Pertamina Hulu Energi Target Kurangi Emisi 1,6 Juta Ton CO2e hingga 2025 dengan Langkah Energi Bersih

123Berita – 09 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026Pertamina Hulu Energi menegaskan kembali komitmennya dalam mengurangi jejak karbon industri energi dengan menargetkan penurunan emisi setara 1,6 juta ton CO2e selama periode 2023-2025. Langkah ambisius ini menjadi bagian integral dari agenda transisi energi nasional, sekaligus menanggapi tekanan global untuk menurunkan intensitas karbon di sektor minyak dan gas.

Strategi pengurangan emisi perusahaan dibangun di atas empat pilar utama: peningkatan efisiensi energi, pengurangan emisi rutin, pemanfaatan energi terbarukan, serta pengembangan teknologi penangkap dan penyimpanan karbon (CCS/CCUS). Setiap pilar dirancang untuk memberikan kontribusi yang saling melengkapi, memastikan bahwa target 1,6 juta ton CO2e tidak hanya sekadar angka, melainkan hasil nyata dari serangkaian tindakan terukur.

Bacaan Lainnya

Efisiensi Energi

Pertamina Hulu Energi mengintensifkan program audit energi di semua fasilitas produksi, baik di darat maupun lepas pantai. Audit ini mengidentifikasi titik-titik pemborosan energi dan mengusulkan perbaikan operasional, seperti penggantian motor listrik lama dengan versi berteknologi tinggi, optimalisasi sistem kompresor, serta penerapan kontrol otomatis berbasis Internet of Things (IoT). Menurut data internal, langkah-langkah tersebut diproyeksikan dapat menurunkan konsumsi energi hingga 12 persen dalam tiga tahun ke depan.

Pengurangan Emisi Rutin

Pengurangan emisi rutin difokuskan pada minimisasi gas buang yang dihasilkan selama proses produksi, transportasi, dan distribusi. Pendekatan ini mencakup penggunaan bahan bakar rendah sulfur, peningkatan performa pembakaran, serta instalasi sistem pemantauan emisi real‑time yang memungkinkan tim operasional mengambil tindakan korektif seketika. Selain itu, perusahaan memperkenalkan program pelatihan intensif bagi karyawan lapangan untuk menanamkan budaya kerja yang mengutamakan pengendalian emisi.

Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT)

Dalam rangka diversifikasi sumber energi, Pertamina Hulu Energi menambah kapasitas pembangkit listrik berbasis energi surya dan angin di beberapa lokasi strategis. Proyek pilot surya seluas 50 megawatt yang dibangun di wilayah Sumatera Barat telah beroperasi sejak awal 2025, menghasilkan listrik bersih yang cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional lapangan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada diesel. Rencana ke depan mencakup ekspansi total kapasitas EBT hingga 200 megawatt pada akhir 2025.

Pengembangan Teknologi CCS/CCUS

Teknologi penangkap dan penyimpanan karbon (CCS) menjadi elemen kunci dalam strategi jangka panjang perusahaan. Pertamina Hulu Energi telah menjalin kerja sama dengan beberapa institusi penelitian lokal dan internasional untuk menguji pilot plant CCS berkapasitas 500.000 ton CO2 per tahun di kawasan Kalimantan Timur. Proyek ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana reduksi emisi, tetapi juga sebagai laboratorium inovasi bagi teknologi CCUS (Carbon Capture, Utilization, and Storage) yang dapat mengubah CO2 menjadi produk bernilai ekonomi, seperti bahan bakar sintetis atau bahan kimia industri.

Berikut rangkuman target dan inisiatif utama yang dijalankan Pertamina Hulu Energi hingga 2025:

  • Pengurangan intensitas energi operasional sebesar 12% melalui audit dan modernisasi peralatan.
  • Penurunan emisi rutin sebesar 15% lewat optimalisasi pembakaran dan bahan bakar rendah sulfur.
  • Peningkatan kapasitas energi terbarukan hingga 200 MW, mencakup proyek surya dan angin.
  • Implementasi pilot CCS dengan kapasitas penangkapan 500.000 ton CO2/tahun.
  • Pencapaian target total reduksi emisi sebesar 1,6 juta ton CO2e dalam tiga tahun.

Target tersebut sejalan dengan komitmen Indonesia dalam Paris Agreement, yang menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca nasional sebesar 29% hingga 2030. Dengan mengurangi emisi di sektor hulu energi, Pertamina Hulu Energi berkontribusi signifikan terhadap pencapaian target tersebut, sekaligus memperkuat posisi perusahaan sebagai pemimpin transformasi energi hijau di Asia Tenggara.

Namun, upaya pengurangan emisi tidak lepas dari tantangan. Ketersediaan infrastruktur CCS yang masih terbatas, biaya investasi awal untuk energi terbarukan, serta kebutuhan akan regulasi yang mendukung masih menjadi hambatan yang harus diatasi. Untuk itu, perusahaan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah, lembaga keuangan, dan komunitas ilmiah, guna menciptakan ekosistem yang kondusif bagi percepatan transisi energi.

Di samping aspek teknis, Pertamina Hulu Energi juga menaruh perhatian pada dampak sosial‑ekonomi. Program Corporate Social Responsibility (CSR) yang terintegrasi dengan inisiatif hijau mencakup pelatihan keahlian energi bersih bagi masyarakat sekitar lapangan, serta pemberdayaan ekonomi lokal melalui proyek energi terbarukan yang melibatkan UMKM setempat. Dengan pendekatan holistik ini, perusahaan berharap dapat menumbuhkan dukungan publik sekaligus memastikan keberlanjutan sosial dari setiap proyek yang dijalankan.

Secara keseluruhan, strategi pengurangan emisi Pertamina Hulu Energi mencerminkan paradigma baru dalam industri minyak dan gas, dimana pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan tidak lagi dipandang sebagai pilihan melainkan sebagai dua sisi dari satu koin yang sama. Keberhasilan pencapaian target 1,6 juta ton CO2e tidak hanya akan memperkuat reputasi perusahaan, tetapi juga memberikan sinyal positif bagi investor yang semakin menuntut praktik bisnis berkelanjutan.

Ke depan, Pertamina Hulu Energi berkomitmen untuk terus mengukur, melaporkan, dan menyesuaikan strategi reduksi emisinya berdasarkan hasil evaluasi tahunan. Transparansi dan akuntabilitas menjadi landasan utama dalam upaya mengintegrasikan kebijakan iklim ke dalam setiap keputusan bisnis, memastikan bahwa target ambisius 2025 dapat tercapai dengan integritas dan efektivitas.

Pos terkait