123Berita – 04 April 2026 | Kulonprogo, Yogyakarta – Suasana rumah duka milik Keluarga Orangtua Dhuafa (KOPDA) di Desa Kulonprogo berubah menjadi saksi bisu rasa duka yang mendalam menjelang kedatangan jenazah Kopda Anumerta Farizal Rhomadon. Warga setempat, para pelayat, serta relawan sosial terus berdatangan, memadati halaman rumah yang kini dijadikan tempat berkumpulnya para penyesal dan sahabat.
Farizal Rhomadon, sosok yang dikenal luas sebagai aktivis sosial dan penggiat KOPDA, meninggal dunia secara mendadak beberapa hari lalu. Kepergiannya menyentuh hati banyak kalangan, terutama di kalangan komunitas pengabdian sosial yang selama ini menilai Farizal sebagai figur inspiratif. Kematian mendadak tersebut menimbulkan keprihatinan yang meluas, mendorong ribuan orang untuk mengirimkan ucapan belasungkawa dan turut berduka cita.
Rumah duka yang terletak di Jalan Raya Kulonprogo, tepat di pinggir desa, kini dipenuhi oleh deretan kursi plastik, tenda sederhana, serta spanduk bertuliskan “Selamat Jalan Farizal Rhomadon”. Suasana menjadi semakin haru ketika para pelayat membawa bunga melati, mawar, dan sesekali menyalakan dupa sebagai simbol penghormatan terakhir. Beberapa relawan membantu menata ruangan, menyiapkan air minum, serta menyediakan makanan ringan bagi mereka yang menunggu giliran mengucapkan selamat tinggal.
“Kami mengharapkan kehadiran semua pihak yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada Farizal. Rumah duka ini menjadi tempat pertemuan, tempat mengingat kembali segala kebaikan yang telah ia lakukan selama hidupnya,” ujar Ketua Pengurus KOPDA Kulonprogo, Siti Nurhaliza, sambil menata kembali rangkaian bunga di sudut ruangan.
Berbagai kalangan, mulai dari pejabat daerah, tokoh agama, hingga aktivis sosial, telah menyampaikan rasa duka mereka. Bupati Kulonprogo, Dr. H. M. Didi Mulyadi, S.H., menyatakan kesedihan mendalam atas kepergian Farizal dan menekankan pentingnya melanjutkan visi serta misi sosial yang telah ia tanamkan. “Kita semua berhutang budi pada Farizal. Mari kita jaga warisan kebaikannya dengan tetap berkontribusi pada masyarakat,” ujar Didi dalam sebuah pernyataan singkat.
Selain itu, para tokoh agama setempat juga turut hadir memberikan doa bersama. Imam Masjid Al-Ikhlas, Ustadz Ahmad Fauzi, memimpin sholat jenazah secara kolektif, menekankan pentingnya persaudaraan serta kepedulian terhadap sesama. “Kematian bukan akhir, melainkan panggilan untuk melanjutkan amal yang telah dimulai,” ujarnya, menambah nuansa spiritual dalam suasana duka.
Berita tentang suasana rumah duka ini dengan cepat menyebar melalui media sosial. Foto-foto pelayat yang mengelilingi rumah duka menjadi viral, menimbulkan empati yang luas di kalangan netizen. Banyak yang mengirimkan pesan dukungan melalui platform daring, mengingatkan kembali betapa kuatnya jaringan solidaritas sosial di era digital.
Sejumlah organisasi non‑profit yang pernah bekerja sama dengan Farizal juga mengirim perwakilan. Mereka menyiapkan materi dokumentasi mengenai program-program bantuan yang pernah dijalankan, sebagai bentuk penghormatan dan sekaligus upaya memastikan keberlanjutan program tersebut. “Kami akan terus mengelola program beasiswa, bantuan pangan, dan layanan kesehatan yang dulu diprakarsai oleh Farizal,” kata Ketua LSM Peduli Anak, Rudi Hartono.
Ketika senja tiba, suasana rumah duka masih dipenuhi dengan suara doa, bisikan pelayat, dan aroma dupa yang menguar di udara. Meskipun kehadiran jenazah belum tiba, rasa kebersamaan dan kepedulian telah menciptakan ikatan yang kuat antara warga Kulonprogo dan seluruh lapisan masyarakat yang turut berduka. Kesedihan yang mendalam berubah menjadi motivasi kolektif untuk meneruskan warisan kebaikan sang almarhum.
Dengan kedatangan jenazah yang diperkirakan dalam beberapa jam ke depan, rumah duka akan terus menjadi pusat perhatian. Para pelayat diharapkan tetap menjaga ketertiban, menghormati protokol kesehatan, serta mematuhi tata tertib yang telah ditetapkan panitia. Semua pihak sepakat bahwa perpisahan ini bukan sekadar peristiwa duka, melainkan momentum refleksi dan komitmen untuk melanjutkan perjuangan sosial yang telah ditinggalkan Farizal Rhomadon.
Kesimpulannya, suasana rumah duka Kopda Anumerta Farizal di Kulonprogo menegaskan betapa kuatnya rasa solidaritas dan penghargaan masyarakat terhadap seorang aktivis yang telah mengabdikan hidupnya untuk kepentingan umum. Kedatangan jenazah akan menjadi puncak dari rangkaian penghormatan yang menggabungkan elemen religius, sosial, dan emosional, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya melanjutkan nilai‑nilai kebaikan yang telah ditorehkan oleh sang almarhum.





