123Berita – 04 April 2026 | Jakarta, 3 April 2026 – Sebuah forum publik bertajuk “Between Brain and Soul: A Psychiatrist’s Perspective on Tasawuf and Mental Health” digelar di VVIP Hall Masjid Istiqlal, menandai pertemuan antara ilmu neurosains modern dan spiritualitas Islam. Acara yang diselenggarakan oleh Edutolia Education bekerja sama dengan Universitas Üsküdar, Turki ini menjadi bukti nyata kolaborasi akademik lintas negara dalam upaya memperdalam pemahaman tentang kesehatan mental melalui kacamata tasawuf.
Acara dimulai dengan sambutan CEO dan Founder Edutolia Education, Ibrahim Albayrak, yang menekankan pentingnya memperkuat jaringan komunikasi dan pendidikan antara Indonesia dan Turki. Menurutnya, kolaborasi ini bukan sekadar seremonial, melainkan langkah strategis untuk membuka akses bagi mahasiswa Indonesia ke program pendidikan internasional yang berstandar dunia. “Kami berharap inisiatif ini dapat menginspirasi generasi muda serta mempererat hubungan budaya yang telah lama terjalin,” ujar Albayrak.
Selanjutnya, Direktur Hubungan Internasional Universitas Üsküdar, Peyman Jafari, menyoroti posisi unik institusinya sebagai universitas tematik pertama di Turki yang mengkhususkan diri pada ilmu kesehatan. Dengan lebih dari 50.000 lulusan dan sekitar 5.000 mahasiswa internasional dari 100 negara, Üsküdar menargetkan untuk memperluas jejak akademiknya ke Indonesia. Jafari menambahkan, fasilitas kelas dunia seperti NP Brain Hospital menjadi landasan kuat bagi riset neuropsikiatri yang dapat berkontribusi pada pemahaman tasawuf dalam konteks ilmiah.
Pihak Kementerian Agama Republik Indonesia, yang diwakili oleh Gugun Gumilar, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menekankan bahwa kerja sama seharusnya tidak berhenti pada satu acara, melainkan meluas ke institusi pendidikan lain di bawah naungan kementerian. Gugun juga mengumumkan rencana pembentukan “Turkish Corner” di Masjid Istiqlal sebagai pusat informasi bagi mahasiswa yang tertarik mengejar studi di Turki.
Forum ini tidak hanya menjadi arena dialog akademik, melainkan juga simbol diplomasi budaya. Kedutaan Besar Turki serta Kementerian Agama RI mendukung penuh pelaksanaan acara, yang juga melibatkan Metro TV dan Medcom.id sebagai media partner. Rektor Üsküdar University, Prof. Dr. Nevzat Tarhan, serta Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, hadir sebagai narasumber utama, menambah bobot intelektual diskusi.
Dalam sesi tanya jawab, Binar Idris, mahasiswa jurnalistik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, menyoroti bagaimana pemikiran sufi seperti Jalaluddin Rumi dapat diintegrasikan ke dalam praktik psikiatri. Ia menjelaskan bahwa konsep “berserah diri” dalam tasawuf memberikan efek menenangkan pada pikiran, yang sejalan dengan temuan neurosains tentang regulasi emosi melalui jaringan limbik. “Sains dan agama saling melengkapi; sains menuntun pada penemuan, agama memberi kedamaian batin,” ujar Binar.
Para pakar menegaskan bahwa tasawuf bukan sekadar ritual spiritual, melainkan sebuah kerangka psikologis yang dapat memperkuat resilien mental. Prof. Dr. Nevzat Tarhan menjelaskan bahwa praktik meditasi tasawuf mengaktifkan area otak yang berhubungan dengan perhatian dan regulasi stres, serupa dengan teknik mindfulness yang telah terbukti secara ilmiah. Ia menambahkan, kolaborasi semacam ini membuka peluang riset interdisipliner yang dapat menghasilkan pendekatan terapi baru bagi penderita gangguan kecemasan atau depresi.
Di sisi lain, perwakilan Üsküdar University mengumumkan pembukaan kantor perwakilan resmi di Indonesia. Kantor ini akan berfungsi sebagai hub informasi bagi calon mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan studi di Turki, sekaligus menjadi pusat layanan bagi mereka yang ingin mengeksplorasi program kesehatan mental berbasis tasawuf.
Acara ini juga menarik minat generasi muda yang tengah mencari keseimbangan antara perkembangan ilmiah dan nilai spiritual. Sebagian peserta melaporkan bahwa dialog antara psikiater dan ulama membuka perspektif baru tentang bagaimana mengintegrasikan praktik keagamaan ke dalam perawatan kesehatan mental modern. Mereka berharap inisiatif serupa dapat diadakan secara berkala, baik di Indonesia maupun di negara lain.
Dengan menggabungkan dua ranah yang sering dianggap terpisah, forum ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan agama dapat berjalan beriringan demi kesejahteraan mental masyarakat global. Kolaborasi Indonesia‑Turki ini tidak hanya memperkaya wacana akademik, tetapi juga memperkuat jalinan persahabatan antarbangsa melalui pendidikan dan nilai-nilai kemanusiaan.
Secara keseluruhan, pertemuan ini menandai langkah penting menuju integrasi ilmu neurosains dan tasawuf dalam kerangka kesehatan mental. Diharapkan, sinergi ini dapat menghasilkan model terapi yang lebih holistik, serta membuka jalur pendidikan lintas budaya yang lebih luas bagi generasi mendatang.