung, Semarang, Makassar, dan Medan, meskipun keputusan akhir akan ditetapkan setelah evaluasi kebutuhan spesifik masing‑masing daerah. Kota‑kota dengan tingkat pertumbuhan penduduk tinggi dan tingkat produksi sampah per kapita yang signifikan menjadi kandidat utama.

Pengumuman resmi tender ini juga disertai dengan komitmen pemerintah untuk mempercepat proses perizinan dan memberikan insentif fiskal bagi investor yang berhasil memenangkan kontrak. Insentif tersebut mencakup pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) pada peralatan utama serta pengurangan tarif listrik bagi fasilitas yang beroperasi selama periode tertentu.

Para pengamat ekonomi menilai bahwa proyek WtE fase dua dapat menjadi katalisator bagi transformasi energi terbarukan di Indonesia. “Jika dijalankan dengan transparan dan melibatkan stakeholder lokal secara aktif, inisiatif ini tidak hanya mengatasi masalah sampah, tetapi juga memperkuat kemandirian energi nasional,” ujar seorang analis energi dari lembaga riset independen.

Secara keseluruhan, tender ini menandai langkah maju dalam agenda hijau pemerintah, sejalan dengan target pengurangan emisi karbon Nasional 2030. Keberhasilan implementasi di 25 kota akan menjadi tolok ukur penting bagi rencana ekspansi lebih luas pada fase tiga, yang diproyeksikan mencakup lebih dari 50 kota di masa depan.

Dengan membuka kesempatan bagi pelaku industri domestik maupun asing, Danantara berharap dapat menarik investasi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Pemerintah menegaskan kesiapan untuk memberikan dukungan regulasi yang memadai, sehingga proses tender dapat berjalan lancar dan hasilnya dapat diimplementasikan secepat mungkin.

Kesimpulannya, tender proyek Waste-to-Energy tahap 2 Danantara menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia semakin serius mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan solusi energi bersih. Dengan target 25 kota, program ini tidak hanya menjanjikan manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi berbagai pemangku kepentingan. Keberhasilan fase ini akan menjadi fondasi penting bagi agenda energi terbarukan yang lebih ambisius di tahun‑tahun mendatang.

Pos terkait