123Berita – 08 April 2026 | Fenomena mengemudi sambil menonton atau membuat video TikTok kini menjadi sorotan utama dalam wacana keselamatan berkendara, khususnya di kalangan generasi muda. Praktik ini tak hanya menambah angka distraksi di jalan, melainkan juga meningkatkan risiko kecelakaan yang dapat berakibat fatal. Sejumlah laporan menunjukkan peningkatan signifikan penggunaan smartphone saat mengemudi, terutama untuk merekam konten yang diunggah ke platform media sosial populer.
Data yang dihimpun oleh lembaga keselamatan jalan menunjukkan bahwa pengemudi yang menggunakan ponsel secara aktif selama mengemudi memiliki peluang tiga kali lebih besar mengalami kecelakaan dibandingkan yang tidak. Hal ini sejalan dengan temuan internasional yang menegaskan bahwa aktivitas media sosial di dalam kendaraan merupakan penyebab utama kecelakaan ringan hingga berat.
- Menonton video: mengalihkan fokus visual selama 2-3 detik dapat mengurangi jarak reaksi hingga 50%.
- Mengedit atau menambahkan caption: meningkatkan beban kognitif sehingga menurunkan konsentrasi.
- Merekam diri sendiri: mengharuskan posisi tubuh tidak ideal, mengganggu kontrol pedal dan setir.
Pengamat transportasi menilai bahwa selain faktor usia, budaya digital yang serba cepat turut memperparah situasi. Di era di mana setiap momen dianggap layak diabadikan, tekanan sosial untuk menghasilkan konten menarik mendorong sebagian pemuda mengorbankan keselamatan pribadi dan orang lain. Fenomena ini juga menimbulkan dilema moral bagi orang tua dan pendidik yang harus menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan tanggung jawab sosial.
Berbagai pihak telah mengusulkan langkah mitigasi. Polisi lalu lintas di beberapa kota besar mulai menegakkan sanksi administratif bagi pengemudi yang terbukti menggunakan ponsel saat mengemudi, termasuk denda dan pencabutan poin SIM. Sementara itu, kampanye edukasi melalui media sosial mencoba menyampaikan pesan “Tidak Ada Konten yang Lebih Penting Daripada Nyawa” dengan menggandeng influencer yang memiliki basis pengikut remaja.
Di sisi lain, produsen kendaraan mulai melengkapi mobil dengan fitur anti-distraksi, seperti sistem pemblokiran notifikasi saat kendaraan bergerak, serta peringatan suara ketika ponsel terdeteksi aktif. Teknologi ini diharapkan dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan, meski tetap mengandalkan kesadaran pribadi pengguna.
Meski upaya-upaya tersebut sudah berjalan, tantangan utama tetap pada perubahan perilaku. Penelitian psikologis menunjukkan bahwa kebiasaan digital yang mengakar sulit diubah tanpa intervensi berkelanjutan. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektoral—antara pemerintah, industri otomotif, platform digital, dan komunitas pendidikan—diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang menurunkan insiden mengemudi sambil TikTok.
Kesimpulannya, kebiasaan baru mengemudi sambil membuat atau menonton TikTok menimbulkan ancaman serius bagi keselamatan jalan raya di Indonesia. Dengan meningkatkan kesadaran, menegakkan regulasi, dan memanfaatkan teknologi pencegahan, diharapkan generasi muda dapat kembali memprioritaskan fokus pada jalan, mengurangi distraksi, dan menjaga nyawa mereka serta pengguna jalan lainnya.