123Berita – 06 April 2026 | Pada akhir pekan lalu, sebuah insiden memilukan terjadi di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang melibatkan seorang wanita berusia tiga puluhan dari Mataram. Ia terseret arus deras dan hanyut setelah melintasi jalan yang tergenang air bah ketika baru saja kembali dari liburan bersama keluarganya. Kejadian tersebut menambah panjang daftar bencana alam yang mengancam para wisatawan, terutama pada musim hujan yang belakangan ini semakin intens.
Ketika air menggenangi jalan, aliran tiba‑tiba berubah menjadi lebih kuat. Wanita itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam aliran air yang kini mengalir deras. Upaya penyelamatan dilakukan oleh tim pemadam kebakaran dan relawan setempat yang segera dikerahkan ke lokasi. Sayangnya, meskipun telah dilakukan penanganan intensif, korban dinyatakan meninggal dunia di tempat oleh petugas medis yang tiba beberapa menit kemudian.
Insiden ini menimbulkan keprihatinan luas di kalangan masyarakat NTB, terutama para pelaku wisata yang kini mengkritisi kurangnya fasilitas penanggulangan bencana di wilayah wisata. Pemerintah daerah setempat mengakui bahwa infrastruktur jalan di beberapa daerah rawan banjir masih belum memadai, dan menegaskan komitmen untuk memperbaiki sistem peringatan dini serta meningkatkan kapasitas tim SAR.
Selain itu, pihak berwenang juga menekankan pentingnya edukasi kepada wisatawan mengenai risiko alam, terutama pada musim hujan. “Kami mengimbau semua orang untuk selalu memantau perkiraan cuaca, menghindari jalur yang terendam, dan mengikuti arahan petugas di lapangan,” ujar seorang juru bicara Dinas Penanggulangan Bencana NTB dalam konferensi pers yang digelar keesokan harinya.
Kejadian serupa bukan pertama kalinya mengganggu sektor pariwisata di daerah tersebut. Beberapa tahun terakhir, NTB pernah mengalami banjir bandang di daerah sekitar Gunung Rinjani yang menewaskan beberapa pendaki dan menghambat arus wisatawan. Kondisi geografis pulau Lombok yang berbukit dan dikelilingi oleh sungai-sungai kecil memang rawan terhadap luapan air saat curah hujan tinggi.
Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat memperparah intensitas hujan dan meningkatkan frekuensi bencana alam. “Kita harus menyiapkan infrastruktur yang lebih tahan terhadap ekstrem cuaca, termasuk drainase yang memadai, sistem peringatan dini, dan jalur evakuasi yang jelas,” kata seorang pakar meteorologi dari Universitas Mataram.
Untuk mencegah tragedi serupa di masa depan, sejumlah langkah konkret telah diusulkan. Pertama, penambahan papan peringatan berwarna cerah di titik-titik rawan banjir, lengkap dengan simbol yang mudah dipahami. Kedua, penyediaan jalur alternatif yang lebih tinggi dan aman bagi kendaraan serta pejalan kaki. Ketiga, pelatihan reguler bagi tim SAR dan relawan lokal agar respons mereka lebih cepat dan terkoordinasi.
Di samping upaya pemerintah, peran serta masyarakat juga sangat penting. Kegiatan gotong‑royong membersihkan saluran air, penanaman pohon di daerah tangkapan air, serta partisipasi dalam simulasi evakuasi dapat memperkuat ketahanan komunitas terhadap bencana. Komunitas wisata lokal juga diharapkan dapat menyediakan informasi real‑time tentang kondisi jalan kepada para pelancong melalui aplikasi atau media sosial.
Kasus wanita Mataram yang tragis ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak—baik pemerintah, pelaku industri pariwisata, maupun wisatawan—bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama. Keindahan alam NTB tetap menjadi magnet utama bagi para pelancong, namun tanpa kesiapan dan kewaspadaan, potensi bahaya alam dapat mengubah liburan menjadi mimpi buruk.
Dengan menindaklanjuti rekomendasi yang ada dan meningkatkan koordinasi lintas sektor, diharapkan NTB dapat kembali menjadi destinasi wisata yang aman dan nyaman. Kematian sang korban menjadi duka yang mendalam, namun sekaligus menjadi momentum penting untuk memperkuat sistem mitigasi bencana di wilayah yang kaya akan potensi alam ini.





