123Berita – 07 April 2026 | Polda Papua Tengah mengungkap fakta di balik peredaran foto yang diklaim sebagai korban kericuhan terbaru di Dogiya, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah. Foto yang beredar luas di media sosial ternyata bukanlah dokumentasi kejadian terkini, melainkan gambar lama yang diambil pada periode yang berbeda. Penemuan ini menegaskan kembali pentingnya verifikasi informasi sebelum disebarkan, terutama di wilayah yang rawan konflik dan sensitif.
Hoaks tersebut muncul pada awal pekan ini dengan judul provokatif yang menyiratkan adanya penembakan massal dan korban jiwa baru-baru ini. Gambar yang disertakan memperlihatkan seorang pria dengan luka di kepala, yang dipasangkan dengan keterangan bahwa ia adalah korban terbaru dari bentrokan antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata di Dogiyai. Namun, setelah melakukan pengecekan silang terhadap arsip visual milik Polda Papua Tengah, tim intelijen menemukan bahwa foto tersebut diambil pada tahun 2020, saat terjadi operasi keamanan di wilayah lain. Tidak ada bukti yang mengaitkan gambar itu dengan insiden terbaru.
Reaksi masyarakat terhadap hoaks ini cukup beragam. Sebagian besar pengguna media sosial langsung membagikan gambar dengan caption yang menyinggung kebijakan keamanan, sementara yang lain menunggu klarifikasi resmi. Penyebaran informasi menyesatkan di wilayah dengan tingkat ketegangan yang tinggi dapat memperburuk situasi, menimbulkan kepanikan, serta menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi keamanan. Ahli komunikasi risiko, Dr. Maya Lestari, mengingatkan bahwa “informasi yang tidak terverifikasi dapat menjadi bahan bakar bagi narasi negatif, terutama di daerah dengan sejarah konflik seperti Papua.”
Polda Papua Tengah tidak hanya mengidentifikasi foto palsu, tetapi juga mengambil langkah-langkah edukatif untuk mencegah penyebaran hoaks selanjutnya. Tim Humas Polri bersama Badan Siber Nasional (BSSN) menyelenggarakan webinar daring yang menargetkan warga Papua, jurnalis, dan aktivis media. Dalam sesi tersebut, mereka membagikan panduan sederhana: memeriksa sumber gambar, mengecek tanggal metadata, dan mengonfirmasi lewat kanal resmi. Selain itu, pihak kepolisian berkoordinasi dengan platform media sosial untuk menandai dan menghapus konten yang terbukti tidak akurat.
Kasus ini menambah deretan contoh penyebaran informasi menyesatkan yang pernah melanda Papua dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari foto-foto kerusuhan yang diputar balik hingga video klaim militer yang tidak berdasar. Pemerintah pusat dan daerah terus berupaya meningkatkan literasi digital masyarakat, termasuk melalui program “Cerdas Media” yang difokuskan pada generasi muda. Upaya tersebut diharapkan dapat menurunkan tingkat viralitas hoaks dan memperkuat ketahanan sosial terhadap manipulasi informasi.
Kesimpulannya, pengungkapan hoaks foto Dogiyai oleh Polda Papua Tengah menegaskan pentingnya peran aparat keamanan dalam menegakkan kebenaran informasi. Masyarakat diimbau untuk tidak langsung mempercayai dan menyebarkan konten yang belum terverifikasi, melainkan menunggu pernyataan resmi dari otoritas terkait. Kewaspadaan bersama akan menjadi kunci utama dalam memerangi penyebaran berita palsu, menjaga stabilitas wilayah, serta memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi keamanan.





