123Berita – 05 April 2026 | Obsessive‑Compulsive Disorder (OCD) pada remaja kini menjadi salah satu tantangan kesehatan mental yang kerap menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi orang tua. Seorang ibu mengungkapkan bahwa gejala OCD pada putrinya yang berusia 15 tahun semakin memburuk, memicu pertanyaan tentang langkah apa yang seharusnya diambil. Situasi semacam ini tidak hanya memengaruhi keseharian sang remaja, tetapi juga menimbulkan tekanan emosional pada seluruh keluarga.
OCD merupakan gangguan kecemasan yang ditandai oleh obsesi—pikiran, gambar, atau impuls yang tidak diinginkan dan berulang—serta kompulsif—perilaku atau ritual yang dilakukan untuk meredakan kecemasan. Pada remaja, obsesi dapat muncul dalam bentuk ketakutan berlebihan akan kebersihan, kebutuhan untuk menyusun barang secara simetris, atau keraguan yang terus‑menerus tentang keputusan sehari‑hari. Kompulsifnya, misalnya, bisa berupa mencuci tangan berulang kali, memeriksa pintu berulang, atau menulis ulang tugas sekolah berkali‑kali. Jika tidak ditangani, OCD dapat mengganggu prestasi akademik, hubungan sosial, dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Dalam sesi tanya‑jawab dengan Annalisa Barbieri, seorang psikolog klinis yang berpengalaman dalam menangani gangguan kecemasan pada anak dan remaja, ditegaskan bahwa deteksi dini menjadi kunci utama. “Orang tua harus memperhatikan perubahan pola perilaku yang konsisten dan tidak sekadar menganggapnya sebagai fase biasa,” ujar Barbieri. Ia menekankan pentingnya melakukan evaluasi menyeluruh melalui psikolog atau psikiater yang berkompeten, guna menyingkirkan kemungkinan kondisi medis lain dan menentukan tingkat keparahan OCD.
Barbieri menjelaskan tiga pilar utama dalam penanganan OCD pada remaja: terapi perilaku kognitif (CBT) dengan pendekatan exposure and response prevention (ERP), penggunaan obat‑obatan bila diperlukan, serta dukungan lingkungan yang konsisten. CBT‑ERP melibatkan paparan bertahap terhadap pemicu obsesi sambil menahan perilaku kompulsif, sehingga otak belajar bahwa kecemasan dapat berkurang tanpa ritual berulang. Pada kasus yang lebih berat, dokter dapat meresepkan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) untuk menyeimbangkan neurotransmiter yang terkait dengan kecemasan.
Peran orang tua dalam proses ini tidak kalah penting. Barbieri menyarankan beberapa langkah praktis yang dapat diimplementasikan di rumah:
- Mengatur jadwal harian yang terstruktur namun fleksibel, sehingga remaja memiliki rasa kontrol tanpa harus mengandalkan ritual berlebih.
- Menghindari perilaku mengakomodasi kompulsif, misalnya tidak membiarkan anak mencuci tangan berulang kali hanya untuk mengurangi kecemasan orang tua.
- Mendorong komunikasi terbuka tentang perasaan dan ketakutan, tanpa menghakimi atau memperkecil pengalaman mereka.
- Memberikan pujian atas upaya menghadapi situasi menantang, bukan hanya hasil akhir.
Kolaborasi dengan pihak sekolah juga menjadi aspek krusial. Orang tua disarankan untuk memberitahukan guru atau konselor tentang diagnosis OCD, sehingga dapat disediakan penyesuaian seperti tambahan waktu ujian atau ruang belajar yang minim gangguan. Sekolah dapat membantu dengan mengedukasi staf tentang tanda‑tanda OCD, sehingga intervensi dini dapat diberikan sebelum masalah akademik atau sosial berkembang.
Di samping terapi profesional, remaja dapat dilatih untuk menerapkan strategi mandiri yang memperkuat kemampuan regulasi diri. Teknik-teknik seperti journaling untuk mencatat pikiran obsesif, latihan pernapasan dalam, serta praktik mindfulness dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan. Barbieri menekankan pentingnya eksposur bertahap yang diawasi: mulai dari situasi yang menimbulkan kecemasan ringan, kemudian secara bertahap meningkatkan intensitasnya seiring kemajuan. Pendekatan ini harus dilakukan dengan dukungan penuh, menghindari tekanan berlebihan yang justru dapat memperparah gejala.
Kesimpulannya, mengatasi OCD pada remaja menuntut sinergi antara penanganan klinis, dukungan keluarga, dan lingkungan sekolah. Deteksi dini, terapi CBT‑ERP, serta, bila diperlukan, intervensi farmakologis, menjadi fondasi utama. Orang tua berperan sebagai katalisator perubahan dengan menciptakan lingkungan yang aman, konsisten, dan mendukung upaya eksposur. Dengan pendekatan holistik, remaja dapat belajar mengelola obsesi dan kompulsinya, sehingga kualitas hidup mereka kembali meningkat secara signifikan.