123Berita – 04 April 2026 | Jakarta Selatan kembali menjadi sorotan publik setelah Dinas Penataan Ruang Kota memutuskan untuk membuka Taman Barito selama 24 jam. Kebijakan ini diterapkan secara resmi pada awal pekan ini, tepatnya menjelang libur panjang, sehingga memberi kesempatan kepada warga untuk menikmati ruang hijau kota kapan saja, termasuk pada malam hari.
Keputusan membuka taman selama satu hari penuh bukan hanya sekadar menambah jam operasional, melainkan juga menjadi strategi pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) yang semakin penting di tengah kepadatan perkotaan. Selama libur panjang, Taman Barito menyaksikan lonjakan pengunjung yang signifikan, mulai dari keluarga yang menggelar piknik, kelompok remaja yang berolahraga, hingga pekerja kantoran yang mencari tempat bersantai setelah jam kerja.
Selain manfaat rekreasi, pembukaan 24 jam Taman Barito juga berdampak positif pada ekonomi lokal. Pedagang kaki lima yang biasanya beroperasi pada sore hingga malam hari kini menemukan peluang baru. Mereka menjajakan makanan ringan, minuman segar, serta souvenir yang menarik minat wisatawan kota. Peningkatan aktivitas ekonomi ini turut menambah pendapatan bagi pemerintah daerah melalui pajak dan retribusi tempat.
- Jam operasional: 00.00 – 24.00 setiap hari
- Luas area: lebih dari 5 hektar dengan fasilitas jogging track, taman bermain, dan area piknik
- Fasilitas tambahan: penerangan LED, CCTV, dan pos keamanan 24 jam
Keamanan menjadi prioritas utama dalam kebijakan ini. Dinas Penataan Ruang Kota bekerja sama dengan Satpol PP dan petugas keamanan swasta untuk memastikan taman tetap aman bagi semua kalangan. Pos keamanan tersebar di beberapa titik strategis, dilengkapi dengan kamera CCTV yang terhubung ke pusat pengawasan kota.
Warga yang telah mengunjungi taman pada malam pertama menyampaikan rasa puas. “Saya sangat senang taman ini bisa dibuka 24 jam. Anak‑anak bisa bermain hingga malam tanpa khawatir, dan saya juga bisa jogging setelah pulang kerja,” ujar seorang pengguna setia taman, Budi Santoso, 34 tahun. Sementara itu, seorang ibu rumah tangga, Siti Nurhaliza, 42 tahun, menambahkan, “Long weekend ini kami memanfaatkan untuk mengadakan piknik keluarga di taman. Suasana malam yang sejuk dan lampu taman membuat pengalaman kami menjadi lebih istimewa.”
Namun, tidak semua respon bersifat positif. Beberapa pihak mengkhawatirkan potensi peningkatan sampah dan gangguan kebisingan pada malam hari. Untuk menanggapi hal ini, pihak pengelola taman menyiapkan program edukasi lingkungan, termasuk penempatan tempat sampah berjumlah lebih banyak dan pengawasan ketat terhadap kebisingan.
Secara keseluruhan, pembukaan Taman Barito selama 24 jam tampaknya menjadi langkah strategis yang berhasil menarik minat publik, meningkatkan kualitas hidup warga, serta mendukung perekonomian lokal. Jika kebijakan ini terus dijalankan dengan pengawasan yang ketat, diharapkan taman kota lain di Jakarta juga dapat mengadopsi model serupa, menjadikan ruang terbuka hijau lebih inklusif dan dinamis.
Ke depannya, Dinas Penataan Ruang Kota berencana untuk menambah fasilitas pendukung, seperti area olahraga outdoor yang lebih lengkap, spot foto instagramable, serta program acara komunitas rutin pada malam hari. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat peran Taman Barito sebagai pusat aktivitas sosial budaya, sekaligus memperkaya pilihan rekreasi warga Jakarta dalam mengisi waktu luang, khususnya pada masa libur panjang.
Dengan keberhasilan awal ini, Taman Barito menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan sederhana—membuka ruang publik selama 24 jam—dapat memberikan dampak signifikan pada mobilitas, kebugaran, dan kesejahteraan mental warga kota.





