123Berita – 31 Mei 2026 | Presiden RI Prabowo Subianto diketahui memiliki frekuensi kunjungan ke luar negeri yang sangat tinggi. Hal ini menuai perhatian dari mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal. Dino Patti Djalal mengusulkan agar Presiden Prabowo Subianto mengurangi frekuensi kunjungan ke luar negeri dan memanfaatkan teknologi konferensi video untuk melakukan diplomasi.
Dino Patti Djalal menyatakan bahwa kunjungan ke luar negeri yang terlalu sering dapat membuang biaya yang tidak perlu dan mengganggu fokus pemerintah dalam menangani masalah dalam negeri. Ia menyarankan agar Presiden Prabowo Subianto menggunakan konferensi video untuk berkomunikasi dengan pemimpin negara lain, sehingga dapat menghemat biaya dan waktu.
Usulan Dino Patti Djalal ini juga didukung oleh beberapa kalangan yang khawatir dengan biaya yang dikeluarkan untuk kunjungan ke luar negeri. Mereka berpendapat bahwa biaya tersebut dapat digunakan untuk kepentingan yang lebih mendesak, seperti peningkatan kesehatan dan pendidikan.
Presiden Prabowo Subianto belum memberikan tanggapan resmi atas usulan Dino Patti Djalal. Namun, pemerintah telah menyatakan bahwa mereka akan mempertimbangkan usulan tersebut dan mencari cara untuk meningkatkan efisiensi dalam melakukan diplomasi.
Di sisi lain, beberapa kalangan juga khawatir bahwa konferensi video tidak dapat menggantikan kunjungan ke luar negeri secara langsung. Mereka berpendapat bahwa kunjungan ke luar negeri dapat membangun hubungan yang lebih erat dengan negara lain dan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya diplomasi.
Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian yang lebih lanjut untuk menentukan apakah konferensi video dapat menjadi sarana yang efektif untuk melakukan diplomasi. Pemerintah perlu mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan dari konferensi video dan kunjungan ke luar negeri secara langsung, sehingga dapat menentukan strategi yang tepat untuk meningkatkan efisiensi dalam melakukan diplomasi.
Kesimpulan dari usulan Dino Patti Djalal ini adalah bahwa pemerintah perlu mempertimbangkan cara untuk meningkatkan efisiensi dalam melakukan diplomasi. Konferensi video dapat menjadi salah satu sarana yang efektif untuk berkomunikasi dengan pemimpin negara lain, namun perlu dilakukan kajian yang lebih lanjut untuk menentukan apakah konferensi video dapat menggantikan kunjungan ke luar negeri secara langsung.





