123Berita – 25 April 2026 | Jakarta – Pemerintah Indonesia bersama sekutu‑sekutunya di dunia Islam mengecam keras aksi provokasi yang dilakukan oleh ekstremis Israel di Masjid Al‑Aqsa, tempat suci ketiga umat Islam. Dalam pernyataan resmi yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri RI, Indonesia menegaskan bahwa setiap upaya mengganggu kedamaian dan kebebasan beribadah di situs suci harus ditolak secara tegas.
Seruan Indonesia tidak datang sendiri. Kementerian Luar Negeri negara‑negara Arab seperti Mesir, Yordania, Turki, dan Uni Emirat Arab juga mengeluarkan pernyataan serupa, menyoroti bahwa tindakan Israel merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan hak-hak umat Muslim di Tanah Suci. Mereka menuntut agar komunitas internasional mengambil langkah konkret untuk menghentikan tindakan intimidasi yang dapat memicu ketegangan lebih lanjut.
Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, dalam konferensi pers virtual menegaskan, “Indonesia mengecam segala bentuk provokasi yang mengancam integritas Masjid Al‑Aqsa. Kami menyerukan kepada Israel untuk menghormati status quo yang telah ditetapkan dan menegakkan hak umat Islam untuk beribadah dengan aman dan damai.” Retno menambahkan, “Indonesia siap bekerja sama dengan negara‑negara Islam dan seluruh komunitas internasional untuk memastikan perlindungan terhadap tempat-tempat suci di Yerusalem.
Provokasi tersebut meliputi penyebaran video yang memperlihatkan pasukan Israel memasuki area Masjid Al‑Aqsa dengan penggunaan kekerasan, serta penempatan simbol‑simbol yang dianggap menyinggung umat Muslim. Kejadian ini memicu gelombang protes di beberapa negara, termasuk demonstrasi damai di Jakarta, Kuala Lumpur, dan Istanbul.
- Indonesia mengirimkan surat resmi kepada pemerintah Israel melalui Kedutaan Besar RI di Tel Aviv, menuntut penjelasan dan penghentian tindakan provokatif.
- Negara-negara Arab mengadakan pertemuan darurat di Kairo untuk membahas langkah diplomatik selanjutnya.
- Organisasi Internasional, termasuk PBB, diminta mengeluarkan resolusi yang menegaskan perlindungan terhadap situs suci.
Di sisi lain, pemerintah Israel menolak tuduhan tersebut, menyatakan bahwa tindakan keamanan yang diambil bertujuan mencegah potensi terorisme. Namun, pernyataan ini tidak mengurangi kecaman internasional, terutama mengingat sensitivitas lokasi Al‑Aqsa yang selalu menjadi sumber ketegangan geopolitik.
Kondisi ini menambah panjang daftar insiden yang melibatkan Masjid Al‑Aqsa dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pembatasan akses jamaah, hingga upaya penggantian struktur historis. Para ahli menilai bahwa setiap provokasi dapat memicu reaksi berantai di wilayah tersebut, memengaruhi stabilitas regional.
Selain menuntut tindakan hukum, negara‑negara Islam menekankan pentingnya dialog antar‑umat beragama. Mereka menyerukan agar Israel menghormati perjanjian status quo yang telah disepakati sejak tahun 1967, yang mengatur pengelolaan dan akses ke Masjid Al‑Aqsa.
Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, berkomitmen untuk memperkuat diplomasi Islam melalui Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan Perserikatan Bangsa‑Bangsa. Retno menegaskan, “Kami akan mengusulkan agenda khusus di OKI untuk menyoroti perlindungan situs suci dan menegakkan keadilan bagi umat Muslim di seluruh dunia.”
Dalam rangka meningkatkan kesadaran publik, kementerian terkait di Indonesia juga meluncurkan kampanye media sosial dengan tagar #LindungiAlAqsa, mengajak warga negara untuk bersatu dalam doa dan aksi damai. Kampanye ini mendapat dukungan luas dari tokoh agama, aktivis hak asasi manusia, serta kalangan akademisi.
Secara keseluruhan, kecaman bersama Indonesia dan negara‑negara Islam menandai konsolidasi posisi politik yang tegas dalam melindungi warisan budaya dan keagamaan. Langkah selanjutnya diharapkan melibatkan tindakan diplomatik yang lebih intensif, serta tekanan internasional yang dapat memaksa pihak Israel untuk menghentikan segala bentuk provokasi di Masjid Al‑Aqsa.
Dengan mengedepankan dialog dan solidaritas, dunia berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi jutaan umat Muslim yang menunaikan ibadah di situs suci tersebut, sekaligus menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.




