123Berita – 04 April 2026 | Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, kembali dilanda bencana banjir pada akhir pekan ini setelah hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, sebanyak dua belas desa yang tersebar di empat kecamatan mengalami genangan air yang menggenangi rumah, lahan pertanian, serta fasilitas umum.
Empat kecamatan yang terdampak meliputi Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Ngasem, Kecamatan Brati, dan Kecamatan Bendo. Desa-desa yang terkena dampak antara lain Desa Ngadirejo, Desa Kedungbendo, Desa Tanjungrejo, Desa Sumberwetan, Desa Baturono, Desa Kluwet, Desa Mertoyudan, Desa Kalikendal, Desa Kemloko, Desa Podosoko, Desa Cengkeh, dan Desa Wonosobo. Seluruh desa tersebut melaporkan bahwa ketinggian air mencapai 30-50 sentimeter di beberapa titik, mengakibatkan kerusakan pada rumah tinggal, fasilitas kesehatan, dan infrastruktur jalan.
BPBD Grogroban menegaskan bahwa kondisi cuaca masih berpotensi mengakibatkan peningkatan volume air, mengingat wilayah ini berada dalam zona aliran sungai yang sensitif. Oleh karena itu, penduduk diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, menyiapkan barang berharga di tempat yang lebih tinggi, dan mengikuti instruksi evakuasi bila diperlukan.
Dalam pernyataannya, Kepala BPBD Grogroban, Ir. H. Hadi Prasetyo, menyampaikan bahwa tim penanggulangan bencana telah mengaktifkan posko darurat di setiap kecamatan yang terdampak. “Kami terus memantau situasi melalui jaringan sensor sungai dan laporan lapangan. Prioritas utama kami adalah menyelamatkan jiwa, memastikan akses bantuan logistik, serta mengurangi dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh banjir ini,” ujar Hadi.
Selain upaya penyelamatan, BPBD juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan untuk menyediakan layanan medis darurat di posko-posko. Tim medis siap menangani kasus-kasus penyakit terkait air, seperti diare, skin infection, dan potensi penyebaran penyakit menular lainnya. Sementara itu, Dinas Sosial menyiapkan paket bantuan berupa makanan, air bersih, dan kebutuhan pokok bagi warga yang terpaksa mengungsi.
Warga setempat, terutama para petani, menyatakan keprihatinan atas kerusakan lahan pertanian yang terendam. “Tanaman padi yang baru saja ditanam hampir semuanya tenggelam. Kami khawatir hasil panen tahun ini akan sangat menurun,” kata Pak Slamet, seorang petani dari Desa Kedungbendo. Ia menambahkan bahwa banjir tidak hanya mengancam produksi pertanian, tetapi juga mengganggu rantai pasokan pasar tradisional di kota-kota terdekat.
- Desa Ngadirejo (Kecamatan Purwodadi)
- Desa Kedungbendo (Kecamatan Ngasem)
- Desa Tanjungrejo (Kecamatan Brati)
- Desa Sumberwetan (Kecamatan Bendo)
- Desa Baturono (Kecamatan Purwodadi)
- Desa Kluwet (Kecamatan Ngasem)
- Desa Mertoyudan (Kecamatan Brati)
- Desa Kalikendal (Kecamatan Bendo)
- Desa Kemloko (Kecamatan Purwodadi)
- Desa Podosoko (Kecamatan Ngasem)
- Desa Cengkeh (Kecamatan Brati)
- Desa Wonosobo (Kecamatan Bendo)
Upaya mitigasi jangka panjang juga menjadi agenda penting. Pemerintah Kabupaten bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (BPSDA) merencanakan peningkatan kapasitas tanggul, pembersihan saluran sungai, serta pembangunan waduk penampung air hujan. Namun, proses tersebut diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun, sehingga dalam jangka pendek, kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor kunci.
Warga diminta untuk mematuhi peringatan dini yang dikeluarkan melalui sirine, pesan teks, serta media sosial resmi pemerintah daerah. Bila terjadi peningkatan ketinggian air secara tiba-tiba, penduduk harus segera menuju tempat evakuasi yang telah ditetapkan, seperti balai desa yang lebih tinggi atau sekolah yang berfungsi sebagai pusat penampungan.
Situasi ini menambah daftar bencana alam yang melanda Jawa Tengah akhir-akhir ini, dimana curah hujan yang tidak merata menyebabkan aliran air meluap di beberapa wilayah. Pengalaman dari banjir sebelumnya di Grobogan pada tahun 2022 menjadi pelajaran penting bagi otoritas setempat untuk memperkuat sistem peringatan dini dan mempercepat respon penanggulangan.
Dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu, BPBD menegaskan kembali pentingnya kesiapsiagaan semua pihak. “Kami mengimbau seluruh warga untuk tidak menyepelekan peringatan, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, dan melaporkan setiap perubahan yang mencurigakan kepada petugas setempat,” pungkas Hadi Prasetyo.
Secara keseluruhan, banjir yang melanda 12 desa di Grobogan menimbulkan tantangan besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Upaya penanggulangan yang terkoordinasi, dukungan logistik, serta partisipasi aktif warga menjadi kunci dalam mengurangi dampak bencana ini. Diharapkan, dengan langkah-langkah mitigasi yang tepat dan kepedulian bersama, Grobogan dapat bangkit kembali dan meminimalisir risiko banjir di masa mendatang.