123Berita – 08 April 2026 | Pedangdut senior Ikke Nurjanah mengungkapkan rasa terkejutnya atas penurunan tajam besaran royalti yang diterima dari Anugrah Royalti Dangdut Indonesia (ARDI). Dalam pernyataan yang disampaikan kepada media, penyanyi berusia 53 tahun itu menjelaskan bahwa selama beberapa tahun terakhir ia menerima royalti sekitar Rp1,5 miliar per tahun. Namun, dalam periode terbaru, angka tersebut menyusut drastis menjadi hanya Rp25 juta.
Penurunan yang begitu signifikan menimbulkan pertanyaan tentang mekanisme perhitungan royalti di industri musik dangdang. Ikke menilai bahwa perubahan ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan mengindikasikan adanya masalah struktural dalam sistem distribusi pendapatan yang selama ini diandalkan para pencipta lagu, penyanyi, dan produser.
Ikke Nurjanah, yang telah berkarier lebih dari tiga dekade, menyatakan bahwa royalti merupakan salah satu sumber utama penghidupan para seniman senior. “Kami sudah terbiasa dengan pendapatan yang stabil, dan tiba-tiba angka itu menurun hampir 98 persen, membuat kami harus mencari sumber penghasilan lain,” ujar Ikke dalam sebuah wawancara. Ia menambahkan bahwa penurunan royalti tidak hanya memengaruhi dirinya secara pribadi, tetapi juga memberi dampak pada generasi muda yang masih bergantung pada pendapatan hak cipta untuk melanjutkan karier musik.
ARDI, sebagai lembaga yang bertugas mengelola royalti bagi pencipta lagu dangdut, menjelaskan bahwa penurunan angka tersebut bersifat sementara. Menurut pernyataan resmi ARDI, perubahan algoritma platform streaming serta renegosiasi kontrak lisensi dengan stasiun radio menjadi faktor utama yang mengurangi total pendapatan. “Kami sedang melakukan evaluasi mendalam untuk memastikan bahwa mekanisme distribusi royalti tetap adil dan transparan,” kata juru bicara ARDI.
- Faktor Platform Digital: Beberapa layanan streaming mengubah tarif per stream, yang berdampak pada perhitungan royalti.
- Penurunan Slot Radio: Stasiun radio mengalokasikan lebih sedikit waktu untuk lagu dangdut demi mengakomodasi genre lain yang dianggap lebih menguntungkan iklan.
- Kebijakan Lisensi: Negosiasi ulang hak penggunaan lagu dengan jaringan televisi mengakibatkan penurunan nilai lisensi.
Para pengamat industri musik menilai bahwa penurunan royalti ini juga dipengaruhi oleh perubahan perilaku konsumen. Generasi milenial dan Gen Z cenderung lebih menyukai musik yang dapat diakses secara gratis melalui media sosial dan video pendek, sehingga mengurangi pendapatan dari sumber tradisional seperti radio dan TV. Selain itu, tingkat persaingan antar genre yang semakin tinggi menyebabkan pendengar beralih ke konten yang lebih “viral”.
Namun, tidak semua pihak melihat penurunan ini sebagai akhir yang suram. Beberapa musisi dangdang mengusulkan strategi diversifikasi pendapatan, antara lain dengan meningkatkan penjualan merchandise, menggelar konser daring, serta memanfaatkan platform crowdfunding. “Kita harus lebih kreatif dalam memonetisasi karya, tidak hanya mengandalkan royalti konvensional,” ujar seorang produser musik yang tidak mau disebutkan namanya.
Dalam upaya memperbaiki situasi, ARDI berencana mengadakan forum dialog antara pencipta, penyanyi, serta pemilik platform digital pada kuartal berikutnya. Forum tersebut diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan baru yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar digital dan memberikan jaminan pendapatan yang lebih stabil bagi para pelaku industri dangdut.
Situasi ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh ekosistem musik Indonesia, khususnya genre yang memiliki basis pendengar luas seperti dangdut. Keberlanjutan finansial para seniman tidak hanya bergantung pada popularitas lagu, melainkan juga pada kebijakan yang mengatur hak cipta, distribusi pendapatan, dan adaptasi teknologi.
Kesimpulannya, penurunan tajam royalti yang dialami Ikke Nurjanah menandai tantangan baru bagi industri musik dangdut. Dengan perubahan pola konsumsi dan tekanan ekonomi, diperlukan upaya kolaboratif antara ARDI, media, dan para seniman untuk menciptakan sistem royalty yang adil, transparan, dan berkelanjutan. Hanya dengan langkah bersama, industri dangdut dapat kembali memperoleh stabilitas finansial dan terus menjadi suara budaya Indonesia yang digemari masyarakat luas.