123Berita – 07 April 2026 | PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), anak perusahaan konstruksi terkemuka PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, resmi mengumumkan kemenangan tender proyek kereta bawah tanah terbesar di Filipina, Metro Manila Subway (MMS). Dengan nilai kontrak mencapai Rp 1,87 triliun, proyek ini menandai tonggak penting bagi WIKA Beton dalam upaya memperluas jejaknya ke pasar internasional, khususnya Asia Tenggara.
Metro Manila Subway adalah inisiatif pemerintah Filipina untuk mengatasi kemacetan kronis di wilayah ibukota Manila. Sistem kereta bawah tanah seluas 36 kilometer ini direncanakan akan menghubungkan enam distrik utama, melintasi lebih dari 200 stasiun, dan diharapkan melayani jutaan penumpang setiap harinya. Proyek ini didanai melalui kombinasi dana pemerintah, pinjaman multilateral, dan investasi swasta, dengan total biaya perkiraan mencapai US$12,5 miliar.
WIKA Beton berhasil mengamankan kontrak tersebut setelah proses seleksi yang melibatkan lebih dari dua puluh perusahaan konstruksi global. Penawaran WIKA Beton menonjolkan keunggulan dalam teknologi beton bertulang pra‑cetak, manajemen risiko, serta rekam jejak pelaksanaan proyek infrastruktur berskala besar di Indonesia, termasuk pembangunan jalur LRT, MRT, dan sejumlah jembatan strategis.
Berikut beberapa poin kunci dari kontrak Metro Manila Subway:
- Nilai kontrak: Rp 1,87 triliun (sekitar US$12,5 miliar).
- Ruang lingkup kerja: Penyediaan material beton pra‑cetak, pelaksanaan struktur utama terowongan, serta supervisi kualitas selama fase konstruksi.
- Durasi proyek: Diperkirakan selesai dalam 7 tahun sejak start-up pada kuartal kedua 2024.
- Tim lokal: WIKA Beton akan menempatkan lebih dari 1.200 tenaga kerja Filipina, termasuk insinyur, teknisi, dan pekerja lapangan.
Direktur Utama WIKA Beton, Budi Santoso, menekankan bahwa proyek ini tidak sekadar menambah portofolio perusahaan, melainkan memperkuat posisi Indonesia sebagai penyedia layanan infrastruktur kompetitif di kawasan. “Kami melihat Metro Manila Subway sebagai peluang strategis untuk menunjukkan kemampuan teknis dan manajerial kami di panggung internasional. Keberhasilan kami di sini akan membuka pintu bagi proyek‑proyek serupa di Asia Tenggara,” ujarnya dalam konferensi pers pada 5 April 2024.
Selain manfaat finansial, proyek ini diharapkan memberi dampak sosial‑ekonomi yang signifikan. Dengan menghubungkan kawasan industri, pusat bisnis, dan pemukiman padat penduduk, MMS dapat mengurangi waktu perjalanan rata‑rata warga Manila hingga 40 persen. Penurunan kemacetan akan meningkatkan produktivitas, menurunkan emisi karbon, dan memperbaiki kualitas hidup.
Dalam konteks hubungan bilateral Indonesia‑Filipina, kolaborasi ini menandakan peningkatan kepercayaan antara kedua negara dalam bidang infrastruktur. Pemerintah Filipina secara resmi menyatakan apresiasi atas keikutsertaan perusahaan Indonesia dalam proyek strategis nasional, sementara Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan.
Namun, tantangan tidak dapat diabaikan. Konstruksi terowongan di wilayah dengan kondisi geotekstil kompleks, serta kebutuhan koordinasi dengan otoritas lokal yang memiliki regulasi berbeda, memerlukan pendekatan manajemen risiko yang cermat. WIKA Beton berencana mengadopsi metode Building Information Modeling (BIM) terkini serta mengintegrasikan sistem kontrol kualitas berbasis sensor untuk meminimalkan potensi keterlambatan.
Secara finansial, kontrak ini akan menambah pendapatan luar negeri WIKA Beton secara signifikan. Diproyeksikan, kontribusi proyek MMS dapat meningkatkan total pendapatan tahunan perusahaan sebesar 12 persen pada tahun fiskal 2025‑2026, sekaligus memperkuat neraca dengan arus kas masuk yang stabil.
Keberhasilan pelaksanaan Metro Manila Subway tidak hanya menjadi kebanggaan WIKA Beton, tetapi juga memperlihatkan kemampuan industri konstruksi Indonesia dalam bersaing secara global. Dengan mengedepankan inovasi, kualitas, dan kolaborasi lintas negara, WIKA Beton menegaskan komitmen jangka panjangnya untuk menjadi pemain utama di pasar infrastruktur Asia.
Proyek ini diperkirakan akan selesai pada akhir 2031, dengan harapan dapat segera memberikan manfaat transportasi massal yang handal bagi jutaan penduduk Manila. Kesuksesan pelaksanaan MMS akan menjadi bukti konkret bahwa perusahaan Indonesia dapat mengelola proyek mega‑infrastruktur di luar negeri dengan standar internasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai hub kompetensi teknik sipil di kawasan.