123Berita – 07 April 2026 | Bank Indonesia (BI) resmi mengeluarkan pernyataan publik setelah nilai tukar Rupiah terus tertekan hingga menembus batas Rp17.100 per dolar Amerika. Penurunan nilai tukar yang tajam ini menimbulkan keprihatinan luas di kalangan pelaku pasar, pelaku usaha, serta masyarakat umum, mengingat dampaknya terhadap inflasi, biaya impor, dan daya beli konsumen.
Di sisi domestik, BI mengidentifikasi beberapa pendorong utama melemahnya Rupiah. Pertama, defisit transaksi berjalan yang masih berada pada level tinggi, terutama karena impor energi dan bahan baku masih mendominasi. Kedua, pasar uang domestik masih menghadapi volatilitas likuiditas yang dapat memicu spekulasi nilai tukar. Ketiga, ekspektasi inflasi yang masih berada di atas target jangka menengah BI menambah tekanan pada kebijakan moneter.
Dalam menanggapi situasi tersebut, BI menegaskan tiga prioritas utama yang akan menjadi landasan kebijakan ke depan. Pertama, menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar yang terukur. BI menyatakan akan meningkatkan penggunaan cadangan devisa untuk melakukan penjualan dolar di pasar spot, sekaligus memperkuat mekanisme swap mata uang asing dengan bank-bank komersial guna menambah likuiditas pada pasar domestik.
Kedua, memperkuat fondasi ekonomi makro. Bank Indonesia akan berkoordinasi erat dengan Kementerian Keuangan dan otoritas terkait untuk menurunkan defisit transaksi berjalan, mempercepat reformasi struktural, serta mendorong diversifikasi ekspor non‑migas. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan menstabilkan aliran devisa masuk.
Ketiga, menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang. BI menegaskan komitmennya untuk menyesuaikan tingkat likuiditas melalui operasi pasar terbuka (open market operations) dan penyesuaian suku bunga acuan (BI 7‑day Reverse Repo Rate). Pada pertemuan terakhir, BI menegaskan bahwa suku bunga acuan akan tetap berada pada level yang dapat menyeimbangkan antara pengekangan inflasi dan dukungan pertumbuhan ekonomi.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam pernyataannya menekankan bahwa “kestabilan nilai tukar bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif bagi investasi dan pertumbuhan. Kami akan terus memantau perkembangan pasar dengan cermat, serta menyesuaikan kebijakan secara fleksibel sesuai dengan dinamika global dan domestik”.
Selain intervensi pasar, BI juga menyoroti pentingnya kebijakan makroprudensial. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah penyesuaian rasio pencadangan wajib (reserve requirement ratio) bagi bank-bank yang memiliki eksposur signifikan pada mata uang asing. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi risiko penarikan dana secara masif yang dapat memperburuk tekanan pada Rupiah.
Para analis pasar menilai bahwa langkah-langkah tersebut dapat memberikan ruang napas sementara, namun tantangan struktural tetap menjadi faktor penentu jangka panjang. Menurut salah satu pakar ekonomi, “Jika Indonesia tidak mampu memperbaiki neraca perdagangan dan meningkatkan daya saing produk domestik, tekanan pada Rupiah akan tetap ada, terlepas dari intervensi jangka pendek”.
Sejumlah sektor ekonomi yang paling terpengaruh oleh melemahnya Rupiah antara lain industri manufaktur, sektor energi, serta perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku. Kenaikan biaya impor berpotensi mendorong inflasi ke level yang lebih tinggi, yang pada gilirannya dapat memaksa BI untuk menyesuaikan kebijakan suku bunga secara lebih agresif.
Di tengah situasi ini, pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga berjanji akan memperkuat kebijakan fiskal. Upaya pengendalian defisit anggaran, peningkatan penerimaan pajak, serta stimulus terhadap produksi dalam negeri menjadi bagian dari paket kebijakan terpadu yang diharapkan dapat menstabilkan nilai tukar.
Secara keseluruhan, langkah-langkah yang diambil BI mencerminkan pendekatan yang holistik, menggabungkan intervensi pasar jangka pendek dengan reformasi struktural jangka panjang. Keberhasilan kebijakan tersebut sangat bergantung pada koordinasi antar lembaga, serta respons pasar terhadap sinyal kebijakan yang konsisten.
Ke depannya, pemantauan ketat terhadap indikator utama seperti cadangan devisa, neraca perdagangan, inflasi, dan aliran modal akan menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia. Dengan memperkuat fondasi ekonomi makro dan menjaga likuiditas pasar, diharapkan Rupiah dapat kembali menguat dan memberikan kepastian bagi pelaku ekonomi di seluruh Indonesia.