123Berita – 09 April 2026 | Jakarta, 8 April 2026 – DJ asal Italia yang dikenal dengan nama panggung Anyma (Matteo Milleri) resmi meluncurkan kolaborasi terbarunya bersama anggota paling populer BLACKPINK, Lisa. Lagu berjudul “Bad Angel” dirilis pada pukul 22.00 WIB dan langsung menyedot perhatian penggemar K‑Pop serta penikmat musik elektronik di seluruh dunia.
“Bad Angel” merupakan hasil kerja sama intensif antara Lisa, Anyma, serta sejumlah produser ternama seperti BURNS, Roget Chahayed, Nija Charles, Johannes Klahr, dan Michael Tucker. Kombinasi keahlian produksi musik EDM dengan vokal khas Lisa menghasilkan sebuah trek yang menonjolkan dualitas antara keanggunan surgawi dan sisi gelap yang menantang norma. Secara konseptual, lagu ini menampilkan metafora “Malaikat Buruk” – sosok yang tampak suci namun memiliki otoritas, ambisi, dan keberanian untuk melanggar batasan tradisional.
Makna lirik “Bad Angel” mengusung tema ambivalensi kuat. Pada bagian intro, Lisa menyatakan dirinya “too bad for an angel”, sebuah pernyataan bahwa ia menyadari keberadaannya yang sekaligus menawan dan berbahaya. Selanjutnya, verse pertama menyoroti kontrol visual dan magnetisme yang dimilikinya, menggambarkan bagaimana ia dapat “walk on water” tanpa cela, sekaligus memerintah situasi dengan satu kata. Lirik ini menegaskan posisi Lisa sebagai figur yang menguasai narasi dan menolak peran pasif.
Pre‑chorus menambahkan lapisan emosional dengan menegaskan bahwa “pretty hurts” – kecantikan menjadi sumber rasa sakit, sekaligus menjadi senjata. Frasa “If looks kill, then I go bang” menegaskan kekuatan tatapan mata yang dapat melumpuhkan lawan. Dalam chorus, pengulangan “I’m pretty, pretty bad for an angel” menjadi mantra yang menegaskan identitas ganda, menggabungkan keindahan dan pemberontakan.
Bagian verse kedua menyoroti tema materialisme dan ambisi. Lisa menyanyikan tentang menghitung keuntungan, memicu konflik, namun tetap menegaskan bahwa tindakan tersebut “worth it”. Ia menawarkan hati kepada pendengar, sekaligus mengancam akan membakar hati tersebut jika tidak layak. Lirik ini mencerminkan sikap independen, di mana kontrol atas emosi dan hubungan berada di tangan sang penyanyi.
Terjemahan bahasa Indonesia yang disediakan menyesuaikan nuansa liris, meski beberapa istilah tetap dipertahankan dalam bahasa Inggris untuk menjaga ritme. Pada intro, terjemahan menafsirkan “too bad for an angel” menjadi “terlalu nakal untuk sosok malaikat”, menyoroti kontras antara kemurnian dan kenakalan. Setiap bait diterjemahkan secara bebas, namun tetap mempertahankan arti utama, seperti “Membuat mereka terpana” dan “Aku adalah alasanmu hidup, alasanmu bernapas”.
Dari sudut pandang produksi, “Bad Angel” menampilkan synth yang berat, bass yang menghentak, serta beat drop yang khas EDM. Penggunaan vocal chop pada chorus memperkuat kesan futuristik, sementara elemen K‑Pop tetap terasa lewat melodi vokal Lisa yang memikat. Kombinasi tersebut menjadikan lagu ini cocok untuk diputar di klub malam, festival musik, maupun platform streaming.
Pengaruh kolaborasi ini tidak hanya terbatas pada aspek musik. Kehadiran Lisa sebagai artis K‑Pop yang menembus genre EDM menandai tren lintas genre yang semakin marak di industri global. Sementara Anyma, yang sebelumnya dikenal lewat produksi techno dan house, kini merambah pasar Asia dengan mengangkat ikon K‑Pop ke dalam proyeknya. Langkah ini memperluas basis pendengar kedua belah pihak dan membuka peluang kolaborasi serupa di masa depan.
Reaksi penggemar pun terlihat signifikan. Di media sosial, hashtag #BadAngel trended di Indonesia, Korea, dan Italia dalam hitungan jam pertama setelah peluncuran. Penggemar menilai bahwa liriknya memberikan pesan empowerment, terutama bagi perempuan yang ingin mengekspresikan dualitas diri tanpa rasa bersalah. Kritikus musik menilai bahwa “Bad Angel” berhasil menyatukan kekuatan visual Lisa dengan produksi Anyma yang inovatif, menciptakan karya yang terasa segar namun tetap komersial.
Secara keseluruhan, “Bad Angel” bukan sekadar lagu kolaborasi, melainkan sebuah pernyataan artistik tentang kebebasan berekspresi di atas dualitas baik dan buruk. Dengan lirik yang provokatif, produksi yang kuat, serta penerimaan publik yang positif, trek ini diprediksi akan menjadi salah satu hit utama tahun 2026 dalam genre EDM‑K‑Pop. Kedepannya, kolaborasi lintas genre semacam ini dapat menjadi model bagi artis yang ingin menjembatani pasar musik yang berbeda, sekaligus memberikan ruang bagi kreativitas yang lebih luas.





