123Berita – 10 April 2026 | Indonesia kembali diguncang oleh laporan kualitas udara yang menunjukkan dua kota besar, Tangerang Selatan dan Surabaya, menempati posisi terburuk di negara ini pada pagi hari ini. Data pemantauan kualitas udara yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengindikasikan indeks polutan (PM2.5) di kedua wilayah melampaui ambang batas yang dapat menimbulkan risiko kesehatan serius, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Di Tangerang Selatan, konsentrasi partikel halus (PM2.5) tercatat mencapai 115 mikrogram per meter kubik, menempatkannya dalam kategori “Sangat Tidak Sehat” menurut standar World Health Organization (WHO). Sementara itu, Surabaya mencatat angka 108 mikrogram per meter kubik, tidak jauh di belakang. Kedua angka ini jauh melebihi batas aman 25 mikrogram per meter kubik yang ditetapkan WHO untuk paparan harian.
Faktor utama yang mendorong peningkatan polusi di kedua kota ini beragam. Di Tangerang Selatan, aktivitas industri ringan, pembakaran sampah terbuka, serta peningkatan volume kendaraan pribadi selama jam sibuk menjadi penyumbang utama. Kondisi meteorologi yang kurang mendukung, seperti kurangnya angin kencang dan suhu yang relatif stabil, memperparah penumpukan partikel di atmosfer.
Surabaya, sebagai kota pelabuhan dengan kepadatan penduduk yang tinggi, menghadapi tantangan serupa. Emisi kendaraan bermotor, terutama di jalur-jalur utama seperti Jalan Ahmad Yani dan Jalan Raya Darmo, serta pembakaran limbah industri di kawasan industri Gresik‑Surabaya menjadi sumber utama polutan. Ditambah lagi, kebakaran hutan di beberapa wilayah Sumatera yang mengirimkan asap melintasi jalur angin, turut meningkatkan konsentrasi partikel halus di wilayah barat laut Jawa.
Para ahli kesehatan menegaskan bahwa paparan jangka panjang terhadap PM2.5 dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan pernapasan, serta kanker paru-paru. Oleh karena itu, otoritas setempat mengimbau warga untuk memakai masker respirator berstandar N95 atau setara, mengurangi aktivitas luar ruangan pada jam-jam puncak, serta memantau indeks kualitas udara melalui aplikasi resmi BMKG.
- Gunakan masker: Pilih masker yang mampu menyaring partikel berukuran 0,3 mikron atau lebih kecil.
- Kurangi penggunaan kendaraan pribadi: Manfaatkan transportasi umum atau bersepeda bila memungkinkan.
- Hindari pembakaran sampah terbuka: Gunakan fasilitas pengelolaan sampah yang telah disediakan.
- Periksa kondisi kesehatan: Warga dengan gejala batuk, sesak napas, atau iritasi mata disarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Pemerintah provinsi Banten dan Jawa Timur telah menyiapkan langkah-langkah penanggulangan darurat, termasuk penambahan unit pemantauan kualitas udara di titik-titik kritis, serta peningkatan patroli lingkungan untuk menindak tegas pelanggaran pembakaran sampah. Selain itu, program penghijauan kota dengan menanam pohon-pohon penyerapan karbon juga dipercepat sebagai upaya jangka panjang mengurangi beban polusi.
Selain dampak kesehatan, polusi udara juga menimbulkan konsekuensi ekonomi. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, biaya kesehatan yang timbul akibat penyakit yang dipicu polusi dapat mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya. Oleh karena itu, investasi dalam teknologi bersih, peningkatan kualitas transportasi massal, serta edukasi publik menjadi prioritas utama dalam agenda nasional.
Warga Tangerang Selatan dan Surabaya diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti rekomendasi resmi. Media massa dan platform digital akan terus memperbarui informasi terkini mengenai indeks kualitas udara, sehingga masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat untuk melindungi kesehatan diri dan keluarga.
Dengan meningkatnya kesadaran dan tindakan kolektif, diharapkan tingkat polusi dapat dikendalikan dan kualitas udara kembali membaik dalam waktu dekat.