Revitalisasi Itik Alabio dan Kerbau Rawa Terintegrasi: Langkah Strategis Pemkab Hulu Sungai Utara untuk Tingkatkan Kesejahteraan

Revitalisasi Itik Alabio dan Kerbau Rawa Terintegrasi: Langkah Strategis Pemkab Hulu Sungai Utara untuk Tingkatkan Kesejahteraan
Revitalisasi Itik Alabio dan Kerbau Rawa Terintegrasi: Langkah Strategis Pemkab Hulu Sungai Utara untuk Tingkatkan Kesejahteraan

123Berita – 07 April 2026 | Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) kembali menegaskan komitmennya dalam mengembangkan sektor peternakan melalui program revitalisasi itik Alabio dan kerbau rawa secara terintegrasi. Inisiatif ini diluncurkan sebagai respons atas menurunnya populasi unggas lokal dan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang mayoritas menggantungkan hidupnya pada lahan rawa.

Program revitalisasi yang dipimpin oleh Bupati HSU, Dr. H. Mahyudin, S.H., menargetkan peningkatan populasi itik Alabio dan kerbau rawa hingga 30 persen dalam tiga tahun ke depan. Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada pembiakan, melainkan juga pada perbaikan kualitas lahan rawa, pemberian pelatihan teknis bagi peternak, serta penyediaan sarana produksi yang modern.

Bacaan Lainnya

Langkah-langkah utama yang diambil meliputi:

  • Penyediaan bibit unggul: Dinas Pertanian bekerja sama dengan lembaga penelitian pertanian di Pontianak untuk menghasilkan bibit itik Alabio yang tahan penyakit dan kerbau rawa yang memiliki pertumbuhan cepat.
  • Pembangunan infrastruktur: Dibangun 15 kolam pemeliharaan itik di desa-desa strategis serta 10 lahan pemeliharaan kerbau rawa yang dilengkapi dengan sistem drainase dan pemeliharaan vegetasi alami.
  • Pelatihan peternak: Diselenggarakan workshop bulanan tentang manajemen pakan, kesehatan hewan, dan pemasaran produk peternakan.
  • Pemasaran terintegrasi: Dibentuk kemitraan dengan koperasi lokal untuk menyalurkan hasil produksi ke pasar regional dan nasional, termasuk pengolahan daging kerbau menjadi produk olahan bernilai tambah.

Selain meningkatkan produksi, program ini juga menekankan pada pelestarian ekosistem rawa yang menjadi habitat alami bagi kedua jenis ternak. Upaya rehabilitasi lahan rawa melibatkan penanaman kembali tanaman rawa asli, yang berfungsi sebagai pakan alami serta penyaring air, sehingga menciptakan siklus produksi yang berkelanjutan.

Peternak setempat, Bapak Sitiadi, kepala kelompok peternak itik di Desa Tanjung Banjar, menyampaikan optimismenya: “Dengan adanya bibit berkualitas dan pelatihan teknis, kami yakin produksi itik Alabio akan meningkat. Selain itu, dukungan pemasaran lewat koperasi membantu kami mendapatkan harga yang lebih adil.”

Di sisi lain, peternak kerbau, Ibu Ningsih dari Desa Pangkalan Balai, menambahkan, “Sebelumnya kami hanya mengandalkan cara tradisional yang hasilnya tidak menentu. Sekarang dengan fasilitas kolam dan pengetahuan tentang kesehatan kerbau, kami dapat meningkatkan jumlah ternak dan kualitas dagingnya, yang tentunya meningkatkan pendapatan keluarga kami.”

Program revitalisasi ini juga diharapkan dapat menurunkan tingkat kemiskinan di daerah pedalaman HSU. Menurut Bappeda HSU, sektor peternakan menyumbang 12 persen dari PDRB kabupaten, namun masih belum optimal. Dengan meningkatkan produktivitas itik Alabio dan kerbau rawa, diharapkan lapangan kerja baru terbuka, terutama bagi generasi muda yang sebelumnya beralih ke sektor migran.

Pengawasan dan evaluasi program akan dilakukan secara berkala oleh tim lintas sektoral yang meliputi Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, dan Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD). Laporan kemajuan akan dipublikasikan setiap enam bulan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana publik.

Secara jangka panjang, pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara berencana memperluas model integrasi ini ke komoditas lain, seperti budidaya ikan rawa dan tanaman obat tradisional, sehingga tercipta ekosistem pertanian terpadu yang mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan sosial.

Dengan sinergi antara pemerintah, lembaga penelitian, dan peternak lokal, revitalisasi itik Alabio dan kerbau rawa terintegrasi di HSU menjadi contoh konkret bagaimana kebijakan berbasis ekosistem dapat meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus melestarikan lingkungan. Keberhasilan program ini akan menjadi tonggak penting bagi upaya pemberdayaan ekonomi pedesaan di Kalimantan Selatan.

Pos terkait