123Berita – 06 April 2026 | Rabu pagi, hujan lebat bersamaan dengan hembusan angin kencang menghantam Desa Galis, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, menyebabkan tenda yang dipakai untuk acara pernikahan tiba-tiba roboh. Kejadian yang terjadi pada Senin (6/4/2026) itu menimbulkan kepanikan massal di antara tamu undangan serta warga sekitar yang harus berlarian mencari tempat berlindung.
Ketika tenda mulai terangkat dan berderak, panik pun melanda. Beberapa orang berusaha berlari keluar secara berdesakan, sementara yang lain berusaha melindungi diri dengan menutupi kepala menggunakan payung atau jas hujan. Sejumlah kecil barang pribadi, seperti kamera dan peralatan makan, berserakan di tanah basah. Meskipun kerusakan struktural cukup parah, beruntung tidak ada laporan korban jiwa. Namun, dua orang mengalami luka ringan berupa memar dan keseleo akibat terjatuh, dan mereka segera mendapatkan pertolongan pertama dari tim medis yang berada di lokasi.
Pihak kepolisian setempat serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan langsung dikerahkan ke lokasi. Tim SAR mengevakuasi para tamu yang masih berada di area berbahaya, sementara petugas kepolisian mengamankan jalur evakuasi dan memastikan tidak terjadi kerusuhan. Kepala Desa Galis, H. Ahmad Sulaiman, menyampaikan rasa prihatin mendalam atas insiden tersebut dan menegaskan bahwa prosedur keamanan acara belum sepenuhnya dipatuhi karena cuaca yang berubah drastis tidak terdeteksi pada awal persiapan.
Dalam pernyataannya, Kepala Dinas Penanggulangan Bencana Kabupaten Bangkalan, Dr. Siti Nurhayati, menambahkan bahwa musim penghujan di wilayah ini memang cenderung intensif pada bulan April hingga Juni. “Kami mengimbau semua pihak yang menyelenggarakan kegiatan luar ruangan untuk selalu memantau prakiraan cuaca secara real time dan menyiapkan rencana darurat, termasuk penggunaan tenda yang memiliki standar kekuatan angin minimal 60 km/jam,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi dengan aparat keamanan dan layanan kesehatan setempat guna meminimalisir risiko serupa di masa depan.
Para penyelenggara acara pernikahan, yang merupakan keluarga dekat pengantin, mengakui kelalaian dalam menilai risiko cuaca. “Kami terlalu optimis dan tidak menyiapkan tenda yang kuat serta tidak menunggu peringatan resmi tentang kondisi angin,” kata salah satu anggota keluarga yang tidak disebutkan namanya. Mereka berjanji akan mengganti semua kerugian materiil yang timbul, termasuk biaya sewa tenda baru, perbaikan dekorasi, serta kompensasi bagi tamu yang mengalami cedera ringan.
Kejadian ini menimbulkan perbincangan luas di media sosial, dengan banyak netizen menyoroti perlunya regulasi yang lebih ketat terkait penggunaan tenda pada acara publik, terutama di daerah rawan cuaca ekstrem. Beberapa ahli struktural menambahkan bahwa tenda jenis standar yang biasa dipakai untuk acara pernikahan di daerah pedesaan sering kali tidak memenuhi standar internasional yang mengatur ketahanan terhadap beban angin dan curah hujan tinggi.
Secara keseluruhan, insiden tenda hajatan di Desa Galis menjadi peringatan penting bagi masyarakat dan penyelenggara acara di wilayah Jawa Timur. Mengingat pola cuaca yang semakin tidak menentu, persiapan matang, pemilihan peralatan yang sesuai, serta koordinasi dengan otoritas setempat menjadi kunci utama untuk menghindari tragedi serupa. Warga yang terlibat diharapkan tetap tenang dan mengikuti arahan resmi, sementara pihak berwenang berkomitmen meningkatkan sosialisasi tentang prosedur darurat dan memperkuat regulasi keamanan acara luar ruangan.