123Berita – 07 April 2026 | NASA kembali mencetak sejarah pada hari Selasa, 2 April 2026, ketika misi berawak Artemis II meluncur dengan tiga astronot di atas wahana Orion. Peluncuran yang dipimpin dari Kennedy Space Center, Florida ini menandai langkah pertama manusia meninggalkan orbit rendah Bumi dalam misi kembali ke Bulan setelah lebih dari lima dekade. Sejak roket Space Launch System (SLS) mengangkat Orion ke angkasa, tim misi berhasil menempuh jarak yang belum pernah dicapai oleh manusia sebelumnya, menembus batas 70.000 mil (sekitar 112.650 kilometer) dari permukaan Bumi.
Ketiga awak Artemis II terdiri atas Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, dan Penjelajah (Mission Specialist) Christina Koch. Mereka memulai perjalanan dengan menempuh lintasan melingkar mengelilingi Bumi selama tiga hari, sebelum melakukan manuver “trans‑lunar injection” (TLI) yang mengarahkan Orion menuju orbit bulan. Saat Orion melaju menjauh, misi tersebut melintasi zona gravitasi Bumi yang paling jauh yang pernah dijelajahi oleh manusia, melampaui jejak Apollo 8 yang pada 1968 menandai manusia pertama yang mengorbit Bulan.
Pengamatan langsung yang disiarkan secara daring menampilkan pemandangan menakjubkan dari kabin Orion, menampilkan tata surya yang tampak berkilau di luar jendela. Penonton di seluruh dunia dapat menyaksikan grafik data real‑time yang menampilkan jarak, kecepatan, dan status sistem kapal, sementara komentator NASA menjelaskan tiap fase penting misi. Pada puncak perjalanan, Orion berada pada jarak sekitar 80.000 mil (128.750 kilometer) dari Bumi – hampir setengah jarak ke Bulan – mencatat rekor terjauh yang pernah dicapai manusia tanpa menginjakkan kaki di luar angkasa.
- Peluncuran sukses: Roket SLS mengangkat Orion dengan kuat, menandai keberhasilan pertama dari generasi roket berat baru Amerika Serikat.
- Trans‑Lunar Injection: Manuver kritis yang mengubah lintasan orbit Bumi menjadi lintasan menuju bulan, dilakukan pada pukul 02.30 UTC.
- Rekor Jarak: Orion mencapai 80.000 mil dari Bumi, melampaui semua misi berawak sebelumnya.
- Tujuan akhir: Mengelilingi Bulan pada jarak sekitar 30.000 mil (48.280 km) dari permukaan, sebelum kembali ke Bumi dengan pendaratan di Samudra Pasifik.
Selama fase terbang, astronot melaporkan kondisi kabin yang stabil, dengan sistem pendukung hidup yang beroperasi tanpa gangguan. Penelitian mikrogravitasi di dalam Orion melibatkan percobaan biologi, material, dan teknologi yang dirancang untuk menguji keberlangsungan kehidupan manusia pada misi berjangka panjang ke Bulan dan Mars. Salah satu percobaan menyoroti pertumbuhan kultur sel pada kondisi gravitas rendah, yang memberikan data penting bagi pengembangan farmasi di luar angkasa.
Komandan Wiseman menekankan pentingnya kolaborasi internasional, mengingat bahwa Artemis II melibatkan kontribusi dari Badan Antariksa Eropa (ESA), Badan Antariksa Kanada (CSA), dan Badan Antariksa Jepang (JAXA). “Ini bukan hanya milik Amerika,” ujar Wiseman dalam siaran, “tetapi pencapaian umat manusia yang memperkuat tekad kita untuk kembali ke Bulan dan melangkah lebih jauh.”
Berita tentang keberhasilan Artemis II menyebar cepat melalui media sosial, dengan jutaan penonton menyaksikan siaran langsung di platform resmi NASA, YouTube, dan jaringan televisi internasional. Reaksi positif muncul dari komunitas ilmiah, yang menilai misi ini sebagai fondasi penting bagi rencana pendaratan berawak Artemis III yang dijadwalkan pada tahun 2027, di mana astronot akan mendarat di Kutub Selatan Bulan dan menguji teknologi penambangan air es.
Keberhasilan Artemis II juga menandai momen penting bagi program ruang angkasa komersial, karena beberapa komponen Orion dan SLS didanai oleh kontraktor swasta, termasuk Boeing dan Lockheed Martin. Keberhasilan ini diyakini akan meningkatkan kepercayaan investor dan mempercepat inovasi dalam industri luar angkasa, membuka peluang bagi misi komersial ke orbit lunar dalam dekade berikutnya.
Secara teknis, Artemis II menunjukkan bahwa sistem peluncuran SLS dapat mengatasi tantangan berat total lebih dari 2.600.000 pound, serta menegaskan kemampuan Orion dalam menahan radiasi kosmik selama fase trans‑lunar. Data termal dan komunikasi selama fase ini memberikan insight berharga bagi perencanaan misi lebih jauh, termasuk potensi misi ke Mars pada 2030‑an.
Para ilmuwan juga menantikan data ilmiah yang dihasilkan selama orbit bulan, termasuk pemetaan medan gravitasi bulan yang lebih detail, serta pengukuran partikel plasma yang dapat mempengaruhi navigasi dan komunikasi di masa depan. Semua temuan ini akan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah dan menjadi referensi bagi desain kapal luar angkasa generasi berikutnya.
Dengan Artemis II, NASA tidak hanya memulihkan kemampuan manusia untuk menjelajahi ruang angkasa dalam skala jauh, tetapi juga menegaskan komitmen global terhadap eksplorasi bulan sebagai batu loncatan menuju tujuan ambisius di Mars. Misi ini menjadi simbol harapan baru bagi generasi muda yang bermimpi menjadi astronot, sekaligus menegaskan bahwa kolaborasi ilmiah internasional tetap menjadi kunci utama dalam menaklukkan tantangan luar angkasa.
Ke depan, NASA berencana mengirim misi Artemis III yang akan menurunkan astronot di permukaan bulan, serta mempersiapkan program Artemis IV dan V yang bertujuan membangun infrastruktur permanen di orbit lunar. Artemis II menjadi babak penting dalam rangkaian perjalanan panjang manusia kembali ke Bulan, menandai pencapaian luar biasa yang membuka jalan bagi eksplorasi lebih jauh ke tata surya.