123Berita – 04 April 2026 | Masjid Istiqlal pada Jumat, 3 April 2026, menjadi panggung pertemuan unik antara kecanggihan neurosains Turki dan spiritualitas Islam Indonesia. Rektor Üsküdar University sekaligus psikiater ternama dunia, Prof. Dr. Nevzat Tarhan, menyampaikan public talk berjudul “Between Brain and Soul: A Psychiatrist’s Perspective on Tasawuf and Mental Health”. Acara yang diselenggarakan oleh Edutolia Education dan Üsküdar University ini mendapat dukungan penuh dari Metro TV serta Medcom.id.
Dalam pembukaannya, Prof. Nevzat menegaskan bahwa kesehatan jiwa tidak dapat dipisahkan dari kualitas keimanan. Ia memaparkan dua konsep iman yang ia gunakan sebagai landasan terapi mental modern. Pertama, Iman Tahqiqi atau Iman Haqiqi, yakni keyakinan yang dibangun atas dasar riset, pencarian kebenaran, dan pemahaman mendalam. Menurutnya, jenis iman inilah yang menjadi perisai utama bagi manusia modern dalam menghadapi tekanan hidup yang semakin kompleks. Kedua, Iman Taqlidi, yang bersifat tradisional atau sekadar diwariskan tanpa proses pencarian kritis, dianggap kurang mampu memberikan ketenangan batin yang hakiki.
Prof. Nevzat mengilustrasikan kekuatan Iman Tahqiqi dengan analogi penerbangan: “Orang yang hatinya selalu ‘terhubung’ atau online dengan Allah, akan memiliki ketenangan luar biasa, seperti penumpang yang percaya penuh pada kapten pesawatnya.” Pernyataan ini menggugah para hadirin, terutama kalangan akademisi dan praktisi kesehatan mental yang tengah mencari cara mengintegrasikan dimensi spiritual ke dalam praktik klinis.
Selanjutnya, Nevzat menyoroti fenomena gangguan mental yang semakin meluas, khususnya depresi. Ia menegaskan bahwa depresi merupakan penyakit biologis yang melibatkan ketidakseimbangan kimiawi di otak, seperti penurunan kadar serotonin dan dopamin. Menurutnya, penanganan harus dimulai dengan memperbaiki kimia otak melalui intervensi medis—obat antidepresan, terapi elektrokonvulsif, atau pendekatan biologis lainnya—sebelum menambahkan lapisan terapi spiritual. “Keseimbangan biologis harus tercapai terlebih dahulu, kemudian penguatan spiritual berbasis keyakinan dapat berfungsi sebagai akselerator penyembuhan,” ujarnya.
Prof. Nevzat tidak hanya berbicara sebagai akademisi, tetapi juga sebagai pionir dalam dunia kedokteran jiwa global. Ia mendirikan Üsküdar University pada 2011, institusi pertama di Turki yang menitikberatkan pada kesehatan dan neuroscience. Di panggung internasional, ia menjabat sebagai Presiden Asosiasi Neuro-Psikiatri Turki-Amerika dan berkolaborasi erat dengan Asosiasi Psikiatri Amerika. Salah satu karyanya yang paling terkenal, “Rumi Therapy”, telah terjual lebih dari satu juta kopi di seluruh dunia. Buku tersebut menyajikan ajaran Jalaluddin Rumi sebagai metode terapi klinis yang dapat mengatasi krisis mental modern.
Acara di Istiqlal juga menandai langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi akademik antara Turki dan Indonesia. Üsküdar University baru saja menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universitas Paramadina, serta membuka kantor perwakilan di Indonesia melalui Edutolia Education. Kedua inisiatif ini bertujuan memfasilitasi riset bersama di bidang neurosains, memperluas jaringan pertukaran pengetahuan, dan menciptakan generasi profesional yang menguasai ilmu pengetahuan sekaligus memiliki ketahanan mental berbasis spiritualitas.
Berikut rangkuman utama dari pemaparan Prof. Nevzat:
- Iman Tahqiqi vs Iman Taqlidi: Iman yang dibangun atas riset memberikan perlindungan mental yang lebih kuat dibandingkan iman yang bersifat warisan.
- Depresi sebagai penyakit biologis: Penurunan serotonin dan dopamin menjadi target utama terapi medis.
- Model terapi berlapis: Stabilitas kimia otak diutamakan, kemudian diikuti oleh terapi spiritual berbasis keyakinan.
- Rumi Therapy: Pendekatan terapeutik yang mengintegrasikan ajaran sufi ke dalam praktik klinis.
- Kolaborasi akademik Indo‑Turki: MoU dengan Paramadina dan pembukaan kantor Edutolia menjadi fondasi riset bersama.
Dengan menggabungkan ilmu neurosains modern dan kebijaksanaan tasawuf, Prof. Nevzat Tarhan membuka wacana baru tentang bagaimana keduanya dapat bersinergi untuk meningkatkan kualitas kesehatan mental masyarakat. Pendekatan integratif ini diharapkan tidak hanya membantu individu yang mengalami gangguan mental, tetapi juga membangun budaya mental yang lebih tangguh, berakar pada keimanan yang dipahami secara kritis.
Kesimpulannya, pertemuan di Masjid Istiqlal menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan spiritualitas tidak harus berada dalam kutub yang berlawanan. Sebaliknya, keduanya dapat saling melengkapi dalam menciptakan kesejahteraan jiwa. Jika implementasi model terapi berlapis ini berhasil, Indonesia dapat menjadi contoh regional dalam menggabungkan tradisi keagamaan dengan standar klinis internasional, menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus kuat secara mental.