Pramono Tiba di RS Duren Sawit, Tinjau Kondisi 54 Siswa SD yang Diduga Keracunan Makanan

Pramono Tiba di RS Duren Sawit, Tinjau Kondisi 54 Siswa SD yang Diduga Keracunan Makanan
Pramono Tiba di RS Duren Sawit, Tinjau Kondisi 54 Siswa SD yang Diduga Keracunan Makanan

123Berita – 04 April 2026 | Jakarta, 4 April 2026 – Gubernur DKI Jakarta, Dr. H. Pramono, melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Duren Sawit pada Senin (4/4) untuk memantau perkembangan kesehatan 54 siswa Sekolah Dasar (SD) yang diduga mengalami keracunan makanan. Kunjungan tersebut menjadi sorotan publik mengingat banyaknya anak-anak sekolah yang harus dirawat di tiga rumah sakit berbeda setelah mengalami gejala keracunan pada hari Senin pagi.

Berikut rangkuman data awal terkait penanganan kasus:

Bacaan Lainnya
  • Jumlah total siswa terjangkit: 54 orang
  • Rumah sakit tempat siswa dirawat: RS Duren Sawit, RS Cakung, RS Mitra Keluarga Cakung
  • Gejala utama: muntah, mual, diare, kram perut
  • Waktu onset gejala: sekitar pukul 08.45-09.15 WIB

Pramono tiba di RS Duren Sawit sekitar pukul 12.00 WIB, disambut oleh tim medis dan perwakilan sekolah. Dalam pertemuan singkat, beliau menanyakan kondisi terkini masing-masing pasien, prosedur penanganan yang sedang berjalan, serta langkah-langkah preventif yang akan diambil untuk mencegah penyebaran lebih luas.

“Kami sangat prihatin dengan situasi yang menimpa anak-anak kita. Prioritas utama adalah memastikan mereka mendapatkan perawatan terbaik dan cepat pulih. Kami juga akan melakukan investigasi menyeluruh terhadap sumber makanan yang menjadi penyebab kejadian ini,” ungkap Pramono dalam sambutan singkatnya.

Selama kunjungan, Pramono mempelajari proses medis yang dijalankan, termasuk pemberian cairan intravena, obat antiemetik, serta pemantauan tanda vital. Dokter penanggung jawab, dr. Andi Suryadi, menjelaskan bahwa sebagian besar siswa berada dalam kondisi stabil, namun tetap memerlukan observasi intensif selama 24 hingga 48 jam ke depan.

“Saat ini, tidak ada indikasi komplikasi serius. Namun kami tetap harus waspada karena keracunan makanan dapat berpotensi menyebabkan dehidrasi berat pada anak-anak,” kata dr. Andi. “Kami terus melakukan tes laboratorium pada sampel makanan yang diduga menjadi penyebab, serta melakukan pemeriksaan mikrobiologis pada cairan tubuh siswa untuk mengidentifikasi patogen yang terlibat.”

Selain meninjau kondisi medis, Pramono juga menekankan pentingnya koordinasi antara dinas pendidikan, dinas kesehatan, serta pihak sekolah dalam menangani insiden serupa. Beliau meminta pihak sekolah untuk segera melaporkan semua temuan terkait penyimpanan dan penyajian makanan di kantin, serta memastikan standar kebersihan yang ketat di masa mendatang.

Dalam pertemuan dengan orang tua siswa, Pramono menyampaikan empati dan komitmen pemerintah daerah untuk memberikan dukungan penuh. “Kami memahami kekhawatiran orang tua. Pemerintah DKI siap memberikan bantuan medis, psikologis, serta kompensasi yang diperlukan bagi keluarga yang terdampak,” tegasnya.

Pihak sekolah yang bersangkutan, yang identitasnya belum diumumkan untuk menjaga privasi, menyatakan akan melakukan audit internal terhadap prosedur penyajian makanan. Kepala Sekolah, Ibu Siti Nurhaliza, menyampaikan bahwa semua makanan yang disajikan pada hari kejadian berasal dari pemasok lokal yang biasanya telah terdaftar resmi.

Investigasi awal menunjukkan bahwa kemungkinan besar penyebab keracunan berasal dari makanan yang dipersiapkan pada malam sebelumnya. Tim forensik makanan akan menelusuri rantai pasokan, mulai dari bahan baku, proses penyimpanan, hingga distribusi ke kantin sekolah.

Kasus ini menambah catatan panjang insiden keracunan makanan di lingkungan sekolah di Indonesia, yang sering kali disebabkan oleh kurangnya pengawasan sanitasi dan prosedur penanganan makanan yang tidak sesuai standar. Menurut data Kementerian Kesehatan, sejak 2020 tercatat lebih dari 200 kasus serupa di seluruh wilayah Indonesia, dengan sebagian besar melibatkan anak usia sekolah dasar.

Dengan kunjungan Pramono, diharapkan perhatian publik dan pemerintah meningkat untuk memperkuat regulasi serta pengawasan ketat terhadap keamanan pangan di institusi pendidikan. Upaya edukasi kepada petugas kantin, serta pelatihan kebersihan makanan kepada seluruh staf sekolah, menjadi langkah preventif yang perlu diprioritaskan.

Pemerintah DKI Jakarta telah berjanji akan menyusun pedoman baru yang mewajibkan semua sekolah di wilayahnya untuk melakukan audit kebersihan pangan minimal setiap tiga bulan, serta melaporkan hasilnya secara transparan kepada dinas kesehatan setempat.

Sejauh ini, tidak ada laporan korban jiwa terkait insiden ini. Namun, para ahli menekankan pentingnya pemantauan jangka panjang terhadap kondisi kesehatan siswa yang telah mengalami keracunan, terutama untuk menghindari komplikasi kronis seperti gangguan pencernaan atau gangguan nutrisi.

Dengan langkah-langkah penanggulangan yang cepat dan koordinasi lintas sektoral, diharapkan situasi ini dapat segera pulih dan menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak terkait dalam upaya melindungi kesehatan generasi muda Indonesia.

Pos terkait