123Berita – 08 April 2026 | Tim ganda Indonesia, Febriana Dwipuji Kusuma dan Meilysa Trias Puspitasari, yang berkompetisi pada Badminton Asia Championships 2026 (BAC 2026) di Ningbo, harus menerima kepahitan setelah terhenti di putaran pertama. Pasangan asal Indonesia itu kalah dua game berurutan melawan wakil Tiongkok, Liu Sheng Shu dan Tan Ning, dengan skor 11-21 dan 19-21.
Awal pertandingan menunjukkan dominasi lawan. Liu Sheng Shu/Tan Ning memanfaatkan kecepatan dan kekuatan servis mereka, membuat pasangan Indonesia terpaksa bermain dalam tekanan. Febriana dan Trias mengakui bahwa strategi mereka tidak berjalan sesuai rencana karena terlalu terburu‑buruan dalam mengeksekusi pukulan.
“Di game pertama kami terlalu terburu‑buruan dalam memukul bola, sehingga lawan dapat mengendalikan tempo permainan dengan lebih baik,” ujar Meilysa Trias Puspitasari setelah pertandingan. “Mereka memiliki keunggulan dalam power dan speed, sementara kami belum dapat menyesuaikan ritme.
Febriana menambahkan, “Kami memang sudah menyiapkan taktik sebelumnya, namun karena terlalu tergesa‑gesa, bola tidak tepat sasaran, sehingga memberi ruang bagi lawan untuk menguasai rally.”
Pindah ke game kedua, pasangan Indonesia berusaha mengubah pendekatan. Mereka mencoba tidak sekadar meniru pola permainan lawan, melainkan mengombinasikan serangan cepat dan perlambatan untuk mengacaukan ritme Liu/Sheng Shu. Meskipun begitu, usaha tersebut belum cukup untuk membalikkan keadaan.
“Pada game kedua, kami mencoba variasi tempo, kadang cepat, kadang lambat, namun masih belum berhasil menembus pertahanan lawan,” kata Febriana. “Kami sempat memberikan perlawanan, namun pada akhirnya mereka tetap menutup dengan skor 19-21.
Kekalahan ini menjadi pelajaran berharga bagi ganda wanita Indonesia. Kedua pemain menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh menjelang turnamen berikutnya. Mereka bertekad untuk meningkatkan kesabaran dalam membaca pergerakan lawan dan menunggu momen tepat untuk menyerang.
“Evaluasi ke depan, kami harus lebih sabar dan tidak terburu‑buruan. Kami perlu mengamati bagaimana lawan mengembalikan bola, kemudian menyesuaikan taktik kami,” ujar Meilysa. “Dengan peningkatan konsentrasi dan pengendalian tempo, kami yakin dapat kembali bersaing di level tertinggi.
Turnamen BAC 2026 sendiri menyajikan persaingan ketat antar negara Asia, dengan banyak pasangan unggulan berusaha mengukir prestasi. Kegagalan Ana/Trias menegaskan bahwa persaingan di kancah internasional menuntut kesiapan mental dan teknis yang tinggi.
Para penggemar bulu tangkis Indonesia tetap memberikan dukungan kepada Febriana dan Trias, mengingat potensi yang dimiliki kedua atlet. Ke depan, mereka diharapkan dapat menyesuaikan strategi, meningkatkan koordinasi, serta mengasah kecepatan dan kekuatan pukulan agar dapat bersaing kembali di babak selanjutnya pada turnamen-turnamen mendatang.
Dengan tekad kuat dan dukungan tim pelatih, diharapkan pasangan ganda wanita Indonesia dapat bangkit kembali, menatap peluang emas di kompetisi selanjutnya, dan membawa kebanggaan bagi tanah air.





