123Berita – 04 April 2026 | Polri Sumatera Selatan (Sumsel) mengumumkan bahwa sebanyak 2.671 personel gabungan telah dikerahkan untuk menjamin keamanan penuh selama rangkaian perayaan Jumat Agung di seluruh wilayah provinsi. Penempatan aparat meliputi kota-kota utama, kabupaten, serta area-area strategis yang menjadi titik konsentrasi umat Kristiani dalam melaksanakan ibadah pada hari suci tersebut.
Jumat Agung, yang diperingati sebagai hari wafatnya Yesus Kristus, selalu menjadi momentum penting bagi umat Kristiani. Di Sumsel, tradisi memperingati hari tersebut biasanya diwarnai dengan kebaktian di gereja-gereja, prosesional, serta kegiatan keagamaan lain yang melibatkan ribuan jamaah. Mengingat potensi kerumunan besar, aparat kepolisian berkoordinasi dengan otoritas keagamaan, pemerintah daerah, serta satuan keamanan lain untuk mengantisipasi segala bentuk gangguan atau ancaman keamanan.
Kapolri Sumsel, Irjen Pol. (Purn) Hadi Susanto, menegaskan bahwa kesiapan keamanan bukan sekadar menampakkan jumlah personel, melainkan mencakup penempatan strategis, penggunaan peralatan modern, serta pelatihan khusus bagi para anggota. Ia menyatakan, ‘Kami tidak hanya menyiapkan personel dalam jumlah besar, tetapi juga menyiapkan prosedur operasional standar yang terintegrasi dengan semua pemangku kepentingan, sehingga ibadah dapat berlangsung aman dan khusyuk.’
Berikut adalah rincian penempatan aparat dan langkah-langkah pengamanan yang dilakukan:
- Penempatan tim patroli berjalan di sekitar gereja-gereja utama di Palembang, Bandar Lampung, dan kota-kota lain.
- Pemasangan pos keamanan di pintu masuk utama tempat ibadah, lengkap dengan detektor logam dan kamera pengawas.
- Penggunaan satuan taktis (Bravo) untuk respons cepat terhadap potensi ancaman.
- Koordinasi dengan satuan pemadam kebakaran dan layanan medis untuk penanganan darurat.
- Pelatihan khusus bagi anggota tentang sensitivitas agama dan prosedur evakuasi massal.
Pengamanan tidak hanya berfokus pada pencegahan serangan, tetapi juga pada penyediaan layanan publik yang mendukung kenyamanan jamaah. Tim keamanan menyediakan fasilitas parkir tertib, jalur pejalan kaki yang dipisahkan dari kendaraan, serta petugas informasi yang membantu arah dan jadwal ibadah.
Sejumlah tokoh agama setempat menyambut langkah polisi dengan apresiasi. Pastor Yohanes Sugiarto dari Gereja Kristen Injili di Palembang menyampaikan, ‘Kehadiran aparat yang siap siaga memberikan rasa aman bagi jemaat kami. Kami dapat melaksanakan ibadah dengan fokus pada spiritual tanpa khawatir akan gangguan.’ Sementara itu, Ketua Dewan Gereja Indonesia (DGI) Sumsel, Rev. Dr. Maria Lestari, menambahkan bahwa kolaborasi antara pihak kepolisian dan lembaga keagamaan merupakan contoh sinergi positif dalam menjaga ketertiban umum.
Selain aspek keamanan fisik, Polri Sumsel juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat tentang protokol kesehatan yang masih relevan, mengingat pandemi COVID-19 belum sepenuhnya berakhir. Meskipun tidak ada larangan kerumunan, pihak kepolisian mengimbau peserta ibadah untuk tetap menjaga jarak, memakai masker, dan mengikuti anjuran kesehatan yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan setempat.
Data historis menunjukkan bahwa peringatan Jumat Agung di Sumsel selama beberapa tahun terakhir selalu berlangsung tanpa insiden keamanan besar. Namun, peningkatan ancaman terorisme global dan dinamika sosial menuntut kesiapan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, Polri Sumsel melakukan analisis risiko menyeluruh, termasuk pemantauan intelijen daring, untuk mengidentifikasi potensi ancaman sebelum terjadi.
Secara logistik, penempatan 2.671 personel mencakup kombinasi antara anggota Polri, TNI, serta satuan khusus Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Setiap satuan memiliki peran spesifik: Polri mengelola keamanan umum, TNI menambah kapasitas respon cepat, dan BPBD menyiapkan penanggulangan bencana alam yang mungkin terjadi bersamaan dengan perayaan.
Di tingkat daerah, pemerintah kabupaten/kota menyediakan dukungan infrastruktur, seperti penerangan jalan tambahan, penyediaan tempat ibadah darurat, serta koordinasi transportasi umum untuk memudahkan pergerakan jamaah. Anggaran khusus untuk pengamanan ini dialokasikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2026, dengan alokasi utama pada sektor keamanan dan pelayanan publik.
Pengamanan yang terintegrasi ini diharapkan tidak hanya melindungi ibadah Jumat Agung, tetapi juga menjadi model bagi penyelenggaraan acara keagamaan besar lainnya di masa mendatang. Dengan sinergi antara aparat keamanan, pemerintah, dan komunitas agama, Sumatera Selatan menegaskan komitmennya untuk menjamin kebebasan beribadah dalam suasana yang aman dan damai.
Kesimpulannya, penempatan ribuan aparat gabungan untuk mengamankan rangkaian Jumat Agung di Sumsel mencerminkan langkah proaktif kepolisian dalam menjaga ketertiban dan keamanan publik. Kolaborasi lintas sektor, kesiapan teknis, serta perhatian pada aspek kesehatan menjadi landasan utama keberhasilan acara keagamaan ini. Diharapkan, upaya serupa dapat menjadi standar operasional bagi wilayah lain dalam menanggapi tantangan keamanan pada peristiwa keagamaan berskala besar.