123Berita – 04 April 2026 | Film horor komedi berjudul “Warung Pocong” kembali menggegerkan jagat sinema Indonesia setelah resmi tayang pada 9 April 2026. Film ini mengusung konsep unik, yakni memadukan elemen seram klasik dengan humor lokal yang menggelitik, sekaligus menampilkan sejumlah aktor ternama dalam peran yang tak terduga. Salah satu sorotan utama adalah penampilan Shareefa Daanish, aktris yang selama ini dikenal lewat peran dramatis, kini melangkah ke ranah horor dengan sentuhan komedi yang segar.
Shareefa Daanish, lulusan Fakultas Seni Drama Universitas Indonesia, telah membangun reputasi sebagai aktris yang mampu menggugah emosi penonton melalui peran-peran berat di film-film independen. Keberaniannya untuk menembus genre horor komedi menandai titik balik penting dalam kariernya. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Daanish mengungkapkan motivasi di balik keputusan berani tersebut: “Saya ingin menantang diri sendiri, mengeksplorasi dimensi akting yang belum pernah saya jalani, sekaligus memberikan warna baru bagi penonton yang mungkin sudah bosan dengan peran konvensional.”
“Warung Pocong” sendiri mengambil latar sebuah warung makan kecil di pinggiran kota, yang secara misterius menjadi sarang makhluk tradisional bernama pocong. Cerita berpusat pada pemilik warung yang harus berhadapan dengan fenomena supranatural sambil mempertahankan usahanya. Kombinasi antara atmosfer menegangkan dan dialog jenaka menjadikan film ini layak disebut “horor dramatis”—sebuah istilah yang dipopulerkan oleh produser film untuk menggambarkan keseimbangan antara ketegangan dan tawa.
Berbeda dengan peran-peran sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada intensitas emosional, Daanish dalam “Warung Pocong” mengambil karakter Maya, seorang pelayan warung yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan makhluk pocong. Maya digambarkan sebagai sosok cerdas, penuh rasa ingin tahu, namun juga memiliki sisi kocak yang muncul saat berhadapan dengan situasi menyeramkan. Transformasi peran ini menuntut Daanish menggabungkan teknik pernapasan untuk adegan horor dengan timing komedi yang tepat.
Persiapan Daanish untuk memerankan Maya melibatkan serangkaian workshop intensif. Ia bekerja sama dengan pelatih pergerakan tubuh untuk menciptakan gestur yang dapat mengekspresikan ketegangan sekaligus kelucuan. Selain itu, aktris tersebut berlatih bersama tim efek suara untuk menyesuaikan reaksi wajahnya dengan suara-suara supranatural yang akan diputar pada hari pengambilan gambar. “Setiap kali kami mendengar suara pocong yang berderak, saya harus menahan tawa sekaligus menampilkan ketakutan yang realistis,” ujar Daanish.
Kehadiran komedian papan atas, Rudi Hartono, yang berperan sebagai pemilik warung, menjadi faktor pendorong semangat syuting bagi Daanish. Hartono, yang telah dikenal lewat stand‑up comedy dan serial televisi, menciptakan atmosfer kerja yang ringan namun produktif. “Dia selalu melempar lelucon di sela‑sela adegan menegangkan, sehingga suasana tetap menyenangkan,” kata Daanish. Interaksi spontan antara dua pemeran utama ini ternyata menjadi magnet bagi kru, yang sering kali terhibur oleh improvisasi yang terjadi di set.
Salah satu momen tak terlupakan yang dibagikan Daanish adalah ketika ia harus berhadapan dengan prosthetic pocong raksasa yang digerakkan oleh operator di belakang panggung. Karena efek suara yang terlalu keras, ia terpaksa menutup telinga dengan tangan sambil tetap mengekspresikan ketakutan. “Saya malah tertawa karena situasinya absurd, tapi pada akhirnya tawa itu menjadi bahan bakar emosional untuk adegan selanjutnya,” ungkapnya dengan senyum.
Penonton yang menantikan “Warung Pocong” memiliki ekspektasi tinggi, mengingat popularitas genre horor komedi di pasar lokal. Media sosial dipenuhi spekulasi mengenai bagaimana Daanish akan menyeimbangkan dua sisi karakter Maya. Banyak yang menilai bahwa keberanian aktris tersebut dapat membuka peluang baru bagi genre tersebut, sekaligus memperkaya katalog film Indonesia dengan konten yang lebih beragam.
Setelah penayangan perdana di beberapa bioskop kota besar, film ini mendapatkan respons positif dari penonton. Mereka memuji kombinasi efek visual yang memukau, alur cerita yang tidak terduga, serta chemistry antara Daanish dan Hartono. Beberapa kritik menyoroti bahwa adegan-adegan komedi kadang terasa terlalu dipaksakan, namun secara keseluruhan, film tersebut dinilai berhasil menjaga keseimbangan antara ketegangan dan humor.
Dari perspektif industri, “Warung Pocong” diprediksi menjadi salah satu film yang meningkatkan pendapatan box office pada kuartal pertama 2026. Distribusi dilakukan oleh perusahaan film ternama, yang menyiapkan strategi pemasaran digital melalui platform streaming lokal serta kolaborasi dengan influencer horor dan komedi.
Bagi Shareefa Daanish, peran Maya menjadi batu loncatan penting. Ia menyatakan bahwa pengalaman ini memperluas jangkauan aktingnya, sekaligus menambah portofolio yang lebih variatif. “Saya merasa lebih percaya diri untuk mengeksplorasi genre lain di masa depan,” tuturnya. Keberhasilan film ini juga membuka peluang bagi produser untuk menambah jumlah film horor komedi dalam jadwal produksi tahun berikutnya.
Kesimpulannya, “Warung Pocong” tidak hanya sekadar menambah koleksi film horor komedi di Indonesia, tetapi juga menjadi panggung bagi aktor-aktor berani seperti Shareefa Daanish untuk menampilkan sisi baru mereka. Kombinasi cerita yang segar, sinematografi yang memikat, serta kolaborasi antar‑generasi di antara para pemain menjadikan film ini layak ditonton bagi penikmat genre campuran. Dengan dukungan penonton dan kritik yang mayoritas positif, film ini berpotensi menjadi referensi penting dalam evolusi sinema horor komedi Indonesia.





