Menyelami Masa Kelam Ammar Zoni: Perjuangan Keluar dari Jerat Narkoba dan Titik Terendah dalam Hidup

Menyelami Masa Kelam Ammar Zoni: Perjuangan Keluar dari Jerat Narkoba dan Titik Terendah dalam Hidup
Menyelami Masa Kelam Ammar Zoni: Perjuangan Keluar dari Jerat Narkoba dan Titik Terendah dalam Hidup

123Berita – 03 April 2026 | Ammar Zoni, aktor muda yang dikenal lewat peran-perannya di sinetron dan film Indonesia, baru-baru ini mengungkapkan sisi gelap kehidupannya yang jarang terdengar publik. Dalam sebuah wawancara eksklusif, ia membuka lembaran kelam yang melibatkan kebiasaan mengonsumsi narkoba sejak masa remaja, hingga titik terendah yang hampir menghancurkan karier serta kehidupan pribadinya.

Setelah percobaan pertama, Ammar mengaku konsumsi narkoba menjadi semakin rutin. Ia menyebutkan penggunaan jenis narkoba yang paling umum di kalangan remaja, yaitu sabu-sabu (metamfetamin) dan ganja. Kebiasaan tersebut tidak hanya mengganggu proses belajarnya, tetapi juga menurunkan motivasi untuk berprestasi. Nilai rapor menurun drastis, dan hubungannya dengan orang tua menjadi tegang.

Bacaan Lainnya

Masuk ke dunia hiburan pada usia 20-an, Ammar sempat merasakan peluang besar untuk memperbaiki citra diri. Namun, tekanan industri hiburan yang menuntut penampilan sempurna dan jadwal kerja yang padat justru menambah beban mentalnya. “Setiap kali ada tekanan atau kegagalan, saya kembali ke narkoba sebagai pelarian,” kata Ammar. Ia menuturkan bahwa pada puncak kariernya, ia masih menyembunyikan kebiasaan tersebut dari rekan kerja dan manajer, berusaha menutup-nutupi masalah yang semakin menggerogoti kesehatan fisik dan mentalnya.

Situasi memuncak ketika Ammar mengalami apa yang ia sebut “titik terendah dalam hidupnya.” Pada suatu malam, setelah mengonsumsi narkoba berulang kali, ia mengalami serangan panik berat dan hampir kehilangan nyawa akibat overdosis. Ia terpaksa dilarikan ke rumah sakit oleh seorang teman dekat yang menemukan dirinya tak sadarkan diri. “Itu adalah momen ketika saya sadar, saya berada di ambang jurang yang tidak ada jalan kembali,” ungkapnya dengan mata berkaca.

Beruntung, intervensi medis menyelamatkannya, namun efek psikologisnya masih terasa lama. Ammar memutuskan untuk menjalani rehabilitasi secara intensif di sebuah klinik khusus. Selama tiga bulan, ia menjalani terapi detoxifikasi, konseling psikologis, serta program pendidikan tentang bahaya narkoba. Ia menegaskan bahwa proses pemulihan tidaklah instan; banyak hari yang diisi dengan rasa putus asa dan godaan kembali ke kebiasaan lama.

Berikut rangkaian langkah utama yang dijalani Ammar dalam proses pemulihan:

  • Detoksifikasi medis selama 7 hari pertama untuk menghilangkan zat kimia dalam tubuh.
  • Sesi konseling individu dan kelompok untuk mengidentifikasi pemicu emosional.
  • Pelatihan keterampilan hidup, termasuk manajemen stres dan pengembangan hobi positif.
  • Dukungan keluarga dan teman dekat yang secara konsisten memberikan motivasi.
  • Monitoring pasca rehabilitasi selama 6 bulan untuk mencegah relaps.

Setelah keluar dari rehabilitasi, Ammar memutuskan untuk berbagi kisahnya secara terbuka, tidak hanya sebagai bentuk penebusan diri, tetapi juga sebagai peringatan bagi generasi muda. Ia kini aktif dalam kampanye anti-narkoba, berkolaborasi dengan lembaga sosial dan pemerintah setempat untuk menyebarkan edukasi tentang bahaya penyalahgunaan zat.

Selain itu, Ammar juga memanfaatkan platform media sosial untuk menulis artikel pendek dan video pendek yang mengisahkan perjalanan pemulihannya. Respon publik ternyata positif; banyak netizen yang mengapresiasi keberanian ia mengakui kesalahan dan menginspirasi orang lain untuk berani berubah.

Kehidupan pribadi Ammar kini berada pada jalur yang lebih stabil. Ia kembali berakting, namun dengan pilihan peran yang lebih selektif, menghindari skema kerja yang berpotensi menimbulkan stres berlebih. Ia juga meluangkan waktu untuk beribadah dan menjalani hobi seperti menulis puisi, yang menjadi outlet emosional yang sehat.

Kesimpulannya, perjalanan Ammar Zoni dari masa kelam narkoba hingga titik terendah dalam hidupnya menjadi contoh nyata bagaimana tekanan sosial dan industri hiburan dapat memicu perilaku destruktif. Namun, dengan dukungan tepat, kesadaran diri, dan komitmen kuat, pemulihan bukanlah hal yang mustahil. Kisahnya mengingatkan publik bahwa di balik sorotan gemerlap dunia hiburan, terdapat manusia dengan perjuangan pribadi yang membutuhkan empati serta dukungan nyata.

Pos terkait