123Berita – 07 April 2026 | DPKP Kalsel mengumumkan langkah strategis dengan memperkuat jaringan irigasi sawah sepanjang 13 kilometer di wilayah pertanian utama, sebagai upaya mitigasi menghadapi prediksi kemarau panjang yang diproyeksikan terjadi pada tahun 2026.
Data meteorologi nasional memperkirakan intensitas dan durasi kekeringan akan meningkat secara signifikan pada dekade berikutnya, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan yang mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber pangan utama. Kekurangan curah hujan diperkirakan dapat menurunkan produktivitas padi hingga 30 persen jika tidak ada intervensi teknis.
Proyek perkuatan irigasi ini difokuskan pada beberapa kecamatan di Kabupaten Banjar dan Barito Kuala, daerah yang memiliki lahan sawah seluas lebih dari 12.000 hektar. Saluran baru akan menghubungkan sumber air sungai Barito dan embung-embung kecil ke jaringan distribusi yang sudah ada, memperluas jangkauan air ke petani yang selama ini mengalami keterbatasan pasokan.
Pekerjaan dimulai pada awal kuartal pertama 2024 dan diperkirakan selesai pada akhir 2025. Tahapan pembangunan meliputi pengerukan saluran primer sepanjang 8 kilometer, pemasangan saluran sekunder 4 kilometer, serta instalasi tiga unit pompa listrik berkapasitas tinggi yang akan memastikan aliran air stabil pada musim kemarau.
Anggaran total proyek mencapai Rp 85 miliar, dengan dana utama berasal dari APBN melalui program Nasional Percepatan Penyediaan Infrastruktur Irigasi (PPII). Pemerintah provinsi menyumbangkan tambahan Rp 15 miliar sebagai dukungan operasional dan pelatihan teknis bagi petani setempat.
Manfaat yang diharapkan meliputi:
- Peningkatan hasil panen padi rata-rata 20-25 persen.
- Stabilisasi produksi pangan regional, mengurangi ketergantungan pada impor beras.
- Peningkatan pendapatan petani dan penurunan kemiskinan di daerah pedesaan.
- Peningkatan ketahanan air tanah melalui sistem irigasi yang lebih efisien.
Para petani yang terlibat menyambut baik inisiatif ini. Pak Hadi, ketua kelompok tani di Kecamatan Martapura, menyatakan, “Dengan aliran air yang lebih terjamin, kami tidak lagi khawatir akan gagal panen karena kekeringan. Ini adalah investasi jangka panjang bagi keluarga kami.”
Ahli agronomi Universitas Lambung Mangkurat, Dr. Siti Nurhayati, menambahkan bahwa irigasi terkelola dengan baik dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kadar organik, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia berlebih. “Kombinasi antara infrastruktur air dan praktik pertanian berkelanjutan akan memperkuat ketahanan pangan daerah,” ujarnya.
Pembangunan ini selaras dengan kebijakan nasional “Ketahanan Pangan 2025-2035” yang menekankan pentingnya modernisasi infrastruktur irigasi sebagai fondasi utama. DPKP Kalsel berkoordinasi erat dengan Kementerian Pertanian untuk memastikan standar teknis dan pemantauan berkelanjutan.
Meski prospek positif, tantangan tetap ada. Pemeliharaan saluran, pengelolaan sumber daya air, serta adaptasi terhadap perubahan iklim memerlukan komitmen jangka panjang dari pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas pertanian. DPKP Kalsel berencana membentuk tim monitoring yang akan melakukan evaluasi triwulanan, serta melibatkan petani dalam program pelatihan manajemen irigasi.
Dengan jaringan irigasi yang diperkuat, Kalimantan Selatan berada pada posisi yang lebih siap menghadapi ancaman kemarau panjang 2026. Langkah ini tidak hanya menjamin pasokan air bagi lahan sawah, tetapi juga menegaskan komitmen provinsi dalam menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.