123Berita – 07 April 2026 | Jakarta, 7 April 2026 – Waskita Karya (WIKA) resmi mengumumkan keputusan strategis untuk tidak lagi melanjutkan keterlibatannya dalam proyek kereta cepat Whoosh setelah mengalami kerugian yang terus meningkat. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Chief Operating Officer (COO) WIKA, Danantara Dony Oskaria, dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri oleh sejumlah pejabat kementerian terkait dan perwakilan media massa.
Proyek Whoosh, yang awalnya direncanakan menjadi ikon transportasi modern di Indonesia, mengalami sejumlah hambatan sejak tahap perencanaan. Keterlambatan dalam penyelesaian studi kelayakan, perubahan regulasi, serta fluktuasi nilai tukar mata uang asing menjadi faktor-faktor utama yang memperparah kondisi keuangan. Pada kuartal terakhir, kerugian yang dialami WIKA diperkirakan telah membengkak hingga ratusan miliar rupiah, menimbulkan tekanan signifikan pada neraca perusahaan.
Keputusan ini juga menimbulkan dampak yang luas bagi ekosistem infrastruktur nasional. Pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan, kini harus mencari mitra baru atau alternatif pendanaan untuk melanjutkan proyek Whoosh. Dalam pernyataannya, Menteri Perhubungan menegaskan komitmen pemerintah untuk tetap mewujudkan visi transportasi cepat, namun dengan skema yang lebih realistis dan mengurangi beban risiko pada kontraktor domestik. “Kami menghargai kontribusi WIKA selama ini, dan akan segera melakukan evaluasi terhadap mekanisme kerja sama selanjutnya. Tujuan utama kami tetap mengoptimalkan mobilitas masyarakat dengan cara yang efisien dan berkelanjutan,” kata Menteri.
Analisis para pakar ekonomi menilai bahwa penarikan WIKA dapat menjadi sinyal bagi pelaku industri lain untuk lebih berhati-hati dalam menanggapi proyek-proyek infrastruktur berskala besar yang masih mengandung ketidakpastian tinggi. Dr. Budi Santoso, dosen ekonomi di Universitas Indonesia, menyatakan, “Kasus ini memperlihatkan pentingnya penilaian risiko yang holistik, tidak hanya dari sisi teknis tetapi juga dari sisi keuangan. Pemerintah dan BUMN harus lebih selektif dalam menandatangani kontrak dengan nilai investasi yang signifikan.”
Selain faktor finansial, aspek teknis juga menjadi pertimbangan. Proyek Whoosh mengandalkan teknologi kereta cepat yang masih dalam tahap pengembangan, sehingga menimbulkan tantangan dalam hal standar keselamatan, integrasi sistem, dan ketersediaan tenaga kerja terampil. WIKA, yang memiliki rekam jejak kuat dalam proyek konvensional seperti jalan tol dan jembatan, menghadapi kurva belajar yang curam dalam mengelola proyek transportasi berkecepatan tinggi.
Di sisi lain, keputusan WIKA membuka peluang bagi perusahaan asing atau konsorsium multinasional yang memiliki pengalaman lebih dalam bidang kereta cepat. Beberapa nama besar di industri, seperti China Railway Construction Corporation (CRCC) dan Japan Transport Engineering Company (J-TREC), telah menyatakan minat untuk berpartisipasi dalam proyek tersebut, dengan menawarkan model pembiayaan yang lebih fleksibel dan teknologi yang telah teruji.
Dalam rangka meminimalisir dampak sosial ekonomi, WIKA berjanji akan tetap mendukung tenaga kerja yang terlibat dalam proyek Whoosh. “Kami akan memastikan bahwa seluruh pekerja yang telah terikat kontrak akan diberikan kompensasi yang layak dan, bila memungkinkan, dipindahkan ke proyek lain yang berada dalam portofolio kami,” tegas Oskaria. Langkah ini diharapkan dapat meredam potensi keresahan di kalangan pekerja dan serikat buruh.
Secara keseluruhan, penarikan WIKA dari proyek kereta cepat Whoosh menandai perubahan signifikan dalam lanskap infrastruktur transportasi Indonesia. Meskipun menimbulkan tantangan baru, keputusan ini juga membuka ruang bagi penataan ulang strategi pembiayaan, peningkatan kualitas perencanaan, dan kolaborasi yang lebih inklusif antara pemerintah, BUMN, dan investor asing. Dengan pendekatan yang lebih terukur, diharapkan proyek Whoosh tetap dapat terwujud, sekaligus memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi negara.