123Berita – 07 April 2026 | Jakarta secara resmi menempati posisi kedua dalam daftar kota teraman di Asia Tenggara untuk tahun 2026, menurut edisi terbaru Global Residence Index yang dirilis pada 16 Januari 2026. Peringkat ini menempatkan ibu kota Indonesia tepat di bawah Singapura, yang tetap menduduki posisi teratas. Pengumuman tersebut mengejutkan banyak pihak, termasuk Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Pramono Anung, yang menyatakan rasa kagum sekaligus keprihatinan atas capaian tersebut.
Global Residence Index, sebuah survei tahunan yang mengukur kualitas hidup, keamanan, dan kenyamanan tinggal di kota-kota besar dunia, menilai Jakarta berdasarkan sejumlah indikator. Indikator-indikator tersebut mencakup tingkat kejahatan, respons penegakan hukum, infrastruktur keselamatan publik, serta persepsi warga dan ekspatriat terhadap keamanan harian. Dengan skor yang meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Jakarta berhasil melampaui kompetitor tradisional seperti Bangkok, Kuala Lumpur, dan Ho Chi Minh City.
“Saya sangat terkejut dan sekaligus bangga melihat Jakarta berada di posisi kedua setelah Singapura,” ungkap Pramono Anung dalam sebuah wawancara singkat di kantor Kementerian Hukum dan HAM. “Ini mencerminkan hasil kerja keras pemerintah daerah, aparat keamanan, serta partisipasi aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman. Namun, pencapaian ini juga menjadi panggilan untuk terus meningkatkan standar keamanan, terutama di wilayah-wilayah yang masih rawan kriminalitas.”
Berita ini muncul bersamaan dengan sejumlah kebijakan strategis yang telah diterapkan sejak awal 2023. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat jaringan kamera pengawas (CCTV) di titik-titik rawan kejahatan, meningkatkan kehadiran patroli polisi, dan meluncurkan program “Jakarta Aman” yang melibatkan kolaborasi antara kepolisian, komunitas lokal, dan sektor swasta. Program tersebut juga menitikberatkan pada penggunaan teknologi pintar, seperti analisis video berbasis AI untuk deteksi dini potensi ancaman.
Berikut rangkuman singkat indikator utama yang menjadi faktor penentu peringkat Jakarta:
- Tingkat Kejahatan Terendah: Penurunan kasus pencurian, perampokan, dan kekerasan jalanan sebesar 18% dibandingkan tahun 2025.
- Respons Penegakan Hukum: Waktu rata-rata respons polisi terhadap panggilan darurat berkurang menjadi 6 menit, menurunkan standar regional yang sebelumnya 9 menit.
- Infrastruktur Keamanan: Peningkatan jumlah kamera CCTV hingga 12.000 unit, serta penambahan lampu jalan berteknologi LED yang meningkatkan visibilitas pada malam hari.
- Persepsi Publik: Survei kepuasan warga menunjukkan 78% responden merasa lebih aman dibandingkan tahun sebelumnya.
Keberhasilan Jakarta tidak lepas dari dukungan sektor swasta yang turut berperan dalam program keamanan kota. Beberapa perusahaan transportasi online, pusat perbelanjaan, dan perumahan berkelas menambah sistem keamanan internal mereka, termasuk pemasangan pintu masuk dengan kontrol biometrik dan aplikasi pelaporan kejadian secara real-time.
Namun, di balik angka-angka positif tersebut, terdapat tantangan yang tetap harus dihadapi. Beberapa kawasan pinggiran kota masih menunjukkan tingkat kriminalitas yang relatif tinggi, terutama terkait kejahatan siber dan penipuan online. Selain itu, pertumbuhan penduduk yang cepat menambah tekanan pada layanan keamanan publik, menuntut peningkatan kapasitas dan pelatihan aparat.
Para pakar keamanan kota menilai bahwa peringkat Jakarta sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara merupakan indikasi positif, namun bukan akhir dari proses perbaikan. “Peringkat ini adalah titik tolak yang penting, tetapi keamanan harus dipandang sebagai proses berkelanjutan,” kata Dr. Rina Suryani, pakar kebijakan publik di Universitas Indonesia. “Kita harus terus memantau tren kejahatan baru, seperti kejahatan siber, serta memastikan bahwa kebijakan keamanan inklusif dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.”
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Dalam Negeri berencana meluncurkan program pelatihan kepolisian berbasis teknologi AI dan data analitik untuk meningkatkan kemampuan prediktif dalam mencegah kejahatan. Selain itu, akan ada peningkatan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, LSM, dan komunitas lokal untuk memperkuat jaringan keamanan berbasis masyarakat.
Dengan pencapaian ini, Jakarta tidak hanya menegaskan posisinya sebagai salah satu kota besar di Asia Tenggara yang layak menjadi tempat tinggal, tetapi juga meningkatkan daya tarik bagi investor dan tenaga kerja profesional internasional. Keamanan merupakan faktor utama dalam keputusan relokasi perusahaan multinasional, dan peringkat tinggi Jakarta dapat menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi kota ke depan.
Kesimpulannya, keberhasilan Jakarta menembus peringkat kedua teraman di Asia Tenggara pada tahun 2026 menandakan adanya perubahan signifikan dalam upaya penegakan hukum dan keamanan publik. Pramono Anung, sebagai tokoh politik yang terkejut sekaligus optimis, menekankan pentingnya kesinambungan program keamanan dan kolaborasi lintas sektor. Meski masih terdapat tantangan, terutama di daerah pinggiran dan ancaman kejahatan siber, langkah-langkah strategis yang telah diambil memberikan fondasi kuat untuk meningkatkan kualitas hidup warga Jakarta. Dengan komitmen yang terus diperkuat, Jakarta berpotensi tidak hanya mempertahankan posisinya, tetapi bahkan melampaui Singapura di masa depan.





