123Berita – 05 April 2026 | Pada Kamis, 2 April 2026, wilayah Maluku Utara, khususnya kota Ternate, dilanda gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang menimbulkan getaran kuat hingga daerah sekitarnya di Sulawesi Utara. Gempa tersebut berpusat sekitar 20 kilometer sebelah barat daya pulau Ternate, menyebabkan kerusakan masif pada bangunan, infrastruktur, serta menimbulkan kepanikan di kalangan penduduk.
Kerusakan struktural tidak hanya terbatas pada rumah tinggal. Beberapa fasilitas publik seperti kantor kelurahan, sekolah, dan fasilitas kesehatan mengalami kerusakan pada atap maupun dinding. Jalan utama di kawasan Pelabuhan Ternate mengalami retakan, menghambat akses kendaraan bantuan. Sistem kelistrikan dan distribusi air bersih terganggu, menambah beban pada penduduk yang sudah mengungsi.
Tim SAR nasional bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Utara segera dikerahkan. Lebih dari 150 relawan, 30 petugas pemadam kebakaran, serta sejumlah unit TNI-AD dan Polri berkoordinasi untuk mengevakuasi korban, menyalakan kembali pasokan listrik darurat, dan menyediakan air bersih. Pusat Pengungsian Sementara (PPS) dibuka di gedung balai pertemuan Kecamatan, dengan kapasitas menampung hingga 2.500 orang.
Mayor Ternate, H. Hidayatullah, menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam penanganan bencana. Ia menegaskan prioritas utama adalah memastikan keamanan dan kesejahteraan pengungsi, memperbaiki infrastruktur kritis, serta melakukan pemetaan kerusakan secara menyeluruh. “Kami berkomitmen untuk memulihkan kota ini secepat mungkin, namun proses pemulihan membutuhkan dukungan dari pemerintah pusat dan masyarakat luas,” ujar sang walikota dalam konferensi pers di lapangan.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara, melalui Gubernur Muhammad Zainul Majdi, menyiapkan bantuan logistik berupa makanan, selimut, dan perlengkapan kebersihan. Dana bantuan darurat sebesar Rp 15 miliar telah dicairkan untuk mempercepat proses rehabilitasi. Selain itu, tim teknis sedang melakukan inspeksi terhadap bangunan yang berpotensi longsor atau mengalami keretakan struktural.
Berikut adalah daftar kebutuhan mendesak yang telah diidentifikasi oleh tim penanggulangan bencana:
- Kebutuhan air bersih dan sanitasi bagi pengungsi.
- Pasokan makanan siap saji selama minimal tiga hari.
- Selimut, matras, dan perlengkapan tidur.
- Obat-obatan dasar dan layanan kesehatan mobile.
- Tim teknis untuk evaluasi keselamatan bangunan.
Meski upaya penanganan telah berjalan, tantangan tetap signifikan. Kondisi cuaca yang diprediksi akan berubah menjadi lebih lembab dalam beberapa hari ke depan dapat memicu risiko tanah longsor di daerah rawan. Selain itu, kebutuhan energi listrik yang terus meningkat menuntut perbaikan jaringan distribusi yang rusak.
Tim BMKG terus memantau aktivitas seismik di wilayah tersebut, mengingat potensi gempa susulan. Warga diimbau untuk tetap waspada, mengikuti arahan otoritas, dan tidak kembali ke rumah yang dinyatakan tidak layak huni sampai proses evaluasi selesai. Pemerintah daerah berjanji akan menyediakan informasi terkini melalui kanal resmi, serta membuka jalur komunikasi langsung bagi warga yang membutuhkan bantuan.
Secara keseluruhan, respons cepat dari aparat keamanan, relawan, dan pemerintah menunjukkan sinergi dalam menghadapi bencana alam yang melanda Ternate. Upaya pemulihan akan berlanjut selama beberapa minggu ke depan, dengan fokus pada rehabilitasi rumah yang rusak, pemulihan layanan publik, serta memastikan kesejahteraan para pengungsi. Diharapkan, melalui koordinasi yang terstruktur, kota Ternate dapat kembali pulih dan bangkit lebih kuat setelah gempa yang mengguncang ini.