Tim Wartek Kemendikbud Tegaskan Chromebook Tak Dipakai Guru untuk Pekerjaan, Soroti Kendala di Daerah Tertinggal

Tim Wartek Kemendikbud Tegaskan Chromebook Tak Dipakai Guru untuk Pekerjaan, Soroti Kendala di Daerah Tertinggal
Tim Wartek Kemendikbud Tegaskan Chromebook Tak Dipakai Guru untuk Pekerjaan, Soroti Kendala di Daerah Tertinggal

123Berita – 07 April 2026 | Tim Penelitian dan Pengembangan Teknologi (Wartek) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud) baru-baru ini mengungkap fakta bahwa perangkat Chromebook tidak digunakan oleh para guru dalam menjalankan tugas mengajar maupun administrasi. Pernyataan tersebut muncul dalam rangkaian sidang persidangan yang melibatkan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yang sekaligus menyoroti kurangnya pemahaman tentang kondisi lapangan pendidikan, terutama di wilayah-wilayah tertinggal.

JPU dalam persidangan menuduh saksi yang memberikan keterangan mengenai penggunaan Chromebook tidak memahami realitas kerja guru, khususnya mereka yang berada di daerah terpencil. “Saksi tampak mengabaikan fakta bahwa infrastruktur jaringan internet di banyak daerah masih jauh dari standar yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan Chromebook,” ujar JPU. Kritik tersebut menambah tekanan pada pihak Kemendikbud untuk memberikan penjelasan yang lebih komprehensif mengenai rencana implementasi teknologi ini.

Bacaan Lainnya

Berbagai faktor menjadi penghalang utama adopsi Chromebook di kalangan pendidik:

  • Keterbatasan jaringan internet: Banyak sekolah di daerah terpencil masih mengandalkan koneksi 2G atau bahkan tidak memiliki akses internet sama sekali, sehingga perangkat yang bergantung pada cloud menjadi tidak praktis.
  • Ketersediaan pelatihan: Guru-guru di lapangan belum mendapatkan pelatihan yang memadai untuk mengoperasikan sistem operasi Chrome OS, serta aplikasi edukasi yang berbasis web.
  • Preferensi perangkat lama: Kebiasaan menggunakan laptop berbasis Windows atau perangkat mobile yang sudah familiar membuat transisi ke Chromebook terasa menantang.
  • Masalah kompatibilitas perangkat lunak: Beberapa aplikasi khusus pendidikan yang dikembangkan oleh pihak ketiga belum tersedia atau belum teroptimalkan untuk Chrome OS.

Tim Wartek menegaskan bahwa pemerintah tidak bermaksud memaksa guru untuk beralih ke Chromebook, melainkan menyediakan pilihan teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi kerja. “Kami melihat Chromebook sebagai solusi yang ringan, hemat energi, dan mudah dikelola secara terpusat, namun kami menyadari bahwa keberhasilan adopsi bergantung pada kesiapan infrastruktur dan kemampuan SDM di lapangan,” kata Ketua Tim Wartek, Dr. Andi Prasetyo, dalam pernyataan resmi.

Selain tantangan teknis, terdapat pula isu kebijakan yang memengaruhi percepatan penggunaan Chromebook. Anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan perangkat seringkali terhambat oleh proses birokrasi yang panjang, serta kurangnya koordinasi antara kementerian, dinas pendidikan daerah, dan pihak penyedia layanan internet. Di beberapa provinsi, distribusi perangkat masih dalam tahap pilot project, sehingga belum dapat memberikan gambaran keseluruhan tentang efektivitas penggunaan Chromebook.

Para ahli pendidikan digital menilai bahwa strategi implementasi harus bersifat bertahap dan berorientasi pada kebutuhan khusus tiap daerah. “Sebuah pendekatan satu ukuran untuk semua tidak akan berhasil. Kita perlu menyesuaikan solusi teknologi dengan konteks geografis, sosial, dan ekonomi masing-masing wilayah,” ujar Prof. Rina Suryani, pakar Teknologi Pendidikan Universitas Indonesia.

Reaksi dari komunitas guru pun beragam. Sebagian mengapresiasi adanya perangkat baru yang berpotensi mengurangi beban kerja administratif, sementara yang lain menilai bahwa tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, Chromebook malah menjadi beban tambahan. Seorang guru di Kabupaten Maluku Utara, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengaku, “Jika jaringan internet tidak stabil, saya tidak bisa mengakses materi atau mengirimkan nilai secara online. Jadi, saya tetap mengandalkan laptop yang dapat bekerja offline.”

Menanggapi kritik tersebut, Kemendikbud mengumumkan rencana intensifikasi program pelatihan guru digital, serta kerja sama dengan operator telekomunikasi untuk memperluas jangkauan jaringan internet di daerah tertinggal. Pemerintah juga berjanji akan mempercepat proses distribusi Chromebook melalui mekanisme yang lebih transparan dan terukur.

Kesimpulannya, pengungkapan Tim Wartek mengenai rendahnya penggunaan Chromebook oleh guru menyoroti tantangan struktural dalam upaya digitalisasi pendidikan di Indonesia. Keberhasilan kebijakan teknologi pendidikan tidak hanya bergantung pada penyediaan perangkat, melainkan juga pada kesiapan jaringan, pelatihan sumber daya manusia, serta sinergi antar lembaga pemerintah. Tanpa langkah-langkah komprehensif yang mengatasi faktor-faktor tersebut, harapan untuk menjadikan Chromebook sebagai alat utama dalam proses belajar mengajar masih berada pada tahap aspirasi yang belum terealisasi secara luas.

Pos terkait