123Berita – 09 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Sutradara sekaligus penulis skenario Joko Anwar memberikan penjelasan mendalam tentang simbolisme hantu yang muncul dalam film terbarunya, Ghost In the Cell. Dalam wawancara yang dilakukan di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, sang pembuat film menekankan bahwa hantu dalam cerita bukan sekadar elemen supranatural, melainkan cerminan ketidaktahuan manusia terhadap hal‑hal yang tak dapat dijelaskan.
Joko menggambarkan fenomena tersebut sebagai sebuah sindiran halus terhadap cara pemerintah memandang warga yang dianggap tidak dapat dipahami atau bahkan mengancam kestabilan sistem. “Sama halnya kayak pemerintah mungkin nggak paham sama rakyat, mereka anggap rakyat sebagai ancaman,” jelasnya. Dengan analogi tersebut, hantu dalam Ghost In the Cell menjadi metafora visual bagi rasa takut dan stereotip yang melekat pada kelompok yang dianggap “lain”.
Poster film juga menyiratkan pesan tersebut. Pada poster utama, terlihat aktor Aming memerankan karakter bernama Tokek. “Makanya posternya, kalau teman‑teman lihat poster Aming yang Tokek itu, Tokek is the hantu. Tapi di dalamnya kan ada kita, gitu kan,” kata Joko. Ia menegaskan bahwa sosok Tokek melambangkan hantu, namun sekaligus menampilkan refleksi diri masyarakat yang berada dalam “sistem yang sakit”.
Dalam penjelasannya, Joko menambahkan bahwa hantu adalah manifestasi energi negatif yang ada dalam diri manusia ketika berada pada kondisi terburuk. “Hantu adalah kita, in our worst state, gitu. Dalam kondisi terburuk kita ketika kita sangat negatif, kita hopeless, kita korup, that’s our ghost,” tuturnya. Dengan kata lain, hantu bukan sekadar makhluk gaib, melainkan gambaran visual dari sisi gelap jiwa manusia yang terperangkap dalam korupsi, keputusasaan, dan kepasifan.
Ghost In the Cell sendiri merupakan film horor‑thriller yang berlatar penjara Lapas Labuhan Angsana. Cerita dimulai ketika seorang narapidana baru membawa entitas misterius ke dalam sel, memicu teror yang memaksa para napi dan petugas korup untuk bersatu melawan ancaman tak kasat mata. Film ini menampilkan deretan aktor papan atas, antara lain Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, dan Arswendy Bening Swara.
- Abimana Aryasatya
- Bront Palarae
- Danang Suryonegoro
- Endy Arfian
- Lukman Sardi
- Mike Lucock
- Yoga Pratama
- Morgan Oey
- Aming
- Kiki Narendra
- Rio Dewanto
- Tora Sudiro
- Almanzo Konoralma
- Haydar Salishz
- Arswendy Bening Swara
Film ini dijadwalkan tayang secara serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 16 April 2026. Penayangan berskala internasional juga telah dipastikan, dengan rencana distribusi ke 86 negara, menandakan ambisi Joko Anwar untuk menembus pasar global dengan tema yang bersifat universal.
Secara tematik, Ghost In the Cell menyentuh isu-isu sosial yang relevan, seperti ketimpangan kekuasaan, korupsi institusional, dan kegagalan sistem peradilan. Dengan menempatkan hantu sebagai simbol ketakutan kolektif, Joko Anwar berhasil menciptakan narasi yang tidak hanya menegangkan secara visual, tetapi juga mengundang refleksi kritis tentang bagaimana masyarakat dan pemerintah saling memandang.
Kesimpulannya, penjelasan Joko Anwar tentang makna hantu dalam Ghost In the Cell memperkaya interpretasi penonton terhadap film ini. Lebih dari sekadar efek horor, hantu menjadi cermin kegelisahan manusia pada kondisi terburuknya, sekaligus sindiran tajam pada praktik pemerintah yang menempatkan rakyat sebagai “ancaman” dalam sistem yang tidak sehat. Film ini diharapkan menjadi titik tolak diskusi publik mengenai peran simbol dalam seni dan bagaimana film dapat menjadi medium kritis terhadap dinamika kekuasaan di Indonesia.