123Berita – 19 Juni 2026 | Target lifting minyak pada tahun 2027 diprediksi hanya mencapai 620 ribu barel per hari (BPH). Prediksi ini disampaikan oleh analis senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny Sasmita. Menurutnya, target lifting minyak yang relatif rendah ini akan memberikan beban berat pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan nilai tukar.
Ronny Sasmita menjelaskan bahwa target lifting minyak yang rendah ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk penurunan produksi minyak di beberapa lapangan minyak yang sudah tua. Selain itu, biaya operasional yang meningkat juga menjadi salah satu penyebabnya.
Dampak dari target lifting minyak yang rendah ini akan sangat signifikan pada APBN. Pemerintah harus menyediakan anggaran yang lebih besar untuk membiayai kegiatan operasional minyak dan gas. Hal ini akan mempengaruhi alokasi anggaran untuk sektor lainnya, seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
Nilai tukar juga akan terpengaruh oleh target lifting minyak yang rendah. Dengan penurunan produksi minyak, nilai tukar akan melemah, sehingga mempengaruhi kemampuan Indonesia untuk membiayai impor dan membayar utang luar negeri.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan produksi minyak dan gas, serta mengurangi biaya operasional. Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat nilai tukar dengan meningkatkan ekspor non-migas dan mengurangi impor.
Dalam jangka panjang, target lifting minyak yang rendah ini juga akan mempengaruhi kemampuan Indonesia untuk mencapai target energi terbarukan. Pemerintah perlu meningkatkan investasi pada energi terbarukan, seperti solar dan angin, untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan produksi minyak dan gas, seperti mengembangkan lapangan minyak baru dan meningkatkan efisiensi operasional. Namun, upaya-upaya ini masih belum cukup untuk mencapai target lifting minyak yang diinginkan.
Untuk itu, perlu dilakukan evaluasi dan perencanaan yang lebih matang untuk meningkatkan produksi minyak dan gas, serta mengurangi biaya operasional. Pemerintah perlu bekerja sama dengan swasta dan masyarakat untuk mencapai target energi terbarukan dan meningkatkan kemampuan Indonesia dalam menghadapi tantangan energi global.
Target lifting minyak yang rendah ini juga akan mempengaruhi kemampuan Indonesia untuk meningkatkan pendapatan negara. Dengan penurunan produksi minyak, pendapatan negara dari sektor minyak dan gas akan menurun, sehingga mempengaruhi kemampuan pemerintah untuk membiayai program-program pembangunan.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan pendapatan negara, seperti meningkatkan efisiensi birokrasi dan mengurangi korupsi. Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat kemampuan Indonesia dalam menghadapi tantangan global, seperti perubahan iklim dan ketidakstabilan ekonomi global.
Dalam kesimpulan, target lifting minyak yang rendah ini akan memberikan beban berat pada APBN dan nilai tukar. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan produksi minyak dan gas, serta mengurangi biaya operasional. Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat nilai tukar dan meningkatkan pendapatan negara untuk menghadapi tantangan energi global.





