Trump Kembali Melontarkan Keluhan ke NATO dan Singgung Greenland: Apa Motif di Baliknya?

123Berita – 10 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengekspresikan rasa tidak puasnya terhadap aliansi militer NATO dalam pertemuan dengan perwakilan aliansi tersebut. Tidak hanya menyoroti beban finansial yang dirasa tidak proporsional, Trump juga mengangkat kembali isu Greenland, sebuah pulau di wilayah Kutub Utara yang pernah menjadi bahan perbincangan hangat pada masa kepresidenannya sebelumnya. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan mengapa topik Greenland muncul kembali, dan apa implikasinya bagi hubungan trans-Atlantik.

Dalam sebuah pernyataan singkat yang disampaikan kepada wartawan, Trump menegaskan bahwa negara-negara anggota NATO masih belum memenuhi target kontribusi pertahanan sebesar 2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) masing‑masing. “Kami sudah menunggu terlalu lama. Amerika sudah membayar terlalu banyak, sementara sekutu kita masih berkeluh‑keluh,” kata Trump dengan nada tegas. Pernyataan ini mencerminkan sikap kerasnya terhadap apa yang ia sebut sebagai “beban tidak adil” yang harus dipikul oleh Washington dalam mempertahankan keamanan Eropa.

Bacaan Lainnya

Ketika ditanya mengenai alasan mengangkat kembali isu Greenland, Trump menjawab bahwa pulau tersebut memiliki nilai strategis yang tidak dapat diabaikan. “Greenland bukan sekadar es dan salju. Letaknya di tengah Atlantik Utara membuatnya menjadi pos terpenting untuk pertahanan, pengawasan maritim, dan bahkan potensi energi,” ujarnya. Meskipun tidak ada rencana konkret untuk membeli pulau itu, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat harus terus mempertimbangkan kepentingan strategis di wilayah tersebut.

Berbicara tentang latar belakang, perlu diingat bahwa pada tahun 2019, Trump sempat mengusulkan penawaran US$ 1,3 miliar untuk membeli Greenland dari Denmark. Proposal tersebut ditolak keras oleh pemerintah Denmark dan menimbulkan kecaman internasional. Meski kemudian ditutup, jejak percakapan itu masih membekas dalam ingatan publik. Sekarang, dengan munculnya kembali topik tersebut, sejumlah analis menilai bahwa Trump menggunakan Greenland sebagai kartu tawar untuk menekan NATO sekaligus mengingatkan sekutu Eropa tentang pentingnya kerjasama pertahanan yang seimbang.

Beberapa faktor yang mungkin melatarbelakangi komentar Trump antara lain:

  • Isu beban pertahanan: Trump berulang kali menyoroti ketidaksesuaian antara kontribusi keuangan NATO dan manfaat yang diterima. Dengan menegaskan kembali komitmen finansial, ia berharap memaksa sekutu Eropa untuk meningkatkan belanja pertahanan mereka.
  • Keamanan di Kutub Utara: Perubahan iklim membuka jalur pelayaran baru melalui Laut Arktik. Greenland, yang terletak di persimpangan jalur tersebut, menjadi titik strategis bagi militer AS untuk memantau aktivitas Rusia dan China di wilayah tersebut.
  • Politik dalam negeri: Mengangkat isu Greenland dapat memperkuat citra Trump sebagai pemimpin yang tegas dalam melindungi kepentingan Amerika, sebuah narasi yang sangat penting bagi basis pendukungnya.
  • Tekanan pada NATO: Dengan mengaitkan isu Greenland, Trump secara tidak langsung menekankan pentingnya kehadiran militer Amerika di kawasan Atlantik Utara, sekaligus menantang aliansi untuk menanggapi ancaman baru.

Reaksi dari negara‑negara NATO tidaklah seragam. Beberapa sekutu, seperti Jerman dan Prancis, menegaskan komitmen mereka untuk meningkatkan belanja pertahanan dalam tiga tahun ke depan. Sementara itu, Inggris mengumumkan rencana modernisasi armada lautnya, termasuk penempatan kapal perang di wilayah Arktik. Namun, tidak semua pihak menyambut baik pernyataan Trump. Pemerintah Denmark, yang menguasai Greenland, menolak spekulasi mengenai kemungkinan penjualan kembali pulau tersebut dan menegaskan bahwa keputusan apapun harus melalui proses demokratis dan konsultasi luas.

Para pengamat geopolitik menilai bahwa komentar Trump tentang Greenland lebih bersifat sinyal politik daripada kebijakan konkret. “Trump ingin mengingatkan NATO bahwa Amerika Serikat masih menjadi garda terdepan, dan ia menggunakan Greenland sebagai contoh konkret dari kepentingan strategis yang harus dipertimbangkan bersama,” kata Dr. Arief Satria, pakar hubungan internasional di Universitas Indonesia. Ia menambahkan bahwa fokus utama Trump tetap pada menegosiasikan pembagian beban pertahanan yang lebih adil, sementara Greenland berfungsi sebagai katalis untuk menyoroti pergeseran fokus keamanan global ke arah Kutub Utara.

Di sisi lain, Rusia dan China juga menaruh mata pada Greenland. Kedua negara tersebut telah meningkatkan aktivitas militer dan riset di wilayah Arktik, yang memicu keprihatinan Washington. Oleh karena itu, penekanan Trump pada pulau itu dapat dilihat sebagai upaya untuk mengamankan posisi AS dalam persaingan geopolitik yang semakin kompleks di kawasan tersebut.

Kesimpulannya, keluhan Trump terhadap NATO dan penyebutan kembali Greenland mencerminkan kombinasi faktor: ketidakpuasan atas kontribusi pertahanan sekutu, kepentingan strategis di wilayah Arktik, serta kebutuhan politik domestik untuk menunjukkan ketegasan. Bagaimana NATO dan sekutu Amerika menanggapi tekanan ini akan menentukan arah kerjasama pertahanan trans‑Atlantik dalam beberapa tahun mendatang, terutama dengan semakin intensnya persaingan di Kutub Utara.

Pos terkait