123Berita – 09 April 2026 | Doug Allan, seorang kamerawan legendaris asal Skotlandia yang dikenal luas lewat kontribusinya pada serial dokumenter alam megah seperti Planet Earth dan The Blue Planet, meninggal dunia pada usia 74 tahun saat menjalani perjalanan trekking di pegunungan Nepal. Kejadian tragis ini mengguncang komunitas produksi film alam serta para pecinta alam di seluruh dunia.
Allan, yang memulai kariernya pada akhir 1970-an, telah menghabiskan lebih dari empat dekade menembus lokasi-lokasi paling menantang di bumi. Dari sabana Afrika yang luas hingga hutan hujan tropis Amazon, ia selalu berhasil menangkap momen-momen satwa liar yang menakjubkan dengan keahlian teknis dan keberanian yang luar biasa. Karyanya tidak hanya memperkaya seri-seri dokumenter BBC, khususnya kolaborasinya dengan Sir David Attenborough, tetapi juga menginspirasi generasi baru pembuat film dokumenter.
Pada bulan April 2024, Allan memutuskan untuk melakukan perjalanan ke wilayah Annapurna, Nepal, yang terkenal dengan jalur trekkingnya yang menakjubkan namun menuntut. Tujuan utama ia adalah menyelidiki ekosistem tinggi pegunungan Himalaya dan mengamati spesies endemik yang jarang terlihat, sebagai bagian dari rencana proyek film yang belum dipublikasikan. Rekan-rekannya melaporkan bahwa Allan berada dalam kondisi fisik yang baik, meskipun usianya sudah menginjak tujuh puluhan.
Selama pendakian, Allan mengalami serangan jantung mendadak di tengah jalur yang berbatu dan terjal. Meskipun tim pendaki lainnya segera memberikan pertolongan pertama, kondisi medisnya tidak memungkinkan untuk evakuasi cepat mengingat lokasi yang terpencil. Ia dinyatakan meninggal dunia pada sore hari di ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut.
Kematian Allan memicu gelombang penghormatan dari tokoh-tokoh film dan ilmuwan. Sir David Attenborough, yang telah bekerja sama selama lebih dari tiga dekade, menulis surat pernyataan yang menyebut Allan sebagai “salah satu pionir sejati dalam sinematografi satwa liar, seorang gentleman sejati yang menggabungkan keberanian dengan rasa hormat mendalam terhadap alam”. Beberapa rekan kerja, termasuk produser dan sutradara yang pernah bekerja bersamanya, mengingat kembali momen-momen menegangkan ketika Allan berhasil merekam aksi harimau di hutan Sumatra atau balita gorila di Rwanda.
Berita duka ini juga diangkat oleh media internasional seperti BBC, The Guardian, dan RTE, yang menyoroti tidak hanya prestasi profesional Allan tetapi juga kepribadiannya yang rendah hati dan dedikasinya terhadap konservasi. Banyak yang menilai bahwa warisan visualnya telah membantu meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya melindungi habitat alam dan spesies terancam.
Tragedi ini sekaligus mengingatkan dunia akan risiko yang melekat pada pekerjaan di alam bebas. Para pembuat film dokumenter kini kembali menegaskan pentingnya persiapan medis yang matang, termasuk akses ke layanan darurat di daerah terpencil. Di samping itu, organisasi konservasi berencana untuk memperkuat program pelatihan keamanan bagi kru lapangan, sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah berkorban demi menampilkan keindahan bumi.
Doug Allan akan dikenang melalui ratusan jam tayang yang menampilkan keajaiban alam, serta melalui penghargaan-penghargaan bergengsi yang pernah ia terima, termasuk BAFTA dan Emmy. Keluarganya, yang belum diumumkan secara resmi, diharapkan akan menerima dukungan moral dan material dari komunitas film internasional.
Kepergian Allan menutup sebuah bab penting dalam sejarah sinematografi alam, namun jejaknya akan terus hidup melalui gambar‑gambar menakjubkan yang menginspirasi jutaan penonton di seluruh dunia. Sebagai penutup, dunia film dokumenter berjanji untuk melanjutkan misi yang telah ia jalankan: menampilkan keindahan dan kerentanan alam secara autentik, serta mengajak generasi selanjutnya untuk melindungi warisan bumi yang tak ternilai.





