WIKA Luncurkan Proyek Tol Layang Ancol‑Pluit Senilai Rp5 Triliun, Target Selesai 2026

WIKA Luncurkan Proyek Tol Layang Ancol‑Pluit Senilai Rp5 Triliun, Target Selesai 2026
WIKA Luncurkan Proyek Tol Layang Ancol‑Pluit Senilai Rp5 Triliun, Target Selesai 2026

123Berita – 07 April 2026 | PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), salah satu BUMN konstruksi terkemuka di Indonesia, resmi memulai pengerjaan tol layang Ancol Timur‑Pluit, yang juga dikenal sebagai Harbour Road II. Proyek strategis ini diperkirakan menelan biaya sekitar lima triliun rupiah dan dijadwalkan rampung pada akhir tahun 2026.

Jalan tol layang yang direncanakan memiliki panjang sekitar 4,2 kilometer, menghubungkan kawasan Ancol Timur dengan Pelabuhan Pluit di wilayah Utara Jakarta. Dengan desain elevated, proyek ini bertujuan mengurangi kemacetan yang kerap melanda ruas jalan utama di sekitarnya, sekaligus memperlancar aliran barang dan penumpang antara dua titik penting tersebut.

Bacaan Lainnya

Berikut beberapa data utama proyek:

  • Panjang: ~4,2 km (jalur utama) dengan beberapa ramp masuk‑keluar.
  • Biaya: Rp5 triliun, dibiayai melalui kombinasi anggaran negara, pinjaman bank, dan pendanaan internal WIKA.
  • Target penyelesaian: Desember 2026.
  • Manfaat: Diperkirakan dapat mengurangi waktu tempuh perjalanan antara Ancol dan Pluit hingga 30 persen.

Infrastruktur ini diharapkan menjadi tulang punggung transportasi di kawasan Utara Jakarta, menghubungkan daerah wisata Ancol, kawasan industri di Pluit, serta akses ke Pelabuhan Muara Baru. Dengan mengalihkan sebagian arus kendaraan ke jalur elevasi, pemerintah menargetkan penurunan signifikan pada tingkat kemacetan jalan permukaan, terutama pada jam‑jam sibuk pagi dan sore.

Dari sisi ekonomi, proyek tol layang ini diproyeksikan menciptakan ribuan lapangan kerja selama fase konstruksi dan memberikan stimulus bagi sektor material konstruksi, alat berat, serta layanan pendukung. Setelah operasional, pendapatan tol diharapkan dapat menambah penerimaan negara melalui bagi hasil, sekaligus mengoptimalkan distribusi logistik di wilayah tersebut.

Namun, tidak terlepas dari tantangan. Proses perolehan lahan di wilayah padat penduduk dan kawasan komersial memerlukan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah serta pemilik properti. Selain itu, aspek teknis seperti penanganan tanah lunak, mitigasi risiko gempa, serta perlindungan lingkungan laut di sekitar Pelabuhan Pluit menjadi fokus utama tim engineering WIKA.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Direktur Utama WIKA menegaskan komitmen perusahaan untuk menyelesaikan proyek tepat waktu dan sesuai standar kualitas internasional. “Tol layang Ancol‑Pluit akan menjadi ikon infrastruktur modern yang tidak hanya mengurangi kemacetan, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi bagi wilayah Utara Jakarta,” ungkapnya.

Proyek ini juga sejalan dengan program pembangunan infrastruktur nasional yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia, khususnya dalam rangka meningkatkan konektivitas antar‑pulau dan memperkuat jaringan transportasi di ibukota. Sebagai perbandingan, proyek tol layang lainnya seperti Jalan Tol Layang Jakarta‑Bogor yang selesai pada 2022, menunjukkan peningkatan kapasitas lalu lintas hingga 40.000 kendaraan per hari.

Jika berjalan sesuai rencana, tol layang Ancol‑Pluit akan melayani lebih dari 70.000 kendaraan harian pada tahun pertama operasionalnya. Hal ini diharapkan dapat meredam beban pada jalan‑jalan alternatif seperti Jalan Lodan dan Jalan Pluit 1, yang selama ini menjadi jalur utama bagi pengendara.

Kesimpulannya, peluncuran proyek tol layang ini menandai langkah signifikan dalam upaya mengatasi kemacetan Jakarta Utara, sekaligus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi regional. Dengan dukungan finansial yang kuat, teknologi konstruksi modern, serta komitmen WIKA, target penyelesaian pada akhir 2026 tampak realistis dan menjadi harapan besar bagi jutaan warga yang bergantung pada mobilitas harian di kawasan tersebut.

Pos terkait