123Berita – 04 April 2026 | Bek tengah asal Belgia, Radja Nainggolan, membuka suara secara terbuka mengenai rasa penghargaan yang lebih besar ia rasakan ketika menginjakkan kaki di Indonesia dibandingkan ketika mengenakan seragam tim nasional Belgia. Pernyataan tersebut muncul dalam sebuah wawancara eksklusif di mana mantan pemain internasional itu menyoroti kegagalannya mencatatkan lebih dari tiga puluh penampilan (caps) untuk tim aslinya, meski telah menorehkan karier yang gemilang di level klub Eropa.
Nainggolan, yang dikenal dengan gaya permainan agresif dan kemampuan menyerang yang tajam, menghabiskan sebagian besar masa mudanya berlatih di Belgia. Ia menapaki karier profesionalnya bersama klub-klub seperti Cagliari, Lazio, dan Inter Milan, serta menjadi bagian penting dalam skuad Belgia pada era keemasan tim nasional. Namun, fakta bahwa ia hanya meraih 30 caps menimbulkan rasa frustrasi yang kini ia tuangkan dalam kata‑kata tegas.
“Saya selalu merasa dihargai di Indonesia. Di sana, suporter menunggu saya, menuliskan nama saya di spanduk, bahkan menghubungi saya lewat media sosial untuk mengucapkan selamat,” ujar Nainggolan. “Berbeda dengan pengalaman di Belgia, di mana saya kadang merasa terpinggirkan dan tidak mendapat kesempatan yang layak,” tambahnya. Pernyataan tersebut menegaskan betapa kuatnya ikatan emosional antara pemain asing dengan komunitas sepak bola di Indonesia, sebuah negara yang memang memiliki basis penggemar yang sangat fanatik.
Selain rasa dihargai, Nainggolan menyoroti perbedaan budaya sepak bola antara kedua negara. Ia memuji antusiasme suporter Indonesia yang tak kenal lelah, menggelar ribuan bendera dan menyanyikan lagu dukungan secara serempak di stadion. “Energi mereka menular. Saat saya melangkah ke lapangan, saya merasakan sorakan yang menggetarkan hati, sesuatu yang tidak selalu saya rasakan di Belgia,” kata Nainggolan. Di sisi lain, ia mengeluhkan dinamika politik dalam tim nasional Belgia yang terkadang menutup peluang bagi pemain berbakat, mengingatkan bahwa seleksi tidak selalu didasarkan pada performa semata.
Karier internasional Naunggolan memang tidak seberlimpah statistik pemain lain di era yang sama. Meskipun ia menorehkan lebih dari 300 penampilan klub dan mencetak puluhan gol, pencapaian internasionalnya terhenti pada tiga puluh penampilan, sebuah angka yang jauh di bawah ekspektasi mengingat peran penting yang ia mainkan di lini tengah. Analisis para pakar sepak bola menyebutkan bahwa persaingan ketat di posisi gelandang Belgia, serta perubahan taktik pelatih, menjadi faktor utama yang mengurangi peluangnya.
Walaupun demikian, Nainggolan tetap menegaskan rasa terima kasihnya kepada suporter Indonesia yang selalu mendukungnya, bahkan setelah pensiun. Ia mengaku sering menerima undangan untuk tampil dalam acara amal, pelatihan sepak bola, dan sesi tanda tangan di berbagai kota Indonesia. “Setiap kali saya kembali ke Indonesia, saya selalu disambut dengan hangat. Itu memberi saya kebanggaan dan motivasi baru,” ungkapnya. Hal ini juga membuka peluang bagi Nainggolan untuk mengejar peran sebagai duta sepak bola atau pelatih di tanah air, sebuah langkah yang potensial memperkuat hubungan sepak bola antara Belgia dan Indonesia.
Pengakuan Nainggolan menjadi sorotan media lokal dan internasional, menimbulkan perdebatan mengenai bagaimana federasi sepak bola harus memperlakukan pemain yang berada di luar sorotan utama. Beberapa pakar menilai bahwa federasi Belgia perlu meninjau kembali kebijakan seleksi, sementara yang lain menyoroti pentingnya penghargaan fanatik dari suporter sebagai faktor motivasi bagi pemain. Dalam konteks ini, Indonesia muncul sebagai contoh bagaimana budaya sepak bola yang inklusif dapat memberikan dampak positif bagi karier pemain asing.
Seiring berjalannya waktu, Nainggolan menegaskan niatnya untuk terus berkontribusi pada perkembangan sepak bola Indonesia, baik melalui kegiatan sosial, pelatihan muda, maupun kolaborasi dengan klub-klub lokal. Ia menutup wawancara dengan pesan optimis: “Saya berharap bisa menjadi jembatan antara dua dunia, membantu generasi muda Indonesia belajar dari pengalaman saya, dan pada akhirnya, membuktikan bahwa rasa dihargai bukan hanya sekadar kata, melainkan aksi nyata di lapangan.”





