123Berita – 04 April 2026 | Paskah tahun ini menjadi momen penting bagi warga Hong Kong yang ingin berlibur. Data terbaru menunjukkan peningkatan kunjungan ke destinasi wisata di China sebesar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan ketegangan yang terus memuncak di wilayah Timur Tengah, yang memaksa banyak pelancong mencari alternatif aman dan nyaman.
Berbagai kota di China, mulai dari Guangzhou, Shenzhen, hingga Shanghai, mencatat lonjakan pemesanan hotel dan tiket transportasi. Hotel‑hotel kelas menengah hingga mewah melaporkan tingkat okupansi mendekati puncak kapasitas, sementara maskapai penerbangan regional melaporkan peningkatan penjualan tiket pada rute Hong Kong‑China sebesar hampir sepertiga.
- Pengunjung dari Hong Kong ke China meningkat 30% selama minggu Paskah.
- Hotel di Guangzhou mencatat tingkat hunian 92% pada periode tersebut.
- Maskapai penerbangan regional melaporkan kenaikan penjualan tiket sebesar 28% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain faktor keamanan, ada beberapa alasan lain yang memperkuat keputusan warga Hong Kong untuk memilih China sebagai destinasi liburan. Pertama, kedekatan geografis memungkinkan perjalanan singkat dengan waktu tempuh hanya beberapa jam menggunakan kereta cepat atau penerbangan singkat. Kedua, kebijakan visa masuk yang relatif mudah bagi warga Hong Kong, termasuk fasilitas visa on arrival di beberapa kota besar, mengurangi beban administratif.
Selanjutnya, penawaran paket wisata yang menarik turut mendorong minat. Agen perjalanan lokal menyesuaikan paket dengan tema budaya, kuliner, serta belanja, menggabungkan kunjungan ke landmark ikonik seperti Menara Canton, Taman Yuyuan, serta distrik perbelanjaan Nanjing Road. Paket-paket tersebut sering kali dilengkapi dengan layanan transportasi antar‑kota, sehingga pelancong dapat memaksimalkan waktu libur mereka.
Para ahli pariwisata menilai bahwa fenomena ini mencerminkan pergeseran pola perjalanan pasca‑pandemi, di mana wisatawan lebih mengutamakan destinasi yang dapat dijangkau dengan cepat, memiliki infrastruktur transportasi yang baik, serta menawarkan tingkat keamanan yang terjamin. “Krisis di Timur Tengah memang menimbulkan ketidakpastian, namun hal itu juga membuka peluang bagi destinasi regional seperti China untuk menarik pasar wisatawan yang sebelumnya lebih mengincar Eropa atau Amerika,” ujar Dr. Li Wei, dosen Fakultas Pariwisata Universitas Shanghai.
Di sisi lain, otoritas pariwisata China juga memanfaatkan momentum ini dengan meningkatkan promosi wisata melalui media sosial dan kampanye digital yang menargetkan warga Hong Kong. Program diskon khusus pada akomodasi, tiket masuk objek wisata, serta penawaran kuliner tradisional menjadi daya tarik tambahan. Upaya ini sejalan dengan strategi China untuk memperkuat hubungan ekonomi dan budaya dengan Hong Kong, terutama dalam konteks integrasi wilayah Greater Bay Area.
Meski data menunjukkan tren positif, beberapa tantangan tetap ada. Kenaikan volume wisatawan dapat menimbulkan tekanan pada infrastruktur lokal, terutama pada musim liburan yang sudah padat. Pemerintah kota-kota tujuan di China telah mengumumkan rencana penambahan kapasitas transportasi publik dan peningkatan layanan kebersihan untuk menjaga kualitas pengalaman wisatawan.
Secara keseluruhan, pilihan warga Hong Kong untuk berlibur ke China selama Paskah mencerminkan dinamika baru dalam perilaku perjalanan internasional. Keamanan, kemudahan akses, dan penawaran paket yang kompetitif menjadi faktor kunci yang mendorong keputusan mereka. Dengan meningkatnya permintaan, baik otoritas Hong Kong maupun China diperkirakan akan terus berkolaborasi dalam memfasilitasi arus wisatawan, sekaligus memastikan bahwa pertumbuhan tersebut berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.