123Berita – 08 April 2026 | Setelah lebih dari satu abad berada di koleksi museum di Belanda, Prasasti Damalung—sebuah peninggalan bersejarah yang mengandung informasi penting tentang kerajaan-kerajaan awal Nusantara—akan kembali ke Indonesia. Kepulangan batu nisan berusia abad ke-14 ini tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga membuka peluang baru bagi para peneliti untuk menelaah lebih dalam konteks politik, budaya, dan bahasa pada masa itu.
Prasasti Damalung ditemukan pada tahun 1904 oleh arkeolog Belanda di wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pada masa penemuan, wilayah tersebut masih menjadi bagian dari Hindia Belanda, sehingga artefak tersebut kemudian dipindahkan ke Rijksmuseum van Oudheden di Leiden. Selama lebih dari 120 tahun, batu tersebut menjadi bagian dari koleksi luar negeri, meski sejumlah catatan tentang isi dan bentuknya telah dipublikasikan dalam jurnal arkeologi Barat.
Kepulangan Prasasti Damalung ke Indonesia dimulai dari inisiatif pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang menegosiasikan proses repatriasi dengan pihak Belanda. Proses diplomatik ini melibatkan perjanjian bilateral, penilaian kondisi fisik prasasti, serta rencana pelestarian setelah tiba di tanah air. Pada bulan Mei 2024, prasasti resmi dikirim kembali dalam sebuah kontainer khusus yang dilengkapi dengan sistem pengendalian suhu dan kelembapan, memastikan tidak terjadi kerusakan selama transportasi.
Setelah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, prasasti langsung diserahkan kepada tim konservasi di Museum Nasional Indonesia. Tim tersebut melakukan pemeriksaan awal menggunakan teknologi X‑ray fluorescence (XRF) dan pemindaian 3D untuk memetakan kondisi permukaan serta mengidentifikasi potensi retakan mikro. Hasil inspeksi menunjukkan bahwa meskipun telah mengalami penuaan alami, batu masih berada dalam kondisi yang dapat dipertahankan dengan perawatan standar.
Berikut adalah beberapa poin penting yang terungkap dari isi prasasti:
- Bahasa dan Skrip: Tulisan menggunakan aksara Kawi, sebuah sistem penulisan yang lazim dipakai pada periode Kerajaan Majapahit dan sekitarnya. Bahasa yang dipakai merupakan campuran antara bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta, mencerminkan pengaruh budaya India yang kuat.
- Nama Raja: Prasasti menyebutkan nama seorang raja bernama Raja Wijayaparakrama, yang diperkirakan memerintah pada akhir abad ke-13 hingga awal abad ke-14. Nama ini belum banyak muncul dalam catatan sejarah, sehingga memberikan petunjuk baru mengenai rangkaian dinasti di wilayah Jawa Barat.
- Peristiwa Penting: Teks menyatakan bahwa raja tersebut melakukan “pembangunan pura” di daerah Damalung sebagai bentuk penghormatan kepada dewa Siwa, sekaligus memperkuat kontrol politik atas wilayah tersebut.
- Pengukuran Tanah: Terdapat referensi ukuran lahan (dalam satuan “ha” tradisional) yang diberikan kepada para petani sebagai imbalan atas jasa mereka, menunjukkan adanya sistem agraria yang terorganisir.
- Penghargaan Militer: Sebuah kalimat menyinggung penghargaan kepada pasukan yang berhasil menumpas pemberontakan di sekitar daerah Ciamis, menandakan adanya konflik internal pada masa itu.
Interpretasi ini didukung oleh tim ahli epigrafi Indonesia yang dipimpin oleh Dr. Andi Setiawan, seorang pakar bahasa Kawi dari Universitas Gadjah Mada. “Prasasti Damalung bukan sekadar catatan administratif, melainkan jendela yang membuka pemahaman tentang dinamika politik, keagamaan, dan ekonomi pada masa transisi antara era Hindu‑Buddha dan munculnya kerajaan Islam di Nusantara,” ungkapnya dalam sebuah konferensi pers.
Kepulangan prasasti ini juga memiliki implikasi penting bagi kebijakan pelestarian warisan budaya di Indonesia. Pemerintah berencana menampilkan Prasasti Damalung di Galeri Sejarah Asia Tenggara Museum Nasional, disertai dengan penjelasan interaktif menggunakan augmented reality (AR) yang memungkinkan pengunjung melihat terjemahan teks secara real‑time. Selain itu, data digital 3D akan diunggah ke portal digital UNESCO, memastikan akses global bagi peneliti tanpa harus memindahkan artefak fisik.
Reaksi publik terhadap berita kepulangan ini cukup antusias. Banyak masyarakat menganggapnya sebagai langkah konkret dalam mengembalikan harta budaya yang sempat hilang akibat kolonialisme. Di media sosial, tagar #PrasastiDamalung kembali viral, menandakan dukungan luas dari generasi muda yang semakin peduli terhadap identitas sejarah bangsa.
Secara historis, Prasasti Damalung menambah lapisan baru pada pemahaman tentang jaringan kerajaan-kerajaan kecil yang tersebar di Jawa Barat sebelum dominasi Majapahit. Keberadaan catatan tentang pembangunan pura dan pemberian tanah menunjukkan adanya struktur pemerintahan yang terorganisir, serta hubungan erat antara kekuasaan politik dan institusi keagamaan. Informasi mengenai penghargaan militer juga menandakan bahwa wilayah tersebut mengalami dinamika konflik yang memerlukan strategi diplomasi serta kekuatan militer.
Di sisi lain, keberadaan bahasa campuran Jawa‑Sanskerta pada prasasti menegaskan bahwa pertukaran budaya antara India dan Nusantara sudah berlangsung intensif sejak abad ke-9. Hal ini sejalan dengan temuan artefak lain di wilayah sekitarnya, seperti patung-patung batu bergaya Hindu yang ditemukan di Cibatu.
Ke depan, peneliti berencana melakukan studi komparatif antara Prasasti Damalung dengan prasasti lain yang ditemukan di Sumatra dan Sulawesi, guna menelusuri pola penyebaran aksara Kawi serta jaringan perdagangan maritim pada masa itu. Dengan data digital yang tersedia, kolaborasi internasional dapat lebih mudah terwujud, membuka peluang bagi jurnal ilmiah bersama.
Kesimpulannya, kepulangan Prasasti Damalung ke Indonesia tidak hanya menjadi simbol kebanggaan nasional, tetapi juga memperkaya khazanah sejarah bangsa. Melalui upaya pelestarian yang terintegrasi, publik dapat lebih mudah mengakses, memahami, dan mengapresiasi warisan budaya yang selama ini berada di luar negeri. Penemuan kembali isi prasasti membuka babak baru dalam kajian sejarah Jawa Barat, menyoroti peran penting kerajaan-kerajaan lokal dalam pembentukan identitas budaya Indonesia yang multikultural.