123Berita – 08 April 2026 | Pasar Klender, kawasan tradisional yang menjadi titik temu ribuan pedagang dan konsumen, kini bergulat dengan lonjakan harga plastik yang mencapai 50 persen sejak awal tahun ini. Kenaikan tajam tersebut tidak muncul begitu saja; ia merupakan konsekuensi langsung dari ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu gejolak pasar energi global.
Ketegangan antara kedua negara telah memicu kenaikan harga minyak mentah dunia hingga level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai bahan baku utama dalam produksi petrokimia, minyak mentah menjadi penentu utama biaya pembuatan plastik. Ketika harga minyak naik, pabrik-pabrik petrokimia di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, harus menanggung biaya produksi yang lebih tinggi, yang pada gilirannya diteruskan kepada distributor dan pengecer.
Rantai pasok plastik di Indonesia sangat bergantung pada bahan baku impor dan proses produksi dalam negeri yang sensitif terhadap fluktuasi harga minyak. Dampak utama yang dirasakan meliputi:
- Kenaikan tarif impor bahan baku plastik mentah.
- Peningkatan biaya energi untuk operasional pabrik.
- Penurunan margin keuntungan produsen, yang memaksa mereka menaikkan harga jual.
- Keterbatasan pasokan karena penundaan pengiriman logistik internasional.
Di pasar tradisional seperti Klender, dampak ini terasa paling nyata pada barang-barang kebutuhan sehari-hari yang menggunakan kemasan plastik, seperti kantong plastik, wadah makanan, dan botol air mineral. Pedagang melaporkan bahwa harga kantong plastik berukuran standar naik dari Rp 200 menjadi sekitar Rp 300 per buah, sementara botol PET 600 ml yang sebelumnya dijual seharga Rp 2.500 kini melambung menjadi Rp 3.750. Secara rata‑rata, pedagang mengakui bahwa biaya operasional mereka meningkat setidaknya 40‑50 persen.
Reaksi pedagang beragam. Sebagian mencoba menutup margin keuntungan demi menjaga daya beli konsumen, sementara yang lain beralih ke alternatif kemasan non‑plastik atau mengurangi volume pembelian. Namun, langkah‑langkah tersebut belum cukup menahan tekanan biaya. Konsumen pun mulai mengurangi pembelian barang yang dikemas plastik, beralih ke produk yang dibungkus kain atau kardus, meski pilihan tersebut seringkali lebih mahal atau kurang praktis.
Peningkatan harga plastik berdampak lebih luas pada inflasi nasional. Menurut data Badan Pusat Statistik, kategori barang konsumen yang menggunakan kemasan plastik menyumbang sekitar 12 persen dari indeks harga konsumen (IHK). Kenaikan harga plastik sebesar 50 persen berpotensi menambah tekanan inflasi sekitar 0,6‑0,8 poin persentase, mengancam target inflasi Bank Indonesia yang ditetapkan pada 2,5‑3,5 persen.
Pemerintah telah menanggapi situasi dengan mengusulkan kebijakan pengurangan pajak impor bagi bahan baku petrokimia dan mempercepat program daur ulang plastik nasional. Meski demikian, implementasi kebijakan tersebut membutuhkan waktu, sementara pedagang dan konsumen harus menanggung beban kenaikan harga dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, konflik geopolitik di Timur Tengah menunjukkan betapa rentannya sektor industri sederhana seperti plastik terhadap fluktuasi pasar energi global. Pedagang Pasar Klender kini berada di persimpangan antara menahan beban biaya dan mempertahankan daya saing di tengah konsumen yang semakin sensitif terhadap harga. Tanpa intervensi kebijakan yang cepat dan efektif, tekanan ini berpotensi berlanjut, memengaruhi tidak hanya pasar tradisional tetapi juga rantai pasok nasional.