123Berita – 03 Mei 2026 | Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ke-2026 menjadi panggung bagi Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Ipul, untuk menegaskan kembali urgensi semangat gotong royong dalam memerangi kemiskinan melalui sektor pendidikan. Pada acara yang dihadiri oleh pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, serta perwakilan lembaga pendidikan, Gus Ipul menyoroti peran strategis program Sekolah Rakyat sebagai katalisator perubahan sosial.
“Pendidikan adalah hak dasar yang harus dapat diakses oleh setiap warga negara, tanpa memandang status ekonomi,” ujar Gus Ipul dalam sambutannya. Ia menekankan bahwa solusi jangka panjang untuk menurunkan angka kemiskinan tidak dapat dilepaskan dari peningkatan kualitas dan kuantitas akses pendidikan, terutama bagi keluarga kurang mampu.
Gus Ipul memaparkan data terkini yang menunjukkan bahwa masih terdapat lebih dari 2,5 juta anak Indonesia yang belum atau tidak terdaftar di sekolah formal. Angka ini, menurutnya, menjadi tantangan utama yang harus dihadapi bersama. “Gotong royong bukan hanya slogan, melainkan tindakan konkret yang harus diwujudkan dalam setiap kebijakan,” tegasnya.
Program Sekolah Rakyat, yang diluncurkan oleh Kementerian Sosial pada tahun 2023, menjadi fokus utama dalam upaya tersebut. Program ini dirancang untuk menyediakan fasilitas belajar yang memadai di wilayah-wilayah terpencil dan daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi. Berikut poin-poin utama dari program tersebut:
- Pembangunan dan renovasi gedung sekolah: Memperbaiki infrastruktur yang rusak dan membangun ruang kelas baru dengan standar keamanan.
- Beasiswa penuh: Menyediakan beasiswa meliputi biaya pendidikan, seragam, buku, dan perlengkapan belajar bagi siswa kurang mampu.
- Pelatihan guru: Mengadakan program peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan metodologi pengajaran modern.
- Kemitraan dengan sektor swasta: Mengajak perusahaan untuk berkontribusi dalam bentuk CSR, baik berupa dana maupun fasilitas.
Gus Ipul menambahkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat setempat. Ia mengajak tokoh agama, pemuka desa, dan organisasi kemasyarakatan untuk menjadi ujung tombak dalam mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan bantuan serta memfasilitasi proses pendaftaran.
Selain menyoroti aspek edukatif, Menteri Sosial juga menekankan pentingnya pemberdayaan ekonomi keluarga. “Jika orang tua memiliki pendapatan yang layak, mereka dapat lebih fokus pada pendidikan anak-anak mereka,” ujar Gus Ipul. Ia mengumumkan sinergi antara Kementerian Sosial dan Kementerian Koperasi dan UKM untuk memperluas akses micro‑credit serta pelatihan kewirausahaan bagi keluarga penerima manfaat Sekolah Rakyat.
Langkah konkret lain yang diusulkan adalah pembentukan forum Gotong Royong Pendidikan di tingkat kecamatan. Forum ini akan berfungsi sebagai wadah koordinasi antara pemerintah, LSM, dan warga untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik serta mengoptimalkan sumber daya yang ada. Dalam forum tersebut, masyarakat dapat memberikan masukan, mengusulkan solusi, dan memantau pelaksanaan program secara transparan.
Reaksi dari para hadirin pun positif. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Dr. Hadi Setiawan, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif Gus Ipul. “Kami siap menyediakan tenaga pendidik dan sarana pendukung di wilayah kami. Dengan gotong royong, target menurunkan angka putus sekolah menjadi lebih realistis,” katanya.
Tak hanya pejabat, tokoh agama juga memberikan dukungan. Ustadz Abdul Rahman dari Masjid Al‑Hikmah di Kabupaten Brebes menekankan peran masjid sebagai pusat kegiatan sosial, termasuk program beasiswa dan pelatihan keterampilan. “Masjid dapat menjadi tempat penyuluhan nilai-nilai gotong royong kepada generasi muda,” ujarnya.
Dalam penutupannya, Gus Ipul menegaskan bahwa Hardiknas 2026 bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen nasional dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersinergi, mengoptimalkan sumber daya, dan menumbuhkan budaya gotong royong demi tercapainya tujuan akhir: Indonesia yang lebih sejahtera dan berpendidikan tinggi.
Dengan langkah-langkah terstruktur dan dukungan lintas sektor, diharapkan program Sekolah Rakyat dapat menjadi model reproduktif yang dapat diadopsi di daerah lain. Keberhasilan program ini nantinya akan menjadi bukti bahwa gotong royong masih menjadi kunci utama dalam mengatasi tantangan sosial ekonomi Indonesia.





