Pengusaha Soroti Risiko WFH Seminggu Sekali: Potensi Gangguan Operasional Usaha Harus Diwaspadai

Pengusaha Soroti Risiko WFH Seminggu Sekali: Potensi Gangguan Operasional Usaha Harus Diwaspadai
Pengusaha Soroti Risiko WFH Seminggu Sekali: Potensi Gangguan Operasional Usaha Harus Diwaspadai

123Berita – 04 April 2026 | Seiring dengan meningkatnya tren kerja fleksibel pasca pandemi, sejumlah pelaku usaha di Indonesia mulai menilai kembali kebijakan Work From Home (WFH) yang diusulkan untuk diterapkan satu hari dalam seminggu. Dalam pertemuan internal dan forum bisnis terbaru, para pengusaha menegaskan bahwa penerapan WFH secara kaku tanpa penyesuaian dapat menimbulkan gangguan signifikan pada operasional harian perusahaan, terutama pada sektor yang sangat bergantung pada kehadiran fisik karyawan.

“Kami tidak menolak konsep fleksibilitas kerja, namun implementasinya harus selaras dengan kebutuhan operasional. Jika satu hari kerja dialihkan ke rumah tanpa koordinasi yang jelas, proses produksi, pengiriman, bahkan layanan purna jual dapat terganggu,” ujar Budi Santoso, CEO perusahaan manufaktur otomotif menengah di Jawa Barat. “Kita harus memperhitungkan dampak pada rantai pasokan, penjadwalan mesin, serta kehadiran tim teknis di lapangan. Tanpa pengaturan yang tepat, satu hari WFH dapat menjadi sumber bottleneck yang merugikan seluruh ekosistem bisnis.”

Bacaan Lainnya

Para pengusaha menyoroti tiga area kritis yang paling rentan terhadap gangguan:

  • Rantai Pasok dan Logistik: Kehadiran staf operasional di gudang dan pusat distribusi sangat penting untuk memastikan kelancaran arus barang. Ketidakhadiran dapat menunda proses pengepakan, pemuatan, dan pengiriman.
  • Layanan Pelanggan: Tim support yang bekerja dari rumah seringkali menghadapi kendala jaringan atau keterbatasan akses sistem internal, yang dapat menurunkan kecepatan respon terhadap keluhan konsumen.
  • Produksi dan Pemeliharaan: Pada industri manufaktur, kehadiran teknisi dan operator mesin tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh kerja jarak jauh. Penjadwalan pemeliharaan rutin yang terganggu dapat memicu downtime mesin.

Selain itu, Budi menambahkan, kebijakan WFH yang tidak fleksibel dapat menimbulkan ketidaksetaraan antar departemen. “Jika tim pemasaran dapat bekerja dari rumah sementara tim produksi harus tetap di pabrik, hal ini menciptakan persepsi ketidakadilan yang dapat menurunkan morale karyawan,” ujarnya.

Para ahli sumber daya manusia (SDM) memberikan beberapa rekomendasi untuk mengoptimalkan kebijakan WFH satu hari dalam seminggu:

  1. Analisis Beban Kerja: Identifikasi fungsi-fungsi yang memang dapat dilakukan secara remote tanpa mengorbankan kualitas atau kecepatan kerja.
  2. Penjadwalan Rotasi: Terapkan sistem rotasi hari kerja dari rumah sehingga tidak semua karyawan berada di luar kantor pada hari bersamaan, menjaga kontinuitas operasional.
  3. Penggunaan Teknologi Kolaborasi: Pastikan semua tim memiliki akses ke platform kolaborasi yang aman, serta infrastruktur jaringan yang memadai.
  4. Monitoring dan Evaluasi: Lakukan evaluasi bulanan terhadap produktivitas, kepuasan karyawan, dan dampak operasional untuk menyesuaikan kebijakan secara dinamis.

Studi kasus dari sebuah perusahaan logistik di Surabaya yang telah menerapkan WFH satu hari per minggu sejak awal 2024 menunjukkan bahwa dengan rotasi tim dan pemanfaatan sistem manajemen gudang berbasis cloud, mereka berhasil mempertahankan tingkat layanan tetap di atas 95 persen. Namun, perusahaan tersebut mengakui bahwa keberhasilan tersebut didukung oleh investasi awal pada infrastruktur TI dan pelatihan intensif bagi karyawan.

Di sisi lain, sektor ritel dan layanan makanan cepat saji masih menghadapi tantangan besar. Karena interaksi langsung dengan konsumen tidak dapat digantikan, sebagian besar karyawan front‑line tetap harus berada di lokasi. Oleh karena itu, para pengusaha menyarankan agar kebijakan WFH di sektor ini difokuskan pada fungsi back‑office, seperti administrasi, keuangan, dan pemasaran.

Dalam diskusi publik yang diadakan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) pada pekan lalu, sejumlah anggota menyepakati pentingnya pendekatan yang bersifat “fleksibel namun terukur”. Mereka menekankan bahwa keputusan harus didasarkan pada data operasional dan bukan sekadar tren global.

Kesimpulannya, meski WFH sekali seminggu menawarkan potensi peningkatan keseimbangan kerja‑hidup bagi karyawan, pelaku usaha menegaskan bahwa pelaksanaannya harus disertai dengan perencanaan yang matang, dukungan teknologi, serta evaluasi berkelanjutan. Hanya dengan pendekatan yang holistik, risiko gangguan operasional dapat diminimalkan sekaligus tetap menjaga produktivitas dan kepuasan pelanggan.

Pos terkait