123Berita – 05 April 2026 | Kalibata, sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai kompleks apartemen dan perumahan elit di Jakarta Selatan, menyimpan sebuah cerita yang jarang terungkap dalam narasi perkotaan modern. Sebelum menjadi simbol gaya hidup metropolitan, daerah ini pernah menjadi tulang punggung industri sepatu Indonesia pada era pertengahan abad ke‑20. Keberadaan pabrik‑pabrik sepatu di Kalibata tidak hanya memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, tetapi juga menumbuhkan budaya kerja yang kuat di kalangan penduduk setempat.
Awal mula industri sepatu di Kalibata dapat ditelusuri kembali ke akhir 1940‑an, ketika sekelompok pengusaha lokal memanfaatkan lahan luas yang tersedia serta kedekatannya dengan jalur transportasi darat dan laut. Pada masa itu, pemerintah Indonesia tengah mendorong program industrialisasi untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Kalibata menjadi lokasi strategis karena tanahnya yang relatif datar, akses mudah ke pelabuhan Tanjung Priok, serta kedekatan dengan pusat distribusi di Jakarta. Sejumlah pabrik kecil kemudian berkembang menjadi pabrik menengah dengan kapasitas produksi ratusan pasang sepatu per hari.
Puncak kejayaan industri sepatu di Kalibata terjadi pada dekade 1970‑an hingga awal 1980‑an. Pada periode ini, Kalibata menyumbang hampir 15 % dari total produksi sepatu dalam negeri. Produk‑produk yang dihasilkan meliputi sepatu kerja, sandal, hingga sepatu olahraga, yang dipasarkan tidak hanya di pasar lokal tetapi juga diekspor ke negara‑negara Asia Tenggara. Pabrik‑pabrik tersebut tidak beroperasi secara terisolasi; mereka membentuk jaringan pemasok bahan baku, toko ritel, serta sekolah pelatihan bagi tenaga kerja. Hal ini menciptakan ekosistem industri yang memberi lapangan kerja bagi ribuan warga, terutama perempuan yang menjadi mayoritas tenaga kerja di bagian penjahitan dan perakitan.
Namun, transformasi urbanisasi pada akhir 1980‑an mulai menggoyahkan fondasi industri tersebut. Pemerintah kota Jakarta mengimplementasikan rencana pembangunan perumahan yang masif untuk menampung pertumbuhan penduduk. Lahan‑lahan industri yang dulunya luas perlahan direklasifikasi menjadi zona residensial. Selain itu, persaingan global yang semakin ketat, terutama dari produsen sepatu murah di China dan Vietnam, membuat margin keuntungan pabrik‑pabrik Kalibata menurun drastis. Banyak pemilik usaha terpaksa menutup operasional atau memindahkan produksi ke luar kota, meninggalkan bangunan‑bangunan pabrik yang kini beralih fungsi menjadi gudang atau bahkan terbengkalai.
Meskipun jejak fisik pabrik‑pabrik tersebut semakin memudar, ingatan kolektif masyarakat Kalibata tetap menyimpan kisah tentang masa kejayaan industri sepatu. Para pensiunan pekerja masih mengingat dengan bangga proses pembuatan sepatu tradisional, teknik menjahit yang teliti, serta rasa kebersamaan yang terjalin di antara rekan kerja. Beberapa komunitas lokal bahkan mengadakan pameran kecil dan lokakarya untuk menghidupkan kembali keterampilan pembuatan sepatu sebagai warisan budaya, sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda akan nilai historis kawasan mereka.
Sekarang, Kalibata dikenal dengan menara‑menara apartemen megah, pusat perbelanjaan modern, dan fasilitas pendidikan yang lengkap. Namun, di balik siluet gedung‑gedung tinggi, masih tersisa jejak‑jejak kecil berupa nama jalan yang mengacu pada masa industri, seperti Jalan Sepatu dan Jalan Industri, yang menjadi pengingat bisu akan masa lalu. Pemerintah daerah bersama pengembang properti telah mengusulkan program revitalisasi yang mencakup pembuatan museum mini tentang industri sepatu, dengan tujuan tidak hanya melestarikan sejarah tetapi juga menarik minat wisatawan budaya.
Kesimpulannya, perjalanan Kalibata dari pusat produksi sepatu menjadi kawasan hunian elit mencerminkan dinamika perubahan ekonomi, sosial, dan tata ruang perkotaan Indonesia. Memahami dan mengapresiasi warisan industri ini bukan sekadar nostalgia, melainkan langkah penting untuk menumbuhkan identitas lokal yang kuat di tengah arus modernisasi. Upaya pelestarian melalui edukasi, pameran, dan pengembangan ruang memori dapat memastikan bahwa kisah Kalibata tidak hilang, melainkan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang dalam membangun masa depan yang berakar pada sejarah.