WRI Indonesia Usulkan Tiga Solusi Berbasis Alam untuk Reduksi Banjir Perkotaan

WRI Indonesia Usulkan Tiga Solusi Berbasis Alam untuk Reduksi Banjir Perkotaan
WRI Indonesia Usulkan Tiga Solusi Berbasis Alam untuk Reduksi Banjir Perkotaan

123Berita – 08 April 2026 | Jakarta, 8 April 2026 – Banjir yang semakin sering melanda kota-kota besar Indonesia menuntut respons yang inovatif dan berkelanjutan. World Resources Institute (WRI) Indonesia mengajukan tiga solusi berbasis alam yang dapat memperkuat ketahanan kota terhadap luapan air, sekaligus mendukung agenda hijau nasional.

Fenomena banjir perkotaan tidak hanya dipicu oleh intensitas curah hujan yang meningkat, tetapi juga oleh degradasi lahan, penurunan penyerapan air tanah, serta pembangunan infrastruktur yang kurang memperhitungkan siklus hidrologi alami. Mengingat tantangan tersebut, WRI Indonesia menekankan perlunya pendekatan ekosistem untuk mengembalikan fungsi alami daerah aliran sungai (DAS) dan area urban.

Bacaan Lainnya

Berikut tiga solusi berbasis alam yang diusulkan:

  • Restorasi Lanskap di Daerah Aliran Sungai (DAS). Upaya ini meliputi penanaman kembali hutan, pemulihan vegetasi riparian, dan rehabilitasi lahan kritis yang berperan sebagai penyangga aliran. Restorasi ini tidak hanya meningkatkan infiltrasi air, tetapi juga memperbaiki kualitas air, menurunkan erosi, serta menyediakan habitat bagi keanekaragaman hayati. Contoh implementasi telah dilakukan di wilayah Ciliwung dan Cisadane, di mana daerah yang direstorasi menunjukkan penurunan signifikan pada tingkat debit puncak selama musim hujan.
  • Pembentukan Taman Resapan (Rain Gardens) dan Area Hijau Terintegrasi. Taman resapan dirancang untuk menampung air hujan secara temporer, memperlambat aliran permukaan, dan mengubahnya menjadi air tanah. Pengintegrasian taman ini ke dalam ruang publik, seperti taman kota, lapangan olahraga, atau area komersial, dapat mengoptimalkan fungsi ganda sebagai ruang rekreasi sekaligus sarana mitigasi banjir. WRI menyoroti proyek pilot di Surabaya yang berhasil menurunkan volume aliran limpahan sebesar 15 persen pada periode hujan lebat.
  • Infrastruktur Hijau: Atap Hijau, Trotoar Berpori, dan Sistem Drainase Berkelanjutan. Penerapan atap hijau pada gedung-gedung perkantoran dan perumahan mengurangi beban pada sistem drainase kota dengan menahan curah hujan di tempat. Trotoar berpori dan paving permeabel memungkinkan air meresap ke dalam tanah, mengurangi volume aliran permukaan. WRI mengusulkan regulasi yang mewajibkan penggunaan material permeabel pada proyek pembangunan baru, terutama di kawasan padat penduduk seperti Jakarta Selatan dan Bandung Barat.

Implementasi tiga solusi tersebut memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat. WRI Indonesia menyarankan pembentukan mekanisme pembiayaan inovatif, seperti green bonds dan skema pembayaran berbasis ekosistem (Payment for Ecosystem Services/ PES), untuk mengalirkan dana ke proyek restorasi dan infrastruktur hijau.

Selain manfaat mitigasi banjir, pendekatan berbasis alam menawarkan nilai tambah ekonomi. Restorasi DAS dapat membuka peluang pekerjaan di bidang penanaman kembali, pemeliharaan, dan monitoring lingkungan. Taman resapan serta infrastruktur hijau meningkatkan nilai properti, menarik investasi, dan mengurangi biaya perawatan jaringan drainase tradisional yang mahal.

WRI Indonesia menekankan pentingnya data ilmiah dalam merancang dan memantau efektivitas solusi. Penggunaan citra satelit, sensor tanah, dan model hidrologi digital memungkinkan evaluasi real-time atas perubahan aliran air serta identifikasi area yang masih rawan banjir.

Keberhasilan tiga solusi berbasis alam ini sangat tergantung pada dukungan kebijakan yang konsisten dan penegakan standar lingkungan. Pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat menyelaraskan rencana tata ruang dengan prinsip ekosistem, serta mengintegrasikan indikator keberlanjutan ke dalam perencanaan kota.

Dengan mengadopsi solusi berbasis alam, Indonesia tidak hanya mengurangi risiko banjir, tetapi juga memperkuat komitmen pada pembangunan berkelanjutan, mitigasi perubahan iklim, dan pelestarian keanekaragaman hayati. Transformasi kota menjadi lebih hijau dan tangguh menjadi langkah strategis yang dapat menginspirasi negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Secara keseluruhan, pendekatan WRI Indonesia menegaskan bahwa mengembalikan fungsi alami lanskap perkotaan merupakan strategi paling efektif dan ekonomis untuk mengatasi banjir di masa depan.

Pos terkait