123Berita – 05 April 2026 | Kerajaan Arab Saudi kembali menempatkan dirinya sebagai penjaga utama warisan Islam dengan memamerkan sebuah manuskrip Al-Qur’an yang diperkirakan berusia sekitar seribu tahun. Naskah kuno ini, yang disimpan dalam kondisi terawat, dihadirkan dalam rangkaian pameran khusus yang menyoroti nilai historis, artistik, dan spiritualnya.
Manuskrip yang dipamerkan berasal dari periode abad ke-10 Masehi, tepat pada masa kejayaan Kekhalifahan Abbasiyah. Secara fisik, naskah ini terdiri dari beberapa lembar kulit binatang yang diproses secara tradisional, kemudian ditulisi dengan tinta hitam pekat menggunakan kaligrafi Kufic klasik. Keaslian tulisan, ketebalan kertas kulit, serta teknik pewarnaan memberikan gambaran jelas tentang metode produksi manuskrip pada masa itu.
Keistimewaan utama manuskrip ini terletak pada kualitas kaligrafi yang hampir sempurna. Setiap huruf dibentuk dengan presisi tinggi, menampilkan keseimbangan antara estetika visual dan kejelasan bacaan. Para ahli paleografi menilai bahwa gaya tulisan ini mencerminkan standar kaligrafi yang diterapkan di pusat-pusat ilmu pengetahuan Islam pada masa itu, khususnya di Baghdad dan Kufa. Selain itu, beberapa lembar mengandung marginalia berupa catatan marginal yang memberi petunjuk tentang proses penyalinan serta interpretasi teks oleh para ulama awal.
Secara ilmiah, manuskrip ini memberikan data penting bagi peneliti teks Al-Qur’an. Analisis karbon-14 yang dilakukan oleh laboratorium internasional mengonfirmasi usia bahan kulit sekitar 1.000 tahun, sejalan dengan perkiraan sejarah manuskrip. Penelitian lanjutan mengenai susunan ayat, variasi bacaan (qira’at), dan tanda diakritik memungkinkan para akademisi mengkaji evolusi teks suci dari masa ke masa.
Pameran yang diadakan di Istana Al-Masmak, Riyadh, menampilkan manuskrip dalam vitrine beriklim terkendali. Pengunjung dapat menyaksikan detail kaligrafi melalui kaca pembesar yang disediakan, sekaligus mendapatkan penjelasan interaktif mengenai proses pembuatan naskah pada masa lampau. Selain manuskrip utama, pameran juga menampilkan artefak pendukung seperti pena bambu, tinta tradisional, serta peralatan pemotongan kulit, memberikan konteks lengkap tentang industri pembuatan manuskrip pada era tersebut.
Beberapa tokoh terkemuka dalam bidang studi Islam memberikan komentar positif terkait pameran ini. Dr. Ahmad al-Muhandis, profesor Sejarah Islam di Universitas King Saud, menekankan bahwa penampilan manuskrip tersebut tidak hanya memperkaya pemahaman publik tentang warisan Islam, namun juga menegaskan pentingnya pelestarian naskah kuno sebagai sumber ilmu yang tak ternilai. “Setiap goresan tinta pada kulit ini menyimpan jejak peradaban, dan membuka jendela bagi generasi kini untuk menyelami kebijaksanaan para pendahulu,” ujar Dr. al-Muhandis.
Upaya pelestarian yang dilakukan oleh otoritas Saudi meliputi restorasi konservatif, pengendalian suhu dan kelembaban, serta penggunaan teknologi digital untuk menciptakan reproduksi berkualitas tinggi. Reproduksi tersebut kemudian disebarkan kepada institusi pendidikan dan museum di seluruh dunia, sehingga akses ke naskah tidak terbatas pada satu lokasi fisik saja.
Secara sosial, pameran ini menarik minat luas, baik dari kalangan akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat umum. Jumlah pengunjung yang tercatat dalam minggu pertama melampaui lima ribu orang, menunjukkan antusiasme publik terhadap warisan budaya Islam. Media sosial pun dipenuhi foto-foto close‑up manuskrip, menandakan dampak visual yang kuat.
Keberadaan manuskrip ini juga menambah dimensi diplomatik bagi Arab Saudi. Dengan membuka akses ke harta karun budaya Islam, kerajaan mengukuhkan perannya sebagai pelindung dan promotor warisan peradaban Islam di tingkat global. Hal ini selaras dengan inisiatif Vision 2030, yang menekankan pada diversifikasi ekonomi melalui sektor budaya dan pariwisata.
Di akhir pameran, yang dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan, pihak penyelenggara berencana mengadakan seminar ilmiah yang melibatkan pakar manuskrip, sejarawan, dan ahli kaligrafi. Tujuan utama adalah memperdalam pemahaman tentang konteks historis naskah serta mengeksplorasi metode konservasi modern yang dapat diterapkan pada koleksi serupa.
Secara keseluruhan, penampilan manuskrip Al-Qur’an berusia seribu tahun ini tidak sekadar menampilkan sebuah artefak bersejarah, melainkan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Dengan menyoroti keistimewaan kaligrafi, bahan, serta nilai ilmiah naskah, pameran mengajak publik untuk menghargai kedalaman tradisi Islam serta pentingnya melestarikan warisan budaya untuk generasi mendatang.





