123Berita – 06 April 2026 | PT Wijaya Karya (WIKA) mengonfirmasi bahwa proyek kereta cepat Whoosh menimbulkan kerugian tahunan sebesar antara Rp1,7 hingga Rp1,8 triliun. Angka tersebut mencuat dalam laporan keuangan terbaru perusahaan dan menimbulkan pertanyaan serius tentang kelayakan ekonomi proyek infrastruktur berskala besar.
Whoosh, yang direncanakan menjadi jaringan kereta berkecepatan tinggi pertama di Indonesia, merupakan kolaborasi antara pemerintah, konsorsium China Railway International, serta sejumlah mitra lokal. Proyek ini diharapkan memotong waktu tempuh antara Jakarta dan Bandung menjadi kurang dari satu jam, sekaligus menjadi simbol modernisasi transportasi nasional.
Namun, sejak dimulainya konstruksi, biaya yang dibebankan kepada WIKA melampaui perkiraan awal. Rincian internal menunjukkan bahwa fluktuasi harga bahan baku, terutama baja dan semen, serta penyesuaian desain yang harus dilakukan karena kondisi lapangan, menjadi penyumbang utama. Selain itu, keterlambatan dalam penyelesaian fase-fase kritis menambah beban bunga pinjaman dan denda keterlambatan.
Dampak finansialnya terasa nyata pada laporan laba rugi perusahaan. Pendapatan operasional proyek Whoosh masih berada di tahap awal, sementara beban operasional dan biaya penyelesaian terus meningkat. Akibatnya, margin keuntungan WIKA menyusut signifikan, memaksa manajemen menurunkan proyeksi laba bersih untuk tahun fiskal berjalan.
Beberapa penyebab yang diidentifikasi meliputi penundaan perizinan, perubahan regulasi lingkungan, serta kebutuhan penyesuaian teknis pada jalur yang melintasi wilayah rawan gempa. Setiap penyesuaian menambah kompleksitas proyek dan menuntut alokasi ulang anggaran yang pada awalnya telah dialokasikan untuk komponen lain.
Pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan, menyatakan komitmen untuk mendukung kelancaran proyek, namun menegaskan pentingnya evaluasi ulang skema pembiayaan. Sementara itu, WIKA telah mengajukan restrukturisasi utang dan menegosiasikan kembali syarat-syarat kontrak dengan kontraktor utama guna meredam tekanan likuiditas.
Para analis pasar menilai bahwa kerugian ini dapat memengaruhi persepsi investor terhadap WIKA. Rating kredit perusahaan diperkirakan akan mengalami penurunan jika beban kerugian tidak teratasi dalam jangka menengah. Di sisi lain, saham WIKA sempat mengalami volatilitas tinggi, mencerminkan kekhawatiran tentang kemampuan perusahaan mengembalikan nilai bagi pemegang saham.
Jika dibandingkan dengan proyek infrastruktur lain, seperti pembangunan jalan tol Trans Sumatra atau proyek pembangkit listrik tenaga air, Whoosh menunjukkan tingkat risiko finansial yang lebih besar. Hal ini terutama disebabkan oleh ketidakpastian regulasi dan ketergantungan pada teknologi yang masih baru bagi pasar domestik.
Reaksi publik juga tidak dapat diabaikan. Konsumen dan aktivis publik menyoroti beban fiskal yang harus ditanggung pemerintah, mengingat anggaran negara sudah diprioritaskan pada sektor kesehatan dan pendidikan. Kekhawatiran ini menambah tekanan politik bagi para pengambil keputusan.
Untuk mengurangi kerugian, WIKA berencana memperketat pengendalian biaya, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperluas portofolio proyek di sektor lain seperti konstruksi gedung komersial dan infrastruktur energi terbarukan. Diversifikasi ini diharapkan dapat menyeimbangkan arus kas dan menurunkan ketergantungan pada satu proyek besar.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa jika proyek Whoosh dapat mencapai fase operasional penuh dalam lima tahun ke depan, aliran pendapatan tiket serta pendapatan sampingan dari layanan logistik dapat mengurangi beban kerugian. Namun, realisasi target tersebut masih bergantung pada penyelesaian masalah teknis dan kebijakan dukungan pemerintah.
Kesimpulannya, kerugian Rp1,8 triliun per tahun yang dihadapi WIKA menandai tantangan berat dalam pelaksanaan proyek kereta cepat Whoosh. Penyebab utama meliputi biaya material yang melonjak, penundaan konstruksi, serta perubahan regulasi. Langkah restrukturisasi keuangan, peningkatan efisiensi, dan diversifikasi usaha menjadi kunci untuk menstabilkan kinerja perusahaan sekaligus memastikan proyek infrastruktur strategis ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi mobilitas nasional.