123Berita – 06 Mei 2026 | Tim Densus 88 Antiteror Polri berhasil melakukan operasi penangkapan terhadap delapan orang yang diduga menjadi anggota jaringan teror Jamaah Anshoru Daulah (JAD) di wilayah Poso-Parigi, Sulawesi Tengah. Penangkapan ini merupakan bagian dari rangkaian upaya pemerintah untuk memutus mata rantai terorisme yang berafiliasi dengan ISIS di Indonesia.
Identitas para tersangka masih dirahasiakan untuk kepentingan penyelidikan, namun diketahui bahwa mereka merupakan warga lokal yang memiliki latar belakang pendidikan menengah ke atas. Beberapa di antaranya pernah terlibat dalam aktivitas dakwah radikal secara daring, serta memiliki kontak dengan jaringan JAD yang beroperasi di luar negeri. Penyidik mengungkap bahwa para tersangka telah menerima pelatihan dasar taktik gerilya dan propaganda melalui platform online yang dikelola oleh jaringan ISIS.
Selama operasi, Tim Densus 88 berhasil menyita sejumlah barang bukti penting, termasuk senjata tajam, bahan peledak improvisasi, serta materi propaganda berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang memuat ajakan bergabung dengan ISIS. Barang bukti tersebut akan dijadikan dasar dalam proses penyidikan lebih lanjut, termasuk kemungkinan dakwaan terorisme yang dapat dijatuhkan kepada para tersangka.
Penangkapan delapan terduga teroris Poso ini menjadi sorotan nasional karena menegaskan kembali ancaman yang terus mengintai wilayah Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang pernah menjadi titik rawan konflik. Poso, yang pernah dilanda konflik bersenjata pada awal 2000-an, kembali berada dalam fokus keamanan setelah munculnya kelompok radikal yang mencoba memanfaatkan ketidakstabilan sosial dan ekonomi.
Kapolres Poso menegaskan bahwa penangkapan ini tidak lepas dari kerja sama lintas lembaga, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Badan Intelijen Negara (BIN). “Kami terus memantau pergerakan jaringan teror, terutama yang memiliki afiliasi dengan ISIS. Penangkapan delapan terduga teroris Poso ini merupakan bukti komitmen kami dalam melindungi masyarakat dari ancaman radikalisme,” ujar Kapolres dalam konferensi pers singkat.
Selain itu, aparat keamanan juga menambahkan bahwa operasi ini merupakan respons terhadap laporan intelijen yang mengindikasikan rencana serangan potensial terhadap fasilitas umum di daerah Poso-Parigi. Meskipun rencana tersebut belum terwujud, keberhasilan penangkapan ini diharapkan dapat mencegah terjadinya aksi teror yang lebih besar di masa depan.
Para tersangka kini berada di tahanan Polri dan akan menjalani proses hukum sesuai dengan Undang-Undang Terorisme. Mereka akan diajukan ke Pengadilan Negeri setempat untuk proses penyidikan lanjutan, termasuk pemeriksaan saksi dan analisis forensik atas barang bukti yang disita.
Komunitas lokal menyambut baik keberhasilan penangkapan ini. Masyarakat setempat berharap tindakan tegas dari aparat dapat menegakkan rasa aman dan menurunkan tingkat radikalisme di wilayah tersebut. “Kami merasa lebih tenang setelah mendengar kabar penangkapan ini. Semoga ini menjadi peringatan bagi mereka yang ingin menyebarkan kebencian,” ujar seorang tokoh masyarakat Poso.
Penangkapan delapan terduga teroris Poso juga mengirimkan sinyal kuat kepada jaringan teror internasional bahwa Indonesia tidak akan mentolerir upaya penyebaran ideologi ekstremis. Pemerintah pusat telah menegaskan komitmen untuk meningkatkan koordinasi antar lembaga keamanan, memperkuat regulasi siber, serta memperluas program deradikalisasi bagi individu yang berpotensi terjerumus ke dalam jaringan teror.
Keberhasilan operasi Densus 88 ini menjadi bukti bahwa strategi pencegahan dan penindakan secara simultan dapat memberikan hasil yang signifikan. Dengan memanfaatkan data intelijen, kerja sama antar lembaga, serta kehadiran aparat di tingkat daerah, Polri berhasil menggagalkan potensi ancaman terorisme yang mengancam stabilitas nasional.
Ke depan, pihak berwenang berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan intensif terhadap jaringan JAD dan afiliasi ISIS di seluruh Indonesia. Upaya deradikalisasi, pendidikan anti-terorisme, serta peningkatan keamanan siber menjadi fokus utama dalam rangka memastikan bahwa ancaman terorisme tidak kembali mengganggu kehidupan warga negara.
Dengan penangkapan delapan terduga teroris Poso, diharapkan masyarakat dapat kembali merasakan rasa aman dan damai. Penegakan hukum yang tegas dan transparan menjadi landasan penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi keamanan negara.





