123Berita – 08 April 2026 | Air Terjun Tibu Ijo yang terletak di Kabupaten Lombok Barat kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah kecelakaan fatal menelan korban jiwa. Liza Pratiwi, seorang wanita berusia 25 tahun, dilaporkan tewas setelah terseret arus deras di sungai yang mengalir di bawah aliran air terjun tersebut. Jasad korban baru ditemukan pada hari ketiga pencarian, terjepit di antara bebatuan besar dan harus dievakuasi menggunakan alat berat.
Wisata alam Tibu Ijo memang terkenal dengan keindahan hijau pepohonan, kolam alami berwarna biru kehijauan, serta deburan air yang menambah daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Sebelum insiden ini, lokasi tersebut telah menjadi destinasi favorit bagi para pecinta foto alam, pendaki ringan, dan keluarga yang ingin menikmati suasana sejuk pegunungan. Namun, pesona alamnya sekaligus menyimpan risiko yang sering terabaikan, terutama pada musim hujan ketika debit sungai meningkat secara signifikan.
Setelah kejadian, keluarga Liza melaporkan kehilangan tersebut ke pihak kepolisian setempat. Tim SAR (Search and Rescue) segera dikerahkan, dipadukan dengan relawan lokal yang familiar dengan medan berbukit. Pencarian berlangsung intensif selama tiga hari, namun kondisi cuaca yang tidak menentu serta medan yang licin memperlambat proses. Pada hari ketiga, tim penyelamat menggunakan kamera termal dan drone untuk menelusuri area yang sulit dijangkau.
Usaha tersebut membuahkan hasil ketika sebuah tim menemukan bagian tubuh Liza yang terjepit di antara dua batu besar di kedalaman sungai. Karena posisi tubuh yang sulit dijangkau, petugas memutuskan menggunakan excavator mini dan alat berat lainnya untuk mengangkat batu-batu tersebut secara perlahan. Proses evakuasi memakan waktu beberapa jam, namun akhirnya jasad Liza berhasil diangkat dan dibawa ke rumah sakit setempat untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Pihak kepolisian setempat, melalui juru bicara, menyatakan bahwa penyelidikan masih berjalan untuk memastikan penyebab pasti terjadinya kecelakaan. Mereka menekankan pentingnya kesadaran akan potensi bahaya alam, terutama bagi wisatawan yang kurang familiar dengan kondisi geografis setempat. “Kami mengimbau semua pengunjung untuk selalu mematuhi petunjuk keamanan, tidak berani mengambil risiko di area yang berbahaya, dan selalu mengawasi anak-anak atau orang yang tidak berpengalaman,” ujar pernyataan resmi.
Pengurus Balai Wisata Lombok Barat menambahkan bahwa mereka akan segera meninjau kembali fasilitas keselamatan di Tibu Ijo. Rencana perbaikan meliputi pemasangan papan peringatan yang jelas, penambahan pagar pengaman di area berbahaya, serta pelatihan petugas keamanan untuk merespons situasi darurat dengan lebih cepat. “Kecelakaan ini menjadi pelajaran berharga bagi kami untuk meningkatkan standar keamanan demi melindungi pengunjung,” ujar kepala balai wisata.
Berbagai reaksi muncul dari masyarakat luas, terutama di media sosial, di mana netizen mengungkapkan rasa duka mendalam sekaligus menuntut tindakan konkret agar tragedi serupa tidak terulang. Beberapa komentar menyoroti perlunya regulasi lebih ketat terkait aktivitas wisata alam, termasuk pembatasan jumlah pengunjung pada hari-hari tertentu dan penetapan jam operasional yang memperhatikan kondisi cuaca.
Insiden ini juga menambah daftar panjang kecelakaan di destinasi wisata alam Indonesia, yang sering kali dipicu oleh kombinasi kurangnya pengetahuan pengunjung dan minimnya infrastruktur keamanan. Menurut data Kementerian Pariwisata, kecelakaan di wilayah pegunungan dan perairan meningkat 12 persen selama lima tahun terakhir, menandakan kebutuhan mendesak untuk evaluasi kebijakan keselamatan.
Dengan berlalunya beberapa hari sejak kejadian, keluarga Liza Pratiwi masih berada dalam proses berduka. Mereka berharap agar tragedi ini menjadi peringatan bagi semua pihak—baik pengelola, pemerintah, maupun wisatawan—untuk lebih memperhatikan faktor risiko alam. Sementara itu, pihak berwenang terus melakukan investigasi lebih lanjut demi memberikan kepastian hukum dan rekomendasi perbaikan yang dapat mencegah kejadian serupa di masa depan.





